DENPASAR, Kanalbali.id – Ketua MPR RI Bambang Soesatyo meminta para pelaku UMKM agar kreatif dalam membangun bisnis saat dihadapkan dengan ancaman resesi global. Hal ini disampaikan Bamsoet dalam Studium Generale III yang dilaksanakan oleh FHISIP Universitas Terbuka (UT) Bali.
“Dunia usaha itu susah dan juga gampang. Susah karena diterjang keraguan dan malas, gampang karena semua ruang terbuka untuk usaha, apalagi era modern digitalisasi sangat mudah untuk menjadi pengusaha,” kata dia di Gedung Wiswa Sabha Kantor Gubernur Bali, Minggu, (27/11/2022).
Bamsoet mencontohkan pendiri Krisna Oleh-oleh, Gusti Ngurah Anom atau akrab disapa Ajik Krisna sebagai salah satu pengusaha yang kreatif di Bali. Menurut penuturannya, Ajik Krisna memulai usaha dengan modal yang tidak besar tapi usahanya mampu berkembang pesat.
“Dia (Ajik Krisna) bekerjasama dengan UMKM dan petani. Prinsip usahanya mudah, yakni bagaimana mencari barang yang orang jual dengan harga murah, dan dijual kembali ke orang yang mau beli dengan harga lebih mahal,” jelasnya.
Dalam acara bertajuk ‘Peran UMKM dalam Menghadapi Persaingan Global Pasca Pandemi’ itu, Bamsoet menyampaikan fakta terkait sejarah krisis ekonomi saat tahun 1998 yang tidak berpengaruh pada ekonomi Indonesia karena adanya pertumbuhan UMKM.
“Fakta sejarah menunjukkan bahwa krisis ekonomi pada 1998 tidak mampu mempengaruhi ekonomi kita. Karena saat itu muncul UMKM baru, sehingga krisis moneter hanya dirasakan oleh pengusaha besar,” jelasnya.
Studi General III yang dibuka oleh dibuka langsung oleh Rektor UT, Prof. Ojat Darojat, turut dihadiri oleh Gubernur Bali, I Wayan Koster.
Koster menjelaskan bahwa konsumen lokal yang terdiri dari 4,3 juta penduduk Bali menjadi target utama pemasaran produk UMKM di Pulau Dewata. Selain itu, sebagai destinasi wisata, Bali juga memiliki peluang konsumen dari berbagai negara.
“Hampir 17 juta wisatawan datang ke Bali. Itu peluang untuk UMKM kita, saya bahkan mewajibkan restoran menggunakan produk lokal Bali,” tuturnya.
Ia menyebut, produk-produk UMKM di Bali sebelum memasuki tahap pemasaran dilakukan manajemen pengelolaan dari hulu sampai ke hilir. Hal ini untuk memastikan produk yang berkualitas lahir dari Bali.
“Mulai dari hulu, tersedia manusia yang mampu berinovasi dan ada budaya yang kuat jadi basis. Setelah itu, para pengusaha UMKM didorong untuk membuat produk lokal Bali dengan adanya pendampingan, edukasi, dan sosialisasi untuk meningkatkan nilai tambah. Sedangkan di hilir, ada peraturan gubernur tentang pemasaran dan pemanfaatan produk lokal pertanian, perikanan, dan industri lokal Bali,” jelasnya. (Kanalbali/LSU)



Be the first to comment