Penulis: Yahya Anshori*
“Amerika Serikat sebagai ‘pecandu perang’ dan biang kekacauan dunia”—sebagaimana diberitakan sejumlah media (Tajdid.id, 2026)—menjadi kritik keras dari pejabat China terhadap Amerika Serikat.
Dalam konteks ini, Menteri Luar Negeri China, Wang Yi menegaskan bahwa “kekuatan tidak selalu berarti kebenaran” serta menyerukan penghentian konflik (CNN Indonesia, 2026).
Kritik sekaligus harapan ini bukan sekadar retorika geopolitik, tetapi cerminan watak kekuasaan yang kerap tampil dengan sikap adigang adiguna—merasa paling benar, paling kuat, dan berhak mengatur yang lain.
Pada titik ini, dominasi global bukan hanya persoalan politik, melainkan refleksi dari sisi terdalam manusia: ego yang tak terkendali. Ketika kekuatan kehilangan kendali moral, ia berubah dari alat peradaban menjadi instrumen penindasan (QS. Al-‘Alaq: 6–7) (Kementerian Agama RI, 2019).
Dalam perspektif psikologi, Sigmund Freud menjelaskan bahwa ego berfungsi menengahi dorongan naluriah (id) dan tuntutan moral (superego), sebagaimana diuraikan dalam The Ego and the Id.
Ego idealnya rasional dan seimbang, namun ketika gagal menjalankan fungsi ini, ia dapat menjadi pembenar bagi ambisi dan hasrat yang tak terkendali (Freud, 1923). Dalam kondisi demikian, ego tidak lagi mengelola, melainkan mendominasi.
Ego pada dasarnya bagian dari fitrah manusia—memberi dorongan untuk bertahan dan berkembang. Namun ketika melampaui batas, ia bersekutu dengan ambisi dan nafsu kekuasaan, menjelma menjadi kekuatan yang beringas.
Dominasi global yang destruktif pada hakikatnya adalah manifestasi dari ego kolektif yang tidak terkelola (QS. Al-Qashash: 83) (Kementerian Agama RI, 2019). Karena itu, dalam horizon spiritual Islam, perjuangan terbesar adalah menundukkan diri sendiri—sebagaimana pesan yang dinisbatkan kepada Nabi Muhammad, bahwa kemenangan sejati adalah kemenangan atas ego (QS. Asy-Syams: 9–10).
Pengendalian Ego melalui Puasa
Islam menghadirkan latihan konkret melalui puasa Ramadhan sebagai madrasah pengendalian ego: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa… agar kamu bertakwa” (QS. Al-Baqarah: 183).
Puasa adalah latihan self-regulation—menata hubungan antara dorongan dan kesadaran, serta melatih manusia menunda kepuasan demi tujuan yang lebih tinggi (QS. Al-A’raf: 31) (Kementerian Agama RI, 2019; Qardhawi, 1998).
Di sinilah ego ditata: dari liar menjadi terkendali, dari rakus menjadi cukup, dan dari keras menjadi peka. Puasa juga menumbuhkan empati sosial melalui pengalaman lapar yang menyadarkan manusia akan penderitaan sesama (QS. Al-Insan: 8–9).
Pada puncaknya, puasa menuntun manusia pada kepasrahan kepada Tuhan—kesadaran bahwa manusia bukan pusat segalanya (Nasr, 2002).
Hal ini penting karena Al-Qur’an menegaskan kecenderungan ego manusia yang tak pernah puas: “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu…” (QS. At-Takatsur: 1–2), diperkuat hadis bahwa manusia selalu ingin lebih (Al-Bukhari, 2002; Muslim, 2006).
Jika tidak dikendalikan, ego melahirkan kesombongan dan berujung pada kezaliman. Bahkan manusia bisa jatuh ke derajat paling rendah ketika gagal mengendalikan dirinya (QS. At-Tin: 5; QS. Al-Baqarah: 11–12).
Dalam perspektif Islam, keseimbangan tidak hanya bergantung pada rasionalitas, tetapi juga wahyu. Konsep tazkiyatun nafs menekankan penyucian jiwa sebagai jalan membentuk akhlak (Al-Ghazali, 2010).
Puasa dan ibadah lainnya memperkuat kendali nilai atas nafsu, sehingga ego tidak mendominasi, tetapi tunduk pada nilai Ilahi (QS. An-Nazi’at: 40–41; Rahman, 1982).
Idul Fitri: Kembali ke Fitrah
Jika ego tidak dikendalikan, ia melahirkan kesombongan. Jika kesombongan dibiarkan, ia melahirkan kezaliman. Dan jika kezaliman menjadi sistem, kehancuran hanyalah soal waktu. Sebaliknya, ketika ego ditundukkan, manusia kembali pada fitrahnya sebagai makhluk yang seimbang dan berkeadaban. Puasa menjadi jalan pulang menuju fitrah tersebut (QS. Ar-Rum: 30).
Tradisi Idul Fitri menjadi momentum membuang ego dan membangun kembali relasi kemanusiaan melalui saling memaafkan. Ia bukan sekadar ritual, tetapi transformasi spiritual menuju kasih sayang dan kesadaran diri yang lebih dalam (Nasr, 2002).
*) Penulis, Mantan Pengurus ICM, MUI, dan FKUB Bali Periode 1990-2000-an


