Dilaporkan Polisi Kasus Penyerobotan Tanah, Wartawan Senior Ini Tegas Membantah

Agus Samijaya SH saat memberi keterangan kepada wartawan didampingi Joko Sugianto - WIB

Wartawan Senior, Joko Sugianto hari ini, Selasa (7/7) menjalani pemeriksaan di Dit Reskrimum Polda Bali atas pengaduan penyerobotan tanah yang bertempat di Jalan Batas Dukuh Sari Gang Merak, Sesetan. Usai pemeriksaan, dia membantah tegas laporan tersebut.

“Hari ini kami datang terkait aduan saudara Wayan P yang mengadukan seolah pak Joko telah melakukan penyerobotan dan menempati lahan tanpa izin pemilik,” ungkap Agus Samijaya, anggota tim kuasa hukum Joko Sugianto dari LBH KAI Bali, Selasa (7/7/2020).

Menurut penuturan Agus, proses pemeriksaan itu berjalan dengan lancar. “Penyidik bertanya terkait hal-hal posisi pak Joko menempati tanah. Kami jelaskan dari dasar hingga bukti-bukti nyatanya ,”papar Agus.”Kasus ini sederhana sebetulnya. Sertifikat kan baru terbit 2019, sedangkan pak Joko telah menempati tanah itu sejak 2010, bagaimana bisa pak joko disebut menyerobot tanah,” kata dia.

Terlebih lagi, kata Agus, warga sekitar pun telah lama mengetahui bahwa tanah itu memang milik Joko. “Saksinya banyak, boleh diundang. Nggak ada yang namanya Wayan Padma yang menempati tanah. Dia (Joko-red) lah yang menempatinya dari 2010,” tegas Agus.

Dari penuturanya, ia berharap agar penyidik menghentikan sementara kasus pelaporan ini sembari menunggu kasus pokok mengenai laporan Pujiama tentang dugaan pemalsuan tanda tangan kwitansi jual beli tanah mencapai titik terang. Adanya pemalsuan itulah yang diduga menjadi awal adanya sertifikat yang digunakan untuk menuduh wartawan senior itu sebagai penyerobot tanah.

“Nah, untuk itu harus dibuktikan dulu kasus pokoknya sampai pada keputusan inkrah, kalo sudah ada kejelasan baru kasus ini bisa di proses, kasus ini (pelaporan terhadap Joko-red) khan efek samping dari kasus pokok,”ungkapnya.

Kata Agus, kasus ini mudah diselesaikan apabila penyidik mendalami kasus pokok tentang laporan Ketut Pujiama atas dugaan pemalsuan tanda tangan kwitansi jual beli dan pemalsuan keterangan mencapai kejelasan,” tandasnya.

Sejak Joko membeli tanah dari Ketut Gede Pujiama 2010 silam, selama itu pula ia sama sekali tidak bertemu adanya pihak yang merasa keberatan ataupun mengklaim tanah itu. “Sedari 2010 sampe 2019, pak Joko nyaman dan merasa bahwa memang itu sudah miliknya,”lugas Agus.

Penyidik juga menanyakan mengapa setelah melakukan pembeliam belum ada diproses disertifikat. Agus Samijaya menjelaskan, setelah membeli tanah dari Ketut Pujiama, Joko langsung mengajukan proses sertifikat ke notaris. Namun, Ketut Pujiama mengatakan tanah itu akan dipecah dari sertifikat induk ia pun mengikutinya. “Sebagai pembeli yang beretikat baik ia (Joko-red) mengikutinya,” pungkasnya. ( kanalbali/WIB )