Dibaca Tapi Tidak Dijawab; Ketika Diam adalah Pesan

Foto ilustrasi: Lindsey LaMont/Unsplash
Foto ilustrasi: Lindsey LaMont/Unsplash

ADA satu bunyi yang kini lebih menegangkan daripada ketukan pintu pada tengah malam. Bunyi notifikasi pesan yang sudah dibaca, tetapi tidak dibalas. Centang dua biru. Lalu sepi. Fenomena apakah ini?

Penulis: Angga Wijaya*

PADA masa lalu, orang mungkin harus menunggu surat balasan berhari-hari, bahkan berminggu-minggu. Kini, di zaman ketika pesan meluncur dalam hitungan detik, justru diam menjadi semakin misterius. Teknologi mempercepat komunikasi, tetapi tidak otomatis mempercepat keberanian manusia untuk menjawab.

Saya beberapa kali mengalami hal itu saat mengirim pesan. Dibaca, tapi tidak dijawab. Awalnya saya berpikir sederhana. Mungkin ia sedang sibuk, lupa, sedang mengemudi, atau ada urusan keluarga. Kita selalu berusaha berbaik sangka pada awalnya.

Namun, waktu berjalan. Jam berubah hari. Hari berubah minggu. Pesan tetap membeku seperti mayat kecil di ruang obrolan. Dibaca, tetapi tidak dijawab. Pada titik tertentu, kita sadar, diam juga bisa menjadi bahasa. Bahkan kadang lebih keras daripada makian.

Dalam ilmu komunikasi, diam memang bukan ketiadaan pesan. Antropolog komunikasi Edward T. Hall pernah menjelaskan bahwa manusia berkomunikasi tidak hanya lewat kata-kata, tetapi juga melalui konteks, gestur, jeda, dan keheningan. Diam bisa menjadi simbol penolakan, ketidaksukaan, dominasi, rasa malu, atau bentuk penghindaran konflik. Artinya, ketika seseorang memilih tidak menjawab pesan, sesungguhnya ia tetap sedang berkomunikasi. Hanya saja, komunikasinya berlangsung secara pasif-agresif.

Psikolog sekaligus pakar komunikasi John Gottman menyebut sikap seperti ini sebagai stonewalling atau tembok diam. Salah satu bentuk komunikasi paling destruktif dalam hubungan manusia. Seseorang memilih menutup diri, menghindari respons, dan membiarkan lawan bicara berbicara sendirian dengan kecemasan, asumsi, dan luka. Stonewalling tidak selalu muncul dalam hubungan asmara. Ia juga muncul dalam pertemanan, pekerjaan, keluarga, bahkan hubungan profesional.

Yang menarik, budaya kita sering kali menganggap diam sebagai sesuatu yang bijaksana. Sejak kecil kita akrab dengan pepatah diam itu emas. Orang yang banyak bicara dianggap cerewet, sedangkan orang yang menahan diri dianggap dewasa. Dalam banyak situasi, memang benar, diam bisa menyelamatkan keadaan. Tidak semua hal harus ditanggapi, tidak semua emosi harus diumbar.

Namun, persoalannya menjadi berbeda ketika diam dipakai bukan untuk mendinginkan keadaan, melainkan untuk menghukum orang lain secara emosional. Di situlah diam kehilangan kebijaksanaannya.

Saya sering merasa, manusia modern sebenarnya tidak kekurangan kemampuan berbicara. Kita hanya kekurangan keberanian untuk jujur. Teknologi memberi kita banyak pilihan komunikasi, tetapi tidak otomatis membuat kita matang secara emosional.

Kadang kita lebih memilih menghilang daripada mengatakan tidak. Lebih nyaman membiarkan pesan menggantung daripada memberi jawaban yang mungkin mengecewakan. Padahal, sebuah jawaban singkat sering kali jauh lebih manusiawi daripada keheningan yang panjang. “Saya sedang sibuk”, “Nanti saya kabari lagi”, “Maaf, saya belum bisa membantu”,  Atau bahkan, “Saya tidak nyaman membicarakan ini”.  Kalimat-kalimat sederhana itu mungkin terdengar sepele. Tetapi bagi orang yang menunggu jawaban, itu adalah bentuk penghormatan.

