SABTU, 14 Februari 2026, kabar duka datang dari negeri yang jauh dan dingin. Seorang Pekerja Migran Indonesia asal Jembrana, Bali, Ni Made Dwi Arya Wati (36), meninggal dunia di Saint Petersburg, Rusia. Ia pingsan saat bekerja sebagai terapis spa.
Penulis: Angga Wijaya
BEBERAPA kali sebelumnya ia mengeluhkan kelelahan kepada keluarganya di Jembrana. Tubuhnya sudah memberi tanda, tetapi pekerjaan tak memberi ruang untuk berhenti. Ia tumbang, dibawa ke rumah sakit, dan tak pernah kembali.
Berita itu singkat. Tidak panjang. Tidak bertele-tele. Namun di balik kesingkatannya, ada lapisan-lapisan kenyataan yang pahit. Seorang perempuan meninggalkan kampung halamannya, meninggalkan keluarganya, pergi jauh ke negeri orang demi penghidupan yang lebih baik. Ia bekerja, menahan lelah, memendam rindu, dan pada akhirnya tubuhnya menyerah.
Kita membaca kabar itu di layar gawai. Kita menghela napas. Kita mengucapkan belasungkawa dalam hati. Lalu kita menggulir layar ke berita berikutnya. Hidup berjalan seperti biasa. Padahal kematian itu bukan peristiwa tunggal. Ia adalah tanda dari sesuatu yang lebih besar, sesuatu yang berulang, sesuatu yang perlahan menjadi biasa.
Beberapa waktu terakhir, linimasa media sosial juga sering menampilkan kisah serupa. Pengemudi ojek online ditemukan tak bergerak di atas sepeda motor. Ada yang bersandar di tembok ruko, dikira tertidur, ternyata sudah tak bernyawa. Ada yang berhenti di pinggir jalan untuk beristirahat, lalu tubuhnya tak lagi bangun. Keterangan yang menyusul hampir selalu sama. Kelelahan. Serangan jantung. Tubuh yang kolaps setelah bekerja terlalu lama.
Bukan Workaholic
Mereka bukan orang-orang yang terobsesi pada kerja. Mereka bukan pengagum fanatik budaya lembur. Mereka bekerja keras bukan karena ambisi pribadi yang meluap-luap, melainkan karena kebutuhan hidup yang tak bisa ditunda. Sistemlah yang mendorong mereka bekerja melampaui batas daya tahan tubuh.
Kelelahan adalah kata yang terdengar ringan. Kita mengucapkannya hampir setiap hari. Capek. Lelah. Kurang tidur. Namun dalam dunia kerja hari ini, kelelahan bukan lagi sekadar rasa pegal di bahu atau kantuk di mata. Ia adalah akumulasi tekanan ekonomi, jam kerja panjang, pendapatan yang tak menentu, dan ketakutan kehilangan penghasilan.
Bagi pekerja migran seperti Ni Made Dwi Arya Wati, kelelahan bukan hanya soal jam kerja. Ia adalah soal jarak. Jarak dari keluarga. Jarak dari tanah kelahiran. Jarak dari rasa aman. Mereka bekerja di negeri orang dengan target yang tidak selalu bisa ditawar. Mereka memikul tanggung jawab besar di rumah. Biaya sekolah anak. Biaya hidup orang tua. Cicilan. Harapan yang dititipkan di pundak mereka.
Tubuh mereka mungkin berada di ruang kerja yang tampak nyaman. Namun pikiran mereka sering kali penuh kecemasan. Setiap hari adalah pertaruhan antara produktivitas dan kesehatan. Ketika tubuh tak lagi sanggup, yang tersisa hanyalah kabar duka yang menyeberangi benua.
Di dalam negeri, wajah kelelahan itu lebih kasatmata. Pengemudi ojek online bekerja tanpa jam kantor yang jelas. Secara formal mereka disebut mitra. Mereka bisa memilih waktu bekerja. Mereka disebut bebas. Namun kebebasan itu sering bersifat semu.
