Jangan Asal Sebar, Kenali Ciri Berita Hoaks yang Bisa Picu Perpecahan

pixabay by geralt

BERITA hoaks atau kabar bohong seringkali menjadi penyulut provokasi yang menyebabkan keributan dan perpecahan di antara masyarakat. Selama pandemi sendiri, berita dan informasi hoaks juga menjadi tantangan yang dihadapi tenaga keseatan dan masyarakat.

“Kalau dilihat dari definisinya, berita hoaks atau kabar bohong itu adalah informasi yang sesungguhnya tidak benar tapi dibuat seolah-olah benar adanya,” ujar Pegiat Literasi Kelas Pesisir,  Haris Atid , dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital, wilayah Kabupaten Morotai, Maluku Utara, Senin, (27/9/2021).

Ia mengatakan hoaks seringkali tujuannya ialah membuat masyarakat merasa tidak aman, tidak nyaman dan kebingungan. Selain itu, tidak jarang juga bertujuan untuk menyebarkan kebencian seseorang atau suatu kelompok.

“Bisa juga berupa penipuan, provokasi, propoganda atau pembentukan opini publik, hingga upaya yang direkayasa untuk menutupi kesalahan tertentum,” kata Haris.

Untuk itu, lanjut Haris, penting untuk bisa mengenali ciri berita hoaks. Dengan begitu bisa menghindarinya dan tidak ikut menyebarkan.

“Salah satu cirinya itu tidak ada sumber berita jelas yang dapat dimintai pertanggung jawaban atau klarifikasi,” kata Haris.

Ia juga mengatakan bahwa hoaks cenderung berisi informasi yang bersifat menyerang, berat sebelah, dan tidak netral. Pembuat hoaks, kata Haris, umumnya memilih judul provokatif untuk membagikan berita itu agar viral.

Ketahui Dua Cara Melapor Tindak Kejahatan Siber

“Kemudian juga berita dipublis tidak menyeluruh, ada fakta yang disembunyikan dan memelintir informasi yang diberikan oleh sumber terpercaya,” ujar Haris.

Selanjutnya ciri berita hoaks juga menggunakan data dan foto fiktif, serta memanipulasi data yang sebenarnya. Terakhir cirinya biasanya ditulis oleh media yang tidak kredibel.

Dalam kesempatan yang sama juga hadir sebagai pembicara, Shella Nadia Lestari, CEO Artifashion, Nur Rahma Yenita, Ketua Program Studi Teknik Elektro STTI dan Asesor Kompetensi Multimedia BNSP, dan Tisa sebagai Key Opinion Leader.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10 juta orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 provinsi dan 514 kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital. (kanalbali/RLS)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.