Menteri Perdagangan Lepas Ekspor Produk UMKM dari Bali

Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso dan Gubernur Bali, I Wayan Koster, saat di acara,"Pelepasan Ekspor Produk Vanila, Kayu Manis, dan Madu, ke Hongkong," di Denpasar, Bali, Selasa (29/7). - IST
Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso dan Gubernur Bali, I Wayan Koster, saat di acara,"Pelepasan Ekspor Produk Vanila, Kayu Manis, dan Madu, ke Hongkong," di Denpasar, Bali, Selasa (29/7). - IST

DENPASAR, kanalbali.id -Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mengatakan, untuk di Bulan Januari hingga Juni 2025, sudah Rp 1,3 triliun transaksi UMKM di Indonesia yang sudah terfasilitasi untuk ekspor ke luar negeri.

Sementara, UMKM yang terfasilitasi itu ada sebanyak 609 UMKM di Indonesia yang mengekspor berbagai produknya ke luar negeri.

“Dari Januari sampai Juni ini, sudah sekitar 609 UMKM terfasilitasi dan transaksinya sudah 87,04 juta US, sudah Rp 1,3 triliun,” kata Mendag Santoso, saat di acara,”Pelepasan Ekspor Produk Vanila, Kayu Manis, dan Madu, ke Hongkong,” di Denpasar, Bali, Selasa (29/7).

Ia menerangkan, bahwa di Kementerian Perdagangan ada program namanya,”UMKM Bisa Ekspor,”. Artinya hal tersebut itu berpihak ke rakyat kecil dan program itu bergerak dari kabupaten hingga kota, lalu ke kelurahan dan desa.

“Kita juga ada program namanya Desa Bisa Ekspor. Jadi kita pengennya produk-produk kita yang ada kayak di Bali ini, kan banyak produk, tetapi mungkin belum terstandar, kita kemas, kita packaging, kemudian kita ekspor,” imbuhnya.

Ia juga berharap, dengan adanya ekspor UMKM di Bali ini bisa mendorong UMKM di Indonesia untuk melakukan ekspor. Dan tentu yang dilakukan oleh pemerintah pusat untuk,”Program UMKM Bisa Ekspor”, tadi menyambungkan antara UMKM, seperti yang ada di Bali dengan perwakilan Kementerian Perdagangan yang ada di luar negeri.

“Kita mempunyai perwakilan atas perdagangan ITPC, Indonesian Trade Promotion Center yang tugasnya memang jualan, menjual produk ekspor kita. Itu ada di 33 negara. Jumlahnya 46 (negara), tapi ada di 33 negara. Kemudian setiap hari, kita ada program business matching. Jadi UMKM, misalnya kayak (di Bali ini), bisa presentasi setiap hari ke perwakilan kita,” ujarnya.

“Terserah mau yang Malaysia, Singapura, Cina atau mana saja, mempresentasikan produk kita yang akan kita jual. Ini produk kita ada madu, ada kayu manis, ada vanilla. Kemudian setelah presentasi, perwakilan kita mencarikan buyer,” lanjutnya.

Kemudian, setelah mendapatkan buyer atau pembeli, kemudian ada business matching dan para UMKM bisa presentasi ke buyer yang didampingi oleh Kementerian Perdagangan.

“UMKM ini nggak pernah ketemu buyer. Jadi cukup online, bisa pakai zoom meeting atau aplikasi yang lain. Nah ini kita lakukan setiap hari. Sebenarnya, kita sekarang tinggal mengemas. Kita itu punya produk banyak, kita nggak kekurangan produk. Cuma produk kita tadi, kualitasnya mungkin belum kualitas untuk ekspor. Nah itu yang kita benahi,” jelasnya.

Selain itu, nantinya untuk para UMKM di Indonesia ada pelatihannya, seperti packaging atau cara membuat packaging yang bagus dan cara membuat desain yang bagus.

“Jadi kita ada klinik desain. Klinik desain adanya di Jakarta, tetapi bapak- ibu juga bisa konsultasi secara online. Jadi seluruh Indonesia kita melayani secara online. Karena banyak produk, setelah kita desain bisa ekspor. Tadinya mungkin tampilannya kurang bagus, desainnya tidak bagus, tidak terstandar. Jadi setelah kita lakukan pembenahan, kita bisa ekspor,” ujarnya.

Ia menyebutkan, untuk kegiatan tersebut dilakukan secara terus-menerus sampai ke desa-desa dan memang belum banyak UMKM seperti yang di Bali ini.

“Dari 609 (UMKM) mungkin baru 40 (UMKM) yang eksportirnya. Sekitar 40 dari 609 UMKM yang difasilitasi itu sebenarnya eksplotirnya itu sekitar 40-an. Ada yang perorangan, ada yang membuat perusahaan, ada juga yang dinas, jadi dinas juga bisa, ada juga yang perbankan. Jadi banyak,” jelasnya.

Sementara, yang paling cepat bergerak adalah UMKM dari perusahaan seperti yang di Bali ini. Namun, kedepannya pihaknya berharap untuk UMKM seperti di Bali ini lebih banyak.

“Mudah-mudahan dengan program ini meningkatnya ekspor kita, produk-produk UMKM kita bisa masuk pasar internasional.
Kemudian juga Januari-Mei (2025) ini, ekspor kita meningkat,” ujarnya.

“Kita belum dapet data Januari-Juni, tapi Januari-Mei itu ekspor kita meningkat 6,95 persen. Kemudian di perwakilan itu, juga kita target. Selain dia meningkatkan ekspor secara nasional, mereka juga harus bisa meningkatkan ekspor khusus UMKM. Jadi UMKM nanti, kita lihat berapa ekspornya ke negara-negara yang ada perwakilan,” ujarnya.

“Tapi kita harus juga support kepada perwakilan kita (yang ada di luar negeri). Mereka suruh jualan, kalau produk kita nggak bagus, dia juga nggak bisa. Mereka siap, dia siap di lapangan, dia siap mencari buyer, tapi kita harus dukung dengan produk-produk yang bagus,” ungkapnya.

Selain itu, Kementerian Perdagangan juga telah membuka pasar baru di beberapa negara. Kendati, untuk penjualan produk UMKM di luar negeri tentu tidak mudah.

“Kalau kita nggak punya perjanjian dagang, kadang-kadang kita juga susah masuk. Tahun ini kita sudah menyelesaikan perjanjian dagang Indonesia-Kanada. Kemudian EU-FBA, EU-Asia, jadi negara Rusia dan sekitarnya sudah bikin perjanjian dagang. Yang baru kemarin itu EU-Jepang. Jadi EU atau negara Eropa, sebanyak 27 Negara Eropa, sekarang sudah ada perjanjian dagang dengan Indonesia. Artinya masih proses,” ujarnya.

Ia juga menyebutkan, bahwa soal perjanjian itu sudah diumumkan oleh Presiden Prabowo Subianto dan saat tinggal finalisasi saja dan nanti tinggal legal drafting dan lain-lainnya.

“Nah ini kesempatan besar buat kita untuk masuk Pasar-pasar Uni Eropa. Nanti budgetnya, tarifnya banyak yang nol. Banyak negara yang belum mempunyai perjanjian dagang dengan EU. Di Asean pun belum banyak dan kita salah satu yang sudah melakukan perjanjian itu,” ujarnya.

Apa Komentar Anda?