Memahami Sikap Toleransi di Ruang Digital

pixabay by Free-Photos

PADA dasarnya, setiap orang memiliki pandangan yang berbeda terhadap sesuatu meski objek/benda yang dilihat itu sama. Menurut Paulus Paramma, seorang Kaprodi HI USTJ Papua, hal ini terjadi karena masing-masing pribadi memiliki kebenarannya sendiri. Maka dari itu, diperlukannya sikap toleransi agar masing-masing individu menghargai satu sama lain.

Toleransi merupakan salah satu nilai fundamental dalam demokrasi. Toleransi ini dipahami sebagai sikap terbuka dan tegas terhadap keragaman dalam segala bentuk. Toleransi mengharuskan kita memperlakukan semua orang sama berharganya, dengan baik dan sopan dan dengan kebebasan untuk mengekspresikan ide-idenya.

“Ini juga berarti bahwa kalau kita tidak sepakat atau tidak setuju terhadap pandangan orang lain. Kita harus membebaskan mereka untuk mengekspresikan kebebasannya,” ungkapnya saat menjadi pembicara dalam Webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Nabire, Papua, Rabu (18/9/2021).

Ia mengatakan, ranking toleransi Indonesia masih rendah. Kasus-kasus intoleransi besar yang pernah terjadi di Indonesia di antaranya ialah pemilu 2014 dan 2019, isu rasial terhadap mahasiswa Papua di Surabaya, dan kasus Meiliana di Tanjung Balai. Menurutnya, hal semacam ini tidak perlu terulang lagi apabila kita belajar dan menyadari bahwa berbeda itu baik.

Pada tingkat paling dasar, hal yang bisa kita lakukan untuk membangun toleransi ialah dengan meningkatkan kesadaran dan pemahaman bersama bahwa perbedaan merupakan bagian dari kehidupan manusia.

pixabay by voltamax

“Perbedaan adalah realitas kehidupan kita. Kita akan ketemu perbedaan di mana-mana. Persoalannya adalah bagaimana kita merespon perbedaan tersebut,” jelasnya.

Kemudian, pengguna media sosial perlu menyadari bahwa media sosial merupakan ruang publik dengan beragam ide dan opini. Setiap pengguna harus memiliki tingkat toleransi di media sosial secara fleksibel. Di media sosial, kita akan bertemu seseorang dengan perbedaan cara pandang terhadap sesuatu.

Dengan demikian, kita dapat meningkatkan toleransi di media digital. Seperti yang dikatakan oleh Paulus dengan mengutip penulis Helen Keller, bahwa sejatinya toleransi ialah puncak tertinggi dari pendidikan.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Nabire, Papua, Rabu (18/8/2021) juga menghadirkan pembicara, Nur Rahma Yenita (Ketua Teknik Elektro STTI), Ika Febriana Habiba (CX Manager PT Digital Tunai Kita), dan Vizza Dara (Key Opinion Leader).

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital. (kanalbali/RLS)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.