Harus Siap, Ini Tantangan Pola Kerja Gig Economy di Industri Digital

pixabay by Deeezy

PERKEMBANGAN teknologi dunia digital secara tidak langsung membawa transformasi pada banyak hal. Salah satunya termasuk pada peluang dan bentuk pekerjaan.

Internet melahirkan sejumlah pekerjaan baru yang mungkin tidka dikenal pada 10 tahun sebelumnya. Bukan hanya itu, dunia digital juga menciptakan tantangan bentuk ekonomi baru yang dikenal dengan gig economy.

Gig economy sendiri merupakan sebuah gig economy adalah pasar tenaga kerja yang identik dengan karyawan kontrak jangka pendek atau pekerja lepas (freelancer).

Dari sudut pandang lainnya, gig economy juga dapat didefinisikan sebagai lingkungan kerja yang fleksibel dalam hal jam kerja, tetapi minim perlindungan tempat kerja hingga berpotensi menimbulkan eksploitasi.

Kondisi ini tentu jadi tantangan bagi para tenaga kerja. Hal itu juga diungkapkan oleh  Founder Briefer.id, Aditya Rahmasani dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 wilayah Bima, Nusa Tenggara Barat, Kamis 16 September 2021.

“Gig Economy ini juga ada pro dan kontranya sendiri. Untuk pronya gig economy memang menciptakan fleksibilitas kerja yang berlebih. Pekerja bisa lebih melakukan kontrol terhadap dirinya, dan juga punya keleluasaan untuk bisa bekerja dari rumah,” kata Aditya.

Namun, kontra dari kondisi gig economy ialah minimnya perlindungan di tempat kerja. Pekerja menjadi minim waktu untuk bisa libur atau mengambil cuti. Bukan hanya itu, bagi pekerja tetap juga lebih memiliki kepastian kerja, sedangkan pekerja di gig economy penuh dengan ketidakpastian.

“Tidak ada remunerasi atau paket yang didapatkan, dan pekerjaannya tidak permanen. Bisa saja dalam satu bulan penuh, dan dalam bulan tertentu kosong,” kata dia.

pixabay by Pexels

Oleh sebab itu, lanjut Aditya, masyarakat Indonesia mesti bersiap, karena hubungan kerja dengan corak gig economy makin dekat. Terlebih pandemi sudah membuktikan bahwa transformasi itu bisa dilakukan.

“Makanya penting bagi pemerintah untuk bisa menyiapkan infrastruktur digital, agar wifi lebih terjangkau dan banyak BTS yang jangkauannya lebih luas, termasuk ke daerah yang penduduknya rendah,” kata Aditya.

Kemudian, juga penting untuk terus mengembangkan sumber daya manusia agar bisa tetap terus beradaptasi dengan dunia digita.

Dalam kesempatan yang sama,  Kaprodi Teknik Informatika STTI, Chris Jatender menjelaskan tentang perbedaan antara hacker dan cracker. Ia mengatakan bahwa banyak masyarakat yang salah mengartikan keduanya.

Selain mereka berdua, ada juga pembicara lainnya yakni, KABID Bina Lattas dan HI Disnakertans Kab.Bima, Ir.JUHDA, dan Key Opinion Leader, Masra Suyuti

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10 juta orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 provinsi dan 514 kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital. (kanalbali/RLS)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.