- Fransiska Prihadi, Direktur Program Minikino Film Week berpartisipasi dalam Clermont-Ferrand International Short Film Festival di Prancis.
- Program Indonesian Entourage: A Sleeping Giant dalam sesi Market Screening menampilkan enam film pendek Indonesia
- Minikino Film Week 12, Bali International Film Festival yang akan berlangsung pada 11–18 September 2026
SETELAH satu minggu penuh pertemuan, diskusi industri, dan pemutaran film di ajang Clermont-Ferrand International Short Film Festival (CFISFF) 2026 di Prancis, Fransiska Prihadi, Direktur Program Minikino Film Week, mendarat kembali dengan selamat di Bali pada Sabtu malam, 7 Februari 2026.
Kepulangannya bukan sekadar kembali dari perjalanan panjang di Eropa. Setelah menghadiri Vilnius Short Film Festival di Lithuania dan CFISFF di Prancis yang merupakan festival film pendek terbesar di dunia, yang dilakukan Minikino adalah mendorong pembentukan jejaring internasional yang semakin luas dan sekaligus membuka berbagai rencana baru bagi Minikino Film Week ke depan.
Kepulangannya bukan sekadar akhir dari perjalanan panjang di Eropa. Sebelum kembali ke Bali, Fransiska hadir Vilnius Short Film Festival di Lithuania dan berlanjut ke Clermont-Ferrand International Short Film Festival (CFISFF) di Prancis, festival film pendek terbesar di dunia. Minikino tidak hanya hadir sebagai peserta namun secara aktif membangun jejaring internasional yang lebih luas. Perjalanan panjang ini juga membuka berbagai kemungkinan dan rencana baru untuk pengembangan Minikino Film Week ke depan.
Film Pendek Indonesia Lagi Naik Level
Tahun ini jadi momen spesial karena Asia Tenggara untuk pertama kalinya menjadi fokus kawasan di Clermont-Ferrand. Selain itu, film-film pendek Indonesia juga hadir di kompetisi internasional, program fokus Asia Tenggara, hingga sesi pasar film, short film market Clermont Ferrand yang disebut-sebut sebagai yang terbesar di dunia.
Program Indonesian Entourage: A Sleeping Giant dalam sesi Market Screening menampilkan enam film pendek Indonesia yang menunjukkan keberanian, keberagaman cerita, dan kualitas produksi yang makin matang. Dan ini membuktikan satu hal penting, bahwa film pendek Indonesia bukan lagi “format kecil” yang cuma sekedar untuk tugas sekolah. Film pendek telah terbukti menjadi ruang eksplorasi seni, kolaborasi lintas negara, dan pintu masuk menuju industri film global.
Film-film pendek yang ditampilkan dalam market screening Indonesian Entourage: A Sleeping Giant bisa dilihat selengkapnya pada tautan https://minikino.org/indonesianentourage2026/.
Fransiska Prihadi, Direktur Program Minikino Film Week, Bali International Short Film Festival, sebagai kurator program mempertimbangkan kualitas karya yang dinilai mampu merepresentasikan pencapaian terkini film pendek Indonesia. “Film-film yang terpilih memiliki nilai tawar yang relevan dan diminati oleh industri internasional. Sebagian film pendek yang terpilih merupakan karya yang diproduksi melalui program Layar Indonesiana yang diinisiasi oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia,” kata Fransiska.
Selain market screening, sebuah film pendek produksi Kawan Kawan Media berjudul “One Tropical Rain of Love and Guilt” terpilih masuk kompetisi internasional. Film ini ditulis dan disutradarai oleh Sein Lyan Tun (Myanmar), dan merupakan kolaborasi produksi lintas negara antara Indonesia, Myanmar, dan Thailand. Karya ini merupakan gambaran bahwa film pendek memiliki potensi kolaborasi produksi yang luas.

Film pendek Indonesia juga hadir melalui sejumlah program non-kompetisi. Dalam FOCUS: South East Asia, terpilih film Basri dan Salma dalam Komedi yang Terus Berputar (Basri and Salma in a Never-Ending Comedy) karya sutradara Khozy Rizal, Prenjak (In the Year of Monkey) karya sutradara Wregas Bhanuteja, serta Ragadi Maparo (Where the Wild Frangipanis Grow) karya sutradara Bali, Nirartha Bas Dhiwangkara. Sementara itu, dalam program bertajuk BLOOD menampilkan film pendek Darah Ksatria (Knight of Blood) yang disutradarai oleh Widya Arafah dan Arjuna Asa. Film lain karya Khozy Rizal, Little Rebels Cinema Club, turut tampil dalam program Market Picks.
