Keluarga Bayak Menafsir 1965: Tragedi Kelam Jadi Seni yang Mencekam

Karya Instalasi Keluarga Made Bayak - WIB

DENPASAR – Sebuah instalasi kinetik dengan memadukan elemen sensorik, gerak dan suara terpampang di Satrian Gallery, Sanur. Ketika tangan menyentuh bagian sensor, secara mekanis mesin langsung bekerja, beberapa palu memukul-mukul penggorengan yang kemudian menimbulkan suara gaduh.

Sementara itu, terdapat manekin dengan wajah tegang terus berputar, seolah sedang mengalami peyiksaan brutal, terdapat pula beberapa arit yang dipasang di sebuah tiang berpangkal berpangkal kaca datar. Diantara semua itu, saat mesin dinyalakan, terdengar sebuah kakawin (tembang berbahasa Jawa kuna) yang biasa dilantunkan saat upacara kematian. Sontak, sebuah nuansa kengerian tergambar dari instalasi itu.

Sesungguhnya, cukup absurd untuk menangkap maksud dari instalasi itu. Tetapi, setelah mendengar penjelasan dari sang pencipta, Made Bayak, rupanya karya itu menggambarkan sebuah adegan historis kelam yang penah terjadi di Nusantara, pembantaian PKI tahun 1965. “Ini seperti mengintip peristiwa sejarah,” ungkapnya.

Made bayak bersama keluarga –

Bayak adalah salah satu dari sekian perupa yang memajang karyanya pada pameran akhir tahun ‘Sip Setiap Saat’, hingga 25 Januari 2021 mendatang. Perupa kontemporer itu bersama keluarganya mempersembahkan sembilan karya dalam satu kesatuan, diberi judul ‘B-Pop, Culture and Historic Seneak Peek’.  “Kami mempersembahkan karya kolaborasi, beberapa elemen violence dan budaya Bali yang dibawakan lebih pop,” terangnya.

Bayak bersama sang istri, Kartika Dewi dan anak, Damar Langit Timur sedari tahun 2014 sering membuat karya kolaborasi. Tiap tahunnya, keluarga itu kerap menggelar pameran. “Tapi di tahun 2020 pameran kami terkendala karena COVID-19, tapi kami tetap berkarya di studio,” ujarnya.

Toko Wong yang menjadi salah-satu inspirasi karya – WIB

Bayak begitu tertarik membawakan isu-isu sosial historis dalam karya-karyanya. Memang tak terpungkiri lagi, peristiwa kelam tahun 65 itu telah banyak merubah aspek-aspek kehidupan, seperti sosial, politik hingga religi, semua perubahan itu berlandas pada peristiwa yang masih manjadi kontroversi hingga hari ini.

“Saya tertarik karena itu sebuah isu sejarah yang tidak pernah dipelajari di sekolah, kita hanya dijejali versi pemerintah dan akhirnya menimbulkan pertanyaan besar,” ungkapnya.

Seperti karya sang anak, ‘Toko Wong’. ” Di Bali banyak tempat-tempat yang menjadi saksi bisu penumpasan PKI, salah satunya Toko Wong di Negara, disana waktu itu banyak orang yang dikumpulkan pada tempat itu yang kemudian secara bersamaan dibredel,” ucap Bayak.

Meski dikemas dalam bentuk budaya populer, Bayak berharap esensi dari karyannya dapat tersampaikan kepada para pengunjung pameran, khususnya generasi muda.

Made Bayak adalah salah satu dari segelintir perupa di Bali, yang mencoba memberi kesaksian atau testimoni atas kondisi sosial yang terjadi. Dalam beberapa proyek keseniannya seperti mural performen art, music indie ataupun pameran, ia banyak berbicara soal isu isu kapitalisme, turisme, dan kerusakan lingkungan yang terjadi di Bali. Lihat misalnya dalam proyek seni ‘Upeti Untuk Macan Asia’ pada Februari 2011.

Dalam karya-karyanya, Bayak banyak bercerita tentang kapitalisme, konsumerisme, perang, minyak, atupun isu-isu global lainnya yang berpengaruh pada kehidupan masyarakat Bali sebagai destinasi turisme lokal dan internasional. (Kanalbali/WIB)