Algoritma aplikasi menentukan banyak hal. Urutan order. Insentif. Penilaian performa. Pengemudi yang jarang aktif berisiko kehilangan peluang mendapatkan bonus. Yang terlalu sering menolak pesanan bisa dianggap tidak produktif. Secara tidak langsung, sistem mendorong mereka untuk terus berada di jalan.
Pendapatan yang tidak menentu membuat banyak pengemudi bekerja lebih lama demi mencapai target harian. Jika hari ini sepi, besok harus lebih lama. Jika kemarin sakit dan tidak bekerja, hari ini harus mengganti. Siklus itu berulang tanpa henti.
Tubuh Bukan Mesin
Tubuh manusia bukan mesin. Ia memiliki batas. Ia membutuhkan istirahat. Namun sistem kerja hari ini sering memperlakukan tubuh seperti perangkat yang bisa terus diisi ulang tanpa konsekuensi. Ketika tubuh itu akhirnya menyerah, kita menyebutnya musibah. Kita menyebutnya takdir. Padahal di baliknya ada pola yang bisa dibaca.
Ada ironi lain yang jarang dibicarakan dengan serius. Di Indonesia, batas usia sering menjadi pagar tak kasatmata dalam dunia kerja. Banyak lowongan pekerjaan mencantumkan batas maksimal usia yang relatif muda. Seolah-olah setelah melewati angka tertentu, seseorang kehilangan nilainya sebagai pekerja.
Padahal mereka yang berusia matang biasanya telah melewati berbagai dinamika kerja. Mereka lebih stabil secara emosional. Mereka lebih sabar menghadapi tekanan. Mereka lebih paham bagaimana menyelesaikan konflik. Pengalaman membentuk kecerdasan yang tak selalu diajarkan di bangku sekolah.
Namun sistem rekrutmen modern cenderung memuja mereka yang baru lulus. Enerjik. Fleksibel. Bersedia digaji lebih rendah. Sementara mereka yang berpengalaman dianggap terlalu mahal atau sulit diatur. Akibatnya banyak orang berusia matang terlempar dari sektor formal.
Pilihan yang tersisa sering kali adalah sektor informal. Menjadi pengemudi ojek online. Menjadi pekerja lepas. Menjadi buruh harian. Atau memilih bekerja ke luar negeri. Pilihan-pilihan itu bukan selalu karena panggilan hati, melainkan karena pintu lain tertutup.
Bekerja ke luar negeri sering disebut sebagai mencari nasib. Frasa itu terdengar heroik. Seolah-olah ada petualangan besar di dalamnya. Padahal di baliknya ada perpisahan panjang dengan pasangan dan anak-anak. Ada ulang tahun yang tak bisa dihadiri. Ada sakit yang tak bisa dijenguk. Ada rindu yang ditahan bertahun-tahun.
Banyak pekerja migran berasal dari daerah dengan peluang kerja terbatas. Mereka meninggalkan rumah bukan karena ingin jauh, melainkan karena ingin bertahan. Mereka ingin anaknya sekolah lebih tinggi. Mereka ingin rumahnya lebih layak. Mereka ingin orang tuanya hidup lebih tenang.
Namun ketika kematian datang akibat kelelahan, kita menyebutnya nasib. Kita berduka, lalu melanjutkan rutinitas. Pertanyaan mendasarnya jarang disentuh. Mengapa orang harus pergi begitu jauh untuk mendapatkan kehidupan yang layak. Mengapa di negeri sendiri kesempatan itu terasa sempit.
Kita hidup di masa ketika produktivitas dipuja. Orang yang sibuk dianggap sukses. Orang yang lembur dianggap berdedikasi. Istirahat sering dianggap kelemahan. Padahal istirahat adalah kebutuhan biologis.
Budaya Kolektif
Budaya kerja yang memuliakan kesibukan tanpa henti pelan-pelan membentuk kesadaran kolektif bahwa lelah adalah harga yang wajar untuk hidup lebih baik. Kita menerima kelelahan sebagai konsekuensi alami. Kita jarang bertanya apakah sistemnya yang salah.