Indonesia berdiri bersama Asia Tenggara
Sebagai bagian dari Southeast Asian Festival Focus, CFISFF juga menampilkan seleksi film khusus yang menyoroti kawasan Asia Tenggara. Booth khusus Asia Tenggara juga untuk pertama kalinya didirikan dalam ruang pasar melalui kerja sama dengan The Asian Film Alliance Network (AFAN).
AFAN merupakan sebuah inisiatif jejaring yang mempertemukan badan-badan perfilman nasional di Asia untuk memperkuat kemitraan, pertukaran informasi, serta merayakan warisan budaya, cerita, dan sumber daya bersama di kawasan ini dan seterusnya. Saat ini, AFAN diikuti oleh lembaga perfilman nasional dari Korea Selatan (KOFIC), Indonesia (Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia), Malaysia (FINAS), Mongolia (MNFC), Filipina (FDCP), Singapura (IMDA/SFC), dan Taiwan (TAICCA).
AFAN pertama kali terbentuk pada perhelatan Cannes Film Festival 2023 atas inisiatif Korean Film Council, dan sejak itu terus mengembangkan jejaring lintas kawasan. Salah satu langkah penting yang sudah dilakukan adalah melakukan kemitraan dengan European Film Agency Directors Association pada Mei 2024,memperkuat kolaborasi Asia–Eropa. Pada Mei 2025, Thailand resmi bergabung dengan AFAN di Cannes Film Festival, menandai langkah penting selanjutnya dalam perluasan jejaring kawasan ini.
Ayo Kontrol Jari-Jari Kita di Dunia Maya
Bukan Cuma Putar Film, Tapi Membangun Jaringan
Selain pemutaran film, delegasi Indonesia juga aktif di forum industri, diskusi ekonomi film pendek, hingga platform pengembangan proyek seperti Talents Connexion. Semua ini membuka peluang baru, mulai dari sekedar berkenalan sampai ke kolaborasi produksi, distribusi festival, dan juga potensi kerja sama jangka panjang lintas negara.
Dukungan terhadap keberangkatan delegasi Indonesia diberikan oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya.
Denpasar, Siap Jadi Tuan Rumah Dunia
Sepulang dari Prancis, Fransiska membawa pulang bukan hanya pengalaman, tetapi juga banyak rencana baru untuk memperkuat Minikino Film Week sebagai jembatan antara Indonesia dan dunia.
Melalui Minikino Film Week 12, Bali International Film Festival yang akan berlangsung pada 11–18 September 2026, Denpasar kembali bersiap menjadi ruang pertemuan utama para pembuat film, kurator, dan profesional industri internasional yang hadir langsung untuk berbagi gagasan dan pengalaman.
Yang penting untuk digaris bawahi juga adalah festival ini bukan hanya untuk filmmaker. Minikino mengajak seluruh masyarakat Bali untuk ikut menjadi tuan rumah. Generasi muda, komunitas, pelajar, pekerja kreatif, hingga penonton umum. Semua berperan penting.
Industri film yang sehat tidak hanya dibentuk oleh para pembuatnya. Ia juga tumbuh dari penonton yang hadir, mencari tahu, bertanya, berdiskusi, dan berani bersuara dan bersikap kritis. Karena itu, festival ini dirancang agar ramah, terbuka, dan mudah diakses. Siapa pun bisa terlibat dan berkontribusi. Baik sebagai kreator, maupun sebagai penonton aktif dan kritis bersuara, yang ikut membentuk arah perkembangan sinema kita ke depan.
Kesempatan ini adalah ruang belajar bersama: menyaksikan karya dari berbagai negara, berdialog langsung dengan para ahli, serta memahami bagaimana film pendek Indonesia bergerak di level global.
Kenapa Film Pendek Penting?
Film pendek melahirkan banyak ide segar dan talenta baru di dunia film. Inilah salah satu kekuatan yang sangat khas dari film pendek. Banyak sutradara besar di Indonesia maupun di dunia memulai karirnya dari film pendek. Bahkan beberapa seniman audio visual memilih film pendek sebagai media utama untuk ekspresi mereka.
Di Indonesia dan Asia Tenggara, film pendek kini jadi tulang punggung gerakan sinema yang progresif, lebih lincah, lebih berani, dan penuh dengan energi baru. Film pendek mungkin bukan komoditi komersial, namun merupakan medium berkesenian yang lebih murni ketika melihat film sebagai sebuah karya seni.
Partisipasi di Clermont-Ferrand 2026 lebih mempertegas lagi bahwa film pendek Indonesia bukan sekadar pelengkap industri film. Ia adalah motor penggerak generasi baru perfilman Indonesia. (kanalbali/RLS)


