Kebutuhan akan digital saat ini sudah sangat melekat dalam kebutuhan hidup sehari-hari. Termasuk pada anak-anak usia remaja, yang berkomunikasi, bergaul dan mengembangkan diri di dunia digital dan media sosial.
Karena teknologi yang tidak bisa dibendung efek negatifnya, maka orangtua diharapkan mampu memberikan perhatian lebih dalam mengajarkan anak untuk bisa menggunakan teknologi dengan semaksimal mungkin, dengan dampak negatif seminimal mungkin.
Tidak hanya etika menggunakan internet, orang tua juga harus membekali bagaimana etika anak dalam berperilaku di dunia nyata setelah kehadiran teknologi yang mendominasi kehidupan orang sehari-hari.
Made Darma, Guru BK SMK Dwi Tunggal Tabanan, mengatakan sangat penting menerapkan etika dalam ruang digital. Untuk itu pemahaman pentingnya etika ini juga wajib ditanamkan kepada anak-anak sejak dari rumah.
“Sebagai orang tua juga harus mengajarkan anak untuk menerapkan etika saat berinteraksi di ruang digital,” ujar Made Darma saat berbicara dalam Webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Tabanan, Bali Senin 5 Juli 2021.
Lebih lanjut ia juga memberikan pemahaman bahwa etika tersebut bisa diterapkan dengan melakukan kegiatan mengakses,, menyeleksi, memahami, menganalisa, membuktikan, mengevaluasi, mendistribusikan, berpartisipasi dan berkolaborasi.
“Anak-anak tentu awalnya tak paham bagaimana caranya berinteraksi dan berkolaborasi di ruang digital sesuai dengan etika. Anak-anak juga wajib mengenali dengan siapa kita berinteraksi dan tujuan kita dalam membagikan postingan atau unggahan,” katanya.

Literasi digital harus ditanamkan pada anak untuk tidak mudah tergiur dan bijak menggunakan ruang digital dengan memikirkan dulu sebelum berinteraksi apakah ada dampak negatif dari segala yang kita lakukan. Pasalnya, mereka sangat berpeluang berinteraksi dengan orang yang mungkin bisa membahayakan dirinya.
Banyak kasus remaja yang melakukan perundungan di media sosial, belum lagi mengunggah area privasi orang lain atau privasinya sendiri dengan tidak berpikir panjang. Oleh karena itu, penting bagi orangtua melakukan pengawasan untuk dapat mengurangi dampak negatif teknologi digital.
Sementara itu pembicara lain Alaika Abdullah, Virtual Assistant & Digital Content Creator, menekankan pada keamanan berinternet khususnya cara menghindari spamming dan hack. Menurut Alaika, spamming adalah penyalahgunaan sistem pesan elektronik untuk mengirim berita iklan dan keperluan lainnya secara massal. Umumnya, spam menampilkan berita secara bertubi-tubi tanpa diminta dan sering kali tidak dikehendaki oleh penerimanya.
“Ciri khas spam bisa sebagai pesan promosi yang dikirim massal seperti email, sms , chat facebook group. Konten spam selain berbentuk konten promosi tetapi juga bisa mengandung malware atau virus pishing penipuan,” ujar Alaika. Bahkan, lanjutnya hacker sering juga menggunakam spam untuk mencuri informasi pribadi seperti akun bank dan data diri.
Menteri Yusril Tanda Tangani Perjanjian Kinerja dan Canangkan Pembangunan Zona Integritas
Sedangkan jenis-jenis spam bisa berbentuk promosi produk yang memang bagi banyak orang hal ini tidak terlalu bahaya meski menjengkelkan. “Ada juga spam malware berisi file jahat untuk menyebarkan virus dan bisa menginfeksi sistem operasi atau bisa juga mencuri serta merusaka data.”
Untuk itu ia membagi cara untuk menghindari spam, diantaranya adalah sengan memfilter spam, me-non aktifkan fitur gambar otomatis. Atau bisa juga dengan menggunakan anti malware atau anti virus.
Sedangkan cara melindungi smart phone dari hacker bisa dengan untuk selalu menginstall aplikasi dari sumber terpercaya dan mengaktifkan malware pada update sistem operasi HP. Jangan lupa juga untuk menghindari penggnaan wifi publik dan jangan sekali-kali mengklik email yang mencurigakan serta setel ulang kata sandi.
Dalam webinar yang digelar Kementerian Komunikasi dan Informatika bekerjasama dengan Siberkreasi ini juga menghadirkan Nita Sellya, Founder Casolans, H.Antoni, S.PdI, M.Pd.I, Ketua Wilayah TIC Vali, dan Key Opinion Leader, Putri Masyita.
Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital. (Kanalbali/RLS)



Be the first to comment