Negara hadir dalam bentuk regulasi dan kebijakan. Namun dalam kasus-kasus kematian akibat kelelahan, kehadiran itu terasa jauh. Apakah jam kerja pekerja migran benar-benar diawasi. Apakah ada mekanisme yang memastikan mereka tidak bekerja melampaui batas aman. Apakah perusahaan benar-benar mematuhi standar kesehatan kerja.
Di dalam negeri, apakah perlindungan sosial cukup menjangkau pekerja informal. Apakah jaminan kesehatan dan keselamatan kerja benar-benar efektif bagi mereka yang bekerja di jalanan sepanjang hari. Pertanyaan-pertanyaan ini tidak boleh berhenti sebagai retorika.
Kematian akibat kelelahan bukan hanya tragedi individual. Ia adalah gejala sosial. Ia menandakan ada ketimpangan antara kebutuhan hidup dan kesempatan kerja yang layak. Ia menunjukkan jarak antara regulasi dan realitas.
Salah satu hal yang perlu ditinjau adalah praktik pembatasan usia dalam rekrutmen. Mengapa seseorang dianggap terlalu tua untuk memulai pekerjaan baru. Di banyak tempat lain, orang bisa memulai karier baru di usia matang tanpa stigma.
Mereka yang lebih dewasa justru membawa stabilitas. Mereka tidak lagi mudah goyah. Mereka memahami tanggung jawab. Mereka mungkin tidak secepat generasi muda dalam hal tertentu, tetapi mereka memiliki ketekunan dan kebijaksanaan yang tak kalah penting.
Jika pintu kerja formal lebih terbuka bagi mereka, mungkin sebagian tidak perlu mengambil pekerjaan yang menguras fisik secara ekstrem. Mungkin sebagian tidak perlu bekerja hingga larut malam di jalanan. Mungkin sebagian tidak perlu pergi jauh meninggalkan keluarga.
Setiap kali ada berita pekerja meninggal karena kelelahan, kita kembali pada ironi yang sama. Mereka bekerja demi hidup yang lebih baik, tetapi justru kehilangan hidup itu sendiri. Mereka berangkat dengan harapan, pulang sebagai jenazah.
Mimpi Sederhana
Ni Made Dwi Arya Wati mungkin berangkat dengan mimpi sederhana. Membahagiakan keluarga. Menjamin masa depan. Namun tubuhnya menyerah sebelum mimpinya selesai.
Para pengemudi ojek online yang meninggal di atas motor mereka juga berangkat setiap pagi dengan niat yang sederhana. Membawa pulang uang. Membayar kebutuhan. Tidak ada ambisi besar. Hanya ingin bertahan.
Ironinya, di negeri yang kaya tenaga kerja, manusia itu sendiri sering kali tidak menjadi pusat perhatian dalam sistem kerja. Kita berbicara tentang pertumbuhan ekonomi, investasi, dan produktivitas. Namun kita jarang menempatkan kesehatan dan keselamatan pekerja sebagai prioritas utama.
Barangkali yang perlu kita lakukan adalah mengembalikan manusia sebagai pusat. Jam kerja yang manusiawi. Perlindungan kesehatan yang nyata. Kebijakan rekrutmen yang tidak diskriminatif terhadap usia. Pengawasan yang tegas terhadap praktik kerja yang eksploitatif.
Nyawa manusia tidak boleh tunduk pada logika keuntungan semata. Jika tidak, kita akan terus membaca kabar serupa. Dari kota asing yang bersalju hingga jalanan panas di negeri sendiri. Dari ruang kerja tertutup hingga pinggir jalan yang bising.
Dan setiap kali itu terjadi, kita kembali pada kalimat yang menyakitkan. Mati karena lelah. Sebuah ironi yang seharusnya tidak pernah menjadi biasa (*)