Dalam kajian antropologi komunikasi, cara masyarakat memperlakukan percakapan sangat dipengaruhi budaya. Masyarakat Indonesia, termasuk Bali, cenderung tumbuh dalam budaya komunikasi berkonteks tinggi seperti istilah Edward T. Hall tadi. Orang sering tidak berbicara secara langsung. Banyak pesan disampaikan secara implisit, samar, atau melalui kode-kode sosial.

Di Bali, kita mengenal istilah koh ngomong. Takut berbicara terus terang, takut menyinggung, takut dianggap kasar, dan takut merusak hubungan sosial. Pada satu sisi, budaya ini melahirkan kesopanan dan kehati-hatian. Orang Bali diajarkan menjaga harmoni, menghindari konflik terbuka, dan menahan emosi di depan umum.

Tetapi di sisi lain, budaya seperti ini juga sering membuat banyak persoalan mengendap diam-diam. Orang tersenyum ketika marah, mengangguk ketika menolak, Diam ketika kecewa, lalu perlahan menjauh tanpa penjelasan.

Saya tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan pola seperti itu. Banyak orang memilih memendam daripada mengungkapkan. Kadang karena sungkan, takut dianggap tidak sopan, atau kadang karena tidak terbiasa mengelola konflik secara terbuka. Akibatnya, komunikasi menjadi penuh teka-teki. Orang harus menebak-nebak maksud orang lain, membaca gestur, menerka nada, dan mengartikan diam.

Sementara budaya Barat, meski tidak selalu ideal, cenderung lebih langsung dalam menyampaikan pendapat. Mereka terbiasa mengatakan setuju atau tidak setuju secara verbal. Terbiasa menetapkan batas pribadi secara jelas, dan terbiasa mengungkapkan ketidaknyamanan secara terbuka. Di Indonesia, sikap seperti itu kadang dianggap terlalu blak-blakan. Padahal, keterbukaan tidak selalu berarti kasar. Dan diam tidak selalu berarti bijaksana.

Saya teringat beberapa pengalaman pribadi ketika pesan tidak dibalas justru memperumit keadaan. Sebuah masalah kecil yang sebenarnya bisa selesai dalam lima menit percakapan berubah menjadi prasangka panjang. Pikiran mulai bekerja liar; apakah saya salah bicara? Apakah ia marah? Apakah hubungan ini selesai? Apakah saya dibenci? Diam memberi ruang besar bagi imajinasi buruk manusia.

Dalam psikologi komunikasi, situasi seperti ini sering memicu anxiety uncertainty, atau kecemasan akibat ketidakjelasan respons sosial. Manusia pada dasarnya membutuhkan kepastian dalam hubungan interpersonal. Bahkan jawaban yang menyakitkan kadang lebih mudah diterima daripada ketidakjelasan berkepanjangan.

Karena ketidakjelasan membuat orang terus menggantungkan harapan. Salah satu ironi terbesar era digital adalah kita semakin mudah terhubung, tetapi semakin sulit benar-benar hadir dalam komunikasi. Kita melihat status orang setiap hari. Melihat unggahan mereka, melihat mereka online. Tetapi percakapan yang sesungguhnya justru semakin miskin.

Kita hidup di zaman ketika orang bisa mengucapkan selamat ulang tahun lewat template Instagram, tetapi tidak sanggup membalas pesan pribadi.

Kita hidup di zaman ketika seseorang bisa aktif mengomentari unggahan orang lain, tetapi mengabaikan pesan yang menunggu jawaban berhari-hari. Teknologi akhirnya hanya memperlihatkan karakter manusia secara lebih telanjang.

Cara seseorang membalas pesan sebenarnya menunjukkan banyak hal tentang dirinya. Tentang empati, penghargaan pada orang lain, keberanian menghadapi konflik, dan yang terpenting, tentang kedewasaan emosional.

