NUSA DUA, kanalbali.id – Serangkaian acara pembukaan Bali&Beyond Travel Fair pada Rabu (11/6/2025), Bali Tourism Boad (BTB) memberikan award kepada tiga orang tokoh yang dianggap berjasa besar dalam pengembangan pariwisata Bali yang berkelanjutan.
Ketiganya adalah I Made Janur Yasa (Pertanian Berkelanjutan & Alam Hijau), Prof. I Made Bandem (Pelestarian Seni & Budaya) dan Puri Agung Ubud diwakili Tjokorda Gde Putra Sukawati (Penjaga Filosofi & Warisan Budaya).
Ketua BTB Ida Bagus Agung Partha Adnyana menyatakan, bagi warga Bali pariwisata adalah identitas, dan warisan, bukan angka kunjungan wisatawan semata.
Overstay, WNA Belanda Dideportasi dari Bali
“Kekuatan Bali tidak hanya terletak pada keindahannya, tapi juga pada masyarakat Bali dan budayanya—mereka yang mengabdikan hidup untuk melestarikan yang sakral, menginspirasi pembaharuan namun tetap menjaga nilai luhur yang esensial – inilah daya Tarik Bali yang sesungguhnya ” katanya.
Untuk pengembangan Bali ke depan, menurutnya, diperlukan penguatan tiga pilar, yakni efisiensi digital untuk memperkuat koneksi manusia, keberlanjutan alam dan budaya, serta pengalaman otentik.
Diskusi Pariwisata Berkelanjuta di BBTF
Sementara itu, Acara BBTF hari ini dimulai dengan talk show “Mewujudkan Pariwisata Berkelanjutan dengan Warisan Budaya Tak Benda,” yang menyorot tradisi hidup Indonesia—sistem pengetahuan lokal dan nilai-nilai spiritual—sebagai fondasi pariwisata bertanggung jawab.
Para pembicara panel adalah Jelle Therry, arsitek lanskap dan Direktur Urban Nature Design, membahas infrastruktur pariwisata. Kemudian, Ida Bagus Agung Gunarthawa, mengangkat pariwisata berbasis komunitas di Samsara Living Museum, Karangasem, menekankan pentingnya menghidupkan kearifan lokal.
Ada juga Jean Couteau, sejarawan budaya dan ahli seni asal Prancis yang tinggal lama di Bali, menyorot tantangan kehidupan modern dan nilai festival pura sebagai warisan tak benda serta Hector Busto dari Marriott Bonvoy, memaparkan keseimbangan antara kemewahan dan keberlanjutan.
Seluruh panel menegaskan pentingnya keaslian budaya untuk mendorong permintaan, serta strategi menanggulangi overtourism, tekanan lingkungan, dan dilusi budaya—khususnya di Bali. Diskusi ini memperkuat sinergi publik-swasta, pertukaran praktik terbaik, dan keyakinan pembeli global terhadap kepemimpinan Indonesia.
( kanalbali/RLS/RFH)


