GIANYAR, kanalbali.id – Festival Air Suwat kembali digelar untuk ke-10 kalinya pada Rabu (1/1/2025). Kemeriahannya mengukuhkan keberadaan Desa Wisata Suwat sebagai destinasi unggulan di Gianyar.
Acara diawali dengan ritual di perempatan atau catus pata. Warga yang terdiri dari orang dewasa laki perempuan hingga anak-anak berjalan bertelanjang dada hanya mengenakan udeng, sarung dan selendang di pinggang.
Usai ritual, air dalam gentong tesebut dicampur dengan air yang berada di empat mobil damkar dan gentong-gentong yang ukurannya lebih besar. Dipimpin Bendesa Adat, siat yeh atau perang air pun dilakukan.
BACA JUGA: Dihempas Pandemi, Lan Ananda Bangkit Bersama Hipnoterapi
Warga laki perempuan hingga anak anak saling melempar air dengan gayung yang telah dibagikan panitia.
Hentakan gambelan baleganjur yang memacu semangat membuat suana menjadi semarak dan meriah. Semua warga basah, bersuka cita mensyukuri berkah yang dilimpahkan di desa tersebut.

Ditengah-tengah ratusan warga itu, sejumlah wisatawan mancanegara pun ikut meramaikan festival yang telah berlangsung 10 kali tersebut.
Setiap awal tahun warga selalu mengadakan siat yeh atau perang air. Perang air tersebut sebagai wujud syukur warga atas limpahan air yang memberikan kesejahteraan untuk warga. Dimana air di Suwat elain untuk keberlangsungan hidup, juga untuk objek wisata yang memberikan pendapatan untuk desa adat.
“Kami terus berdoa agar hasil usaha desa semakin besar sehingga manfaat yang diterima masyarakat pun bertambah. Festival ini adalah bagian dari proses menuju kesejahteraan bersama,” ujar Jro Bendesa Adat Suwat, Ngakan Putu Sudibya, Rabu (1/1).
Sebelum perang air di mulai, setiap tahun diberikan ruang berkreasi kepada pelaku seni, untuk tahun ini diawali dengan pementasan Tari Amerta Jiwa
“Air sebagai sumber kehidupan” . “Karya ini merupakan representasi dalam memuliakan alam,” kata koreografer I Gede Gusman Adhi Gunawan dari Sanggar Seni Gumiart. (kanalbali/IST)



Be the first to comment