Tentu saja, tidak semua pesan wajib dibalas cepat. Kita semua punya kesibukan, kelelahan, dan hak menjaga ruang pribadi. Tidak ada manusia yang bisa selalu tersedia dua puluh empat jam. Ada pesan yang memang membutuhkan waktu untuk dijawab, ada orang yang lelah secara mental, dan ada pula yang sedang mengalami masalah pribadi.

Namun, berbeda antara belum sempat membalas dan sengaja mendiamkan. Yang satu soal waktu, dan yang lain soal sikap. Saya kira banyak orang sebenarnya tahu bahwa mereka sedang melukai orang lain ketika memilih diam. Hanya saja, diam terasa lebih aman daripada kejujuran. Diam membuat seseorang tidak perlu berhadapan langsung dengan emosi orang lain. Padahal, komunikasi bukan sekadar kemampuan berbicara. Komunikasi adalah keberanian bertanggung jawab atas hubungan antarmanusia.

Mungkin karena saya pernah bekerja sebagai wartawan cukup lama, saya terbiasa percaya bahwa jawaban lebih baik daripada spekulasi. Dalam dunia jurnalistik, diam narasumber sering justru membuat persoalan semakin liar. Orang mulai menebak-nebak. Opini berkembang tanpa kendali. Satu klarifikasi sederhana kadang mampu menghentikan banyak kesalahpahaman.

Hal serupa juga berlaku dalam kehidupan sehari-hari. Sering kali masalah bukan muncul karena perbedaan pendapat, melainkan karena tidak adanya komunikasi. Banyak hubungan retak bukan karena pertengkaran besar, tetapi karena terlalu banyak percakapan yang tidak pernah benar-benar selesai. Pesan dibaca, lalu didiamkan.

Saya juga menyadari, budaya media sosial ikut membentuk pola komunikasi kita hari ini. Segalanya menjadi serba instan. Orang terbiasa menghapus, membisukan, memblokir, atau menghilang tanpa penjelasan. Istilah ghosting menjadi populer karena praktik itu semakin lazim.

Menghilang tanpa penjelasan kini dianggap biasa. Padahal, dalam hubungan antarmanusia, setiap kehadiran meninggalkan konsekuensi emosional. Kita sering lupa bahwa di balik layar ponsel ada manusia sungguhan yang bisa kecewa, bingung, terluka, atau merasa tidak dihargai.

Saya kadang membayangkan, mungkin pada masa depan para antropolog akan meneliti centang biru seperti para arkeolog membaca prasasti kuno. Mereka akan melihat bagaimana manusia abad ini membangun hubungan sosial melalui notifikasi, emoji, dan status online.

Betapa anehnya peradaban kita. Kita menciptakan teknologi komunikasi paling canggih sepanjang sejarah manusia, tetapi tetap kesulitan mengatakan satu kalimat sederhana, “Maaf, saya belum bisa menjawab”, atau “Saya tidak ingin melanjutkan percakapan ini”.

Kalimat seperti itu mungkin tidak menyenangkan. Tetapi setidaknya memberi kejelasan. Memberi akhir dan ruang bagi orang lain untuk memahami posisi. Karena dalam banyak hal, manusia ternyata lebih mampu menerima penolakan daripada ketidakpastian.

Pada akhirnya, saya percaya seseorang memang bisa dinilai dari hal-hal kecil. Cara ia mendengarkan, cara ia menjawab, atau cara ia memperlakukan pesan sederhana dari orang lain. Etika komunikasi tidak diukur dari seberapa pintar seseorang berbicara di depan publik. Kadang justru terlihat dari hal paling remeh, yakni membalas pesan.

Sebab membalas pesan, sesederhana apa pun, adalah bentuk pengakuan bahwa kita menghargai keberadaan orang lain. Mungkin di zaman yang semakin bising ini, penghargaan sederhana seperti itu menjadi sesuatu yang semakin jarang ada. (*)

 

Angga Wijaya adalah penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Apa Komentar Anda?