‘Ci Sugih Cang Sing Pedih’: Martabat, Kekayaan, dan Seni Tidak Iri di Bali

Ilustrasi: foto Didi Suprapta/Unsplash
Ilustrasi: foto Didi Suprapta/Unsplash

Penulis: Angga Wijaya

Di warung kopi pinggir jalan, di bale banjar setelah rapat adat usai, atau di kolom komentar media sosial yang penuh foto liburan dan mobil baru, orang Bali kadang melontarkan satu kalimat pendek yang terdengar biasa saja, yakni ‘ci sugih cang sing pedih’. Kamu kaya, saya tidak marah atau iri.

Kalimat itu tidak diucapkan dengan suara tinggi. Ia tidak membawa amarah. Tidak juga menuntut simpati. Ia lebih mirip desahan napas yang ditata agar tetap terdengar sopan. Namun justru di situlah kekuatannya. Ia menolak tunduk, tanpa harus memukul meja.

Bagi orang luar, kalimat itu mungkin hanya basa-basi. Tapi bagi banyak orang Bali, ia adalah cara menjaga diri agar tidak terperosok ke jurang perbandingan. Sebab hidup di pulau ini semakin sering membuat orang bertanya bukan tentang siapa dirinya, melainkan siapa yang lebih kaya darinya.

Di tanah yang harga per meternya menyaingi kota besar, di pantai yang pelan-pelan berubah menjadi properti, di desa yang sawahnya menyusut menjadi brosur perumahan, kekayaan menjelma suara yang keras. Ia memanggil, memamerkan diri, mengetuk batin orang kecil setiap hari.

Dan di tengah kebisingan itu, seseorang berkata pelan, kamu kaya, saya tidak marah atau iri. Seolah sedang menenangkan dirinya sendiri agar tidak berubah menjadi orang lain.

Orang Bali mengenal kata sugih. Tapi sejak lama mereka juga mengenal kata becik, patut, rahayu. Baik, pantas, dan selamat, dalam arti seimbang. Kekayaan materi hanyalah satu bagian kecil dari gagasan hidup yang utuh. Ia bukan puncak. Ia hanya salah satu anak tangga yang sering licin.

Dalam kehidupan adat, kehormatan tidak diukur dari jumlah tanah atau panjang daftar aset. Ia diukur dari seberapa rajin seseorang hadir di banjar, seberapa ringan tangannya saat ada tetangga berduka, seberapa tulus ia ngayah di pura tanpa perlu disebut namanya.

Karena itu, orang bisa saja kaya, tapi tidak otomatis dihormati. Ia hanya disebut sugih. Sebuah kata yang dingin, netral, tanpa bunga pujian.

Sebaliknya, seseorang yang hidup pas-pas an, tapi selalu datang saat diperlukan, selalu siap memikul sesajen, selalu duduk paling akhir saat rapat agar orang lain kebagian tempat, bisa disebut linuwih. Istimewa. Dalam diam.

Pernyataan Martabat

Di titik inilah kalimat ‘ci sugih cang sing pedih’ menemukan maknanya. Ia bukan sekadar penyangkalan terhadap iri. Ia adalah pernyataan martabat. Sebuah garis tipis yang ditarik seseorang di tanah batinnya sendiri. ‘Aku tidak iri’,  artinya aku tidak menyerahkan harga diriku pada dompetmu.

Dalam kajian antropologi emosi, rasa iri sering disebut sebagai emosi sosial yang paling mudah menyulut kebencian. Ia bekerja diam diam, menggerogoti, lalu meledak dalam bentuk gosip, fitnah, bahkan kekerasan. Banyak kebudayaan mengembangkan cara untuk menundukkannya. Ada yang melalui ajaran agama, ada yang lewat norma, ada pula yang melalui bahasa.

Di Bali, bahasa bekerja seperti pagar bambu. Tidak tinggi, tidak kokoh, tapi cukup untuk menandai batas.

Ketika seseorang mengucapkan kalimat itu, ia sedang melindungi dirinya dari dua hal sekaligus. Dari keinginan untuk menjadi orang lain, dan dari godaan untuk membenci orang yang lebih beruntung.

Ini bukan kepasrahan yang merunduk. Ini berdiri pelan, tanpa perlu mengangkat dagu.

Namun kekayaan di Bali tidak pernah berdiri sendirian. Ia selalu datang bersama kewajiban sosial. Orang yang lebih mampu diharapkan lebih ringan mengeluarkan bantuan saat upacara, lebih sering menyumbang ketika pura direnovasi, lebih siap menalangi biaya saat tetangga tertimpa musibah.

Kaya dalam Perspektif Adat

Dalam kehidupan adat, kaya berarti sanggup menanggung lebih banyak.

Kekayaan yang tidak mengalir dianggap macet. Dan sesuatu yang macet, dalam kosmologi lokal, sering disamakan dengan sakit. Maka tidak aneh jika orang kaya yang kikir lebih cepat kehilangan wibawa dibanding orang miskin yang murah senyum dan mudah menolong.

Di sini, harta bukan hanya hak milik. Ia semacam titipan yang membawa daftar kewajiban panjang, meski tidak pernah ditulis di atas kertas.

Karena itu pula, kalimat ‘ci sugih cang sing pedih’ kerap mengandung makna lanjutan yang tidak diucapkan; silakan kamu kaya, asal jangan lupa, kekayaan juga punya utang pada sesama

Masalahnya, Bali hari ini tidak lagi sepenuhnya hidup di dalam dunia adat yang rapat. Pariwisata, investor, dan apa yang sering disebut sebagai orang kaya baru datang membawa logika yang berbeda tentang hidup layak dan hidup berhasil.

Kekayaan tidak lagi tumbuh perlahan dari sawah, kios kecil, atau warisan keluarga, tetapi melompat dari kontrak, saham, vila harian, dan unggahan media sosial yang dihitung dengan statistik. Di titik ini, uang bukan hanya alat tukar, melainkan bahasa baru yang memaksa semua orang belajar cepat-cepat, atau tersingkir pelan-pelan.

Bagi banyak warga lokal, perubahan itu terasa seperti dipindahkan dari rumah sendiri ke ruang tamu yang asing, masih boleh duduk, tetapi tidak lagi menentukan arah percakapan.Masalahnya, Bali hari ini tidak lagi sepenuhnya hidup di dalam dunia adat yang rapat. Pariwisata memperkenalkan jenis kekayaan baru yang datang cepat, besar, dan sering kali tidak tumbuh dari tanah sosial yang sama.

Investor, pemilik vila, pedagang tanah, perantara properti, seleb media sosial dengan latar kolam renang biru, semua itu membentuk kelas baru. Kekayaan mereka sah. Kerja mereka mungkin keras. Tapi nilai yang mereka bawa sering kali berbeda.

Pamer tidak lagi dianggap janggal. Ruang privat lebih dihormati daripada kebersamaan. Untung dan rugi menjadi ukuran tunggal. Di sinilah gesekan terjadi. Ketika sawah dijual, bukan hanya tanah yang hilang. Jalur air terputus. Jalur upacara terganggu. Jalur ingatan terpotong.

Ketika pantai dipagari, bukan hanya wisatawan yang diseleksi, tetapi juga warga yang sejak kecil bermain di sana. Di tengah perubahan itu, kalimat ‘ci sugih cang sing pedih’ berubah nada. Ia tidak lagi hanya menjaga batin, tetapi juga menjadi sindiran yang sopan. Kritik yang dibungkus senyum. Silakan kamu kaya, tetapi jangan berdiri di atas hidup kami.

Kesejahteraan, bagi banyak orang Bali, bukanlah soal berapa lantai rumah atau merek mobil di garasi. Ia lebih sering dirasakan sebagai kemampuan tidur tanpa rasa takut, berjalan ke rumah tetangga tanpa canggung, datang ke pura tanpa merasa asing, pulang tanpa membawa beban di dada.

Seorang petani dengan sawah kecil, keluarga rukun, dan jadwal ngayah yang teratur, bisa merasa lebih cukup daripada pemilik vila yang hidup di balik pagar tinggi dan kamera pengawas. Di sini, bahagia bukan sesuatu yang bisa dipamerkan. Ia hanya bisa dirasakan.

Dan barangkali karena itulah, orang Bali tidak terlalu tergesa mengagungkan kekayaan. Mereka tahu, harta mudah datang, mudah pula pergi. Yang lebih sulit dipulihkan adalah rasa cukup.

Ketika tanah dijual, rumah berubah, dan wajah desa berganti, sering kali hanya bahasa yang tersisa sebagai tempat berlindung. Ungkapan kecil, candaan pendek, kalimat sederhana yang diwariskan dari mulut ke mulut. ‘Ci sugih cang sing pedih’ adalah salah satunya.

Ia tidak menghentikan pembangunan. Ia tidak membatalkan izin hotel. Ia tidak mengembalikan sawah yang sudah menjadi beton. Tetapi ia menjaga agar orang kecil tidak ikut runtuh di dalam pikirannya sendiri. Tidak iri bukan berarti tidak sadar. Tidak pedih bukan berarti tidak terluka.

Orang Bali bisa berkata tidak iri, sambil tetap menolak saat kuburan adat digeser. Bisa mengaku tidak sakit hati, sambil tetap marah ketika mata air dipagari. Bisa tersenyum di depan, sambil menggenggam kecewa di dalam.

Perlawanan Sunyi

Dalam antropologi, ini sering disebut sebagai perlawanan sunyi. Perlawanan yang tidak berteriak, tetapi bertahan. Yang tidak memukul, tetapi menolak menyerah. Kalimat itu adalah bentuk kecil dari keteguhan; aku tidak akan membenci, tapi aku juga tidak akan lenyap.

Di zaman ketika manusia mengkur dirinya dari jumlah pengikut dan harga barang yang dikenakan, ungkapan ini terdengar seperti suara dari masa lain. Masa ketika orang lebih sibuk menjaga hubungan daripada membangun citra.Mungkin inilah yang bisa disebut kearifan yang tidak dipamerkan. Tidak menolak kekayaan, tetapi juga tidak menyembahnya. Tidak memusuhi orang kaya, tetapi tidak menjadikan mereka pusat semesta.

Di pulau yang pelan-pelan dijual per meter, kalimat ini menjadi semacam doa pendek yang diucapkan tanpa menengadah; biