Kapan Pesta Kesenian Bali di Buka dan Apa Tema yang Diangkat?

Pawai kesenian dalam pembukaan PKB ke-44. Tahun 2025 ini Pawai akan dilepas oleh Menteri Kebudayaan - ROB
Pawai kesenian dalam pembukaan PKB ke-44. Tahun 2025 ini Pawai akan dilepas oleh Menteri Kebudayaan - ROB

DENPASAR, kanalbali.id – Meski digelar rutin setiap tahun selama bulan Juni hingga Juli, Pesta Kesenian Bali selalu mengambil tema yang berbeda. Begitu juga penampilan dan suasana yang selalu memberikan kejutan, antusiasme masyarakat senantiasa sumringah tatkala evet kesenian terbesar di Bali ini mulai di buka.

Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-47 tahun 2025 siap memukau masyarakat dengan penampilan yang berbeda dan penuh makna. Dijadwalkan berlangsung dari 21 Juni hingga 19 Juli 2025, ajang tahunan ini menjadi panggung unggulan untuk memamerkan kekayaan seni dan budaya Bali. Berbagai persiapan intensif dilakukan untuk memastikan gelaran ini berjalan sukses dan meninggalkan kesan mendalam bagi pengunjung.

Peed Aya: Pembukaan Megah di Depan Monumen Bajrasandi

Tim Kurator PKB ke-47, Gede Nala Antara, dalam sebuah wawancara  Senin, 26 Mei 2025 mengungkapkan bahwa pembukaan PKB akan dimeriahkan dengan peed aya, pawai budaya yang digelar di depan Monumen Bajrasandi, Denpasar.

Peed aya ini menjadi simbol pembuka yang mencerminkan kekayaan tradisi Bali, sekaligus mengundang antusiasme masyarakat untuk menyaksikan rangkaian acara selama sebulan penuh.

Tema Jagat Kerthi: Harmoni Semesta Raya

Seluruh pagelaran seni dalam peed aya dan rangkaian PKB 2025 akan selaras dengan tema besar tahun ini, yaitu Jagat Kerthi: Loka Hita Samadaya, yang berarti Harmoni Semesta Raya. Tema ini merupakan penutup dari trilogi Sad Kerthi, khususnya Jagat Kerthi, yang mengandung makna mendalam tentang menjaga keseimbangan dan keharmonisan alam semesta—baik buana agung (alam besar) maupun buana alit (alam kecil dalam diri manusia). Tujuannya adalah mewujudkan kehidupan yang gemah ripah loh jinawi, tata tentram kerta raharja, sebuah visi kehidupan sejahtera, damai, dan harmonis.

Nuansa Baru: Desa Adat Jadi Bintang Pawai

Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, peed aya 2025 akan menonjolkan peran desa adat dari setiap kabupaten dan kota di Bali. “Desa adat adalah cerminan dunia kecil di Bali, lengkap dengan segala aspek keseniannya. Dalam pawai nanti, setiap kabupaten dan kota akan diwakili oleh desa adat dengan kekhasan masing-masing,” ujar Nala Antara.

Pendekatan ini menjadi sorotan utama, karena desa adat dianggap sebagai jantung kelahiran dan pelestarian kesenian Bali. Tradisi seni Bali, khususnya seni tradisional, lahir dan berkembang di desa adat, menjadikannya garda terdepan dalam menjaga warisan budaya pulau dewata.

Proses Seleksi Desa Adat yang Ketat

Nala Antara menjelaskan, tim kurator telah bekerja sama dengan pemerintah kabupaten dan kota untuk memilih desa adat yang akan mewakili wilayah masing-masing. “Pemerintah kabupaten dan kota paling memahami kondisi desa adat di wilayahnya,” katanya. Sebagai contoh, Kabupaten Karangasem dan Desa Gelgel di Klungkung disebut sebagai representasi puncak keemasan kebudayaan Bali, terutama pada masa pemerintahan Waturenggong. Desa-desa ini akan menampilkan kekayaan seni dan tradisi yang menjadi kebanggaan Bali.

PKB 2025: Wujud Pelestarian Budaya Bali

Pesta Kesenian Bali 2025 tidak hanya sekadar perayaan, tetapi juga wujud nyata komitmen melestarikan budaya dan seni tradisional Bali. Dengan melibatkan desa adat, PKB kali ini mengajak masyarakat untuk mengenal lebih dekat kekayaan budaya lokal sekaligus memahami pentingnya harmoni antara manusia dan alam semesta. Jangan lewatkan momen istimewa ini untuk menyaksikan pesona seni Bali yang autentik dan penuh makna! ***

Apa Komentar Anda?