DENPASAR, kanalbali.id – Masalah sampah yang tak kunjung tuntas dan penebangan hutan yang meluas di Bali menjadi sorotan dalam pertemuan DPD RI dengan komponen masyarakat Bali, Sabtu (17/1/2026) di Renon Denpasar.
Kedua masalah itu dinilai punya kontribusi besar sebagai penyebab bencana. “Setiap hujan kamu sekarang tak bisa bisa tidur nyenyak karena khawatir terjadi bencana,” kata Agung Putra, Lurah Kerobokan, Badung.
Dalam hal pengelolaan sampah, pihaknya sudah membuat teba modern. Namun sebagian masih diangkut oleh swakelola ke TPA Suwung yang kondisinya terbatas.
Mengajarkan Orang Tua Agar Pandai Berdigital
Sementara Nengah Setiawan, warga Petandakan, Buleleng menyebut, alih fungsi lahan terjadi di hutan desa yang dikelola masyarakat dengan izin pemerintah.
“Seperti di Wanagiri dan Gobleg, banyak berubah menjadi kebun Bunga dan cengkeh,” tegasnya.
Robot Kendang Ayam Otomatis dari Tim FT Unud Menangi Politeknik Negeri Bali Robot Competition
Di atas kota Singaraja, menurutnya, banyak hutan di bukit-bukit yang sudah gundul sehingga menjadi ancaman terjadinya bencana longsor. Karena itulah dia meminta agar izin pengelolaan hutan yang diberikan ke masyarakat bisa dicabut.
Dia sendiri menggagas Gerakan penanaman pohon beringin yang bisa menahan air dan mengcengkeram tanah. Namun, Gerakan ini butuh dukungan dari pemerintah karena rawan ditentang oleh warga yang mengelola hutan.
Menanggapi masalah itu, Komite II DPD RI, Badikenita Br Sitepu menyatakan dukungan penuh untuk melakukan penanaman pohon. Dia juga meminta pemerintah dan jajarannya membantu upaya ini.
Kunjungan Komite II Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI itu sendiri dimaksudkan untuk menyaring dan menindaklanjuti aspirasi masyarakat terkait penanggulangan bencana.
Hasil kunjungan kerja ini sebagai bahan rekomendasi kebijakan, guna mendorong penanganan bencana yang lebih cepat, tepat, dan terkoordinasi di Provinsi Bali, sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana.
Selain Badikenita Br Sitepu, hadir anggota Komite II lainnya, yakni Ni Luh Putu Ary Pertami Djelantik (Bali), H. Muslim M. Yatim, Lc., M.M (Sumatera Barat), serta Ir. Stefanus B.A.N. Liow, M.A.P (Sulawesi Utara).
Ni Luh Djelantik menegaskan, bencana banjir di Bli tidak hanya dipicu oleh faktor alam, tetapi juga oleh persoalan manusia seperti tata ruang yang buruk dan pengelolaan sampah yang tidak optimal.
“Ini harus menjadi perhatian bersama,” tegas Ni Luh Djelantik. (kanalbali/RFH)


