Debat Panas Warnai Peluncuran Kumpulan Cerpen dan Puisi di Denpasar

DENPASAR, kanalbali – Debat panas mengenai eksistensi karya seni sastra terjadi dalam peluncuran buku puisi karya Angga Wijaya bertajuk ‘Dua Kota, Dua Ingatan’ dan kumpulan cerpen ‘Cetik Taluh’ karya Gede Sarjana Putra.


Perdebatan berawal ketika pembahas buku Wahyu Budi Nugroho menilai, karya-karya Angga Wijaya yang bernuansa realis masih belum bisa memberikan sentuhan pada para penikmatnya meskipun sudah ada kemajuan dibanding karya sebelumnya.


“Masih miskin dengan permainan kata dan metafora,” ujar dosen di Jurusan Sosiologi Universitas Udayanan inipada diskusi yang berlangsung di Kubukopi, Denpasar, Sabtu (31/8) malam. Selain itu, menurutnya, dengan latar belakang Angga yang merupakan penyintas Skizofrenia, mestinya ada potensi dimana Angga lebih kaya dengan pengalaman surealistik yang imajinatif.


Namun pendapat ini dinilai penyair senior Abu Bakar sebagai tak berdasar karena senyatanya banyak karya realis yang juga mampu memiliki kekuatan puitik yang hebat. “Jadi jangan dia diukur dengan keinginan kita seraya melihat bahwa ada gaya lain yang lebih baik,” jelasnya.
Masalah ini kemudian ditengahi oleh wartawan senior Wayan Juniarta yang melihat perbedaan antara Wahyu dengan Abu Bakar hanya karena sudut pandang yang berbeda dimana Wahyu berposisi sebagai pengamat yang memiliki harapan. Sementara Abu adalah seniman yang menginginkan kebebasan berkarya menjadi otoritas penuh dari seniman.

Redaktur Jakarta Post itu memiliki penilaian sendiri terhadap karya Angga yang dinilai sebagai bentuk katarsis dan penyembuhan dari skizofrenia yang dideritanya. “Kalau kita melihat dari sisi itu mungkin kita bisa lebih merasakan kekuatan puisinya karena perjuangan berat yang dialaminya dan tak bisa dirasakan oleh orang lain,” ujarnya.


Sementara itu, karya Gede Sarjana Putra juga dianggap oleh pengamat sastra Made Sujaya sebagai karya yang belum mewakili tema ‘Bali yang Lain’ seperti yang diklaim oleh penerbit buku berjudul ‘Cetik dan Taluh’ itu. Meski tak mengangkat soal adat dan kasta, menurutnya, topik itu juga masih melihat Bali dari sisi tradisionalnya.


Potensi ‘Bali yang lain’ itu justru dilihat dari cerpen dengan karya yang mengangkat sisi keseharian orang Bali seperti pada cerpen berjudul ‘Istri Tukang Las” . “Ini yang harus dikembangkan lagi,” ujarnya.
Menanggapi kritikan itu, Angga Wijaya menyebut, sejak awal dia menggunakan puisi sebagai cara untuk menggambarkan kejadian-kejadian riil yang ada di sekitarnya. “Ada beberapa yang imajinatif, tapi saya lebih suka yang riil karena bisa menjadi sarana komunikasi saya dengan siapapun,” ujarnya.


Sementara Gede menyebut, cerpen-cerpennya berusaha mengangkat realitas kehidupan orang Bali namun dalam proses penerbitan memang bukan sepenuhnya sesuai dengan keinginannya. Sepertinya pilihan cerpen ‘Cetik Taluh’ yang dijadikan judul buku sebenarnya merupakan pilihan penerbit. “Tentu masukan dalam diskusi ini akan saya pertimbangkan untuk penerbitan karya berikutnya,” ujarnya. (kanalBali/RLS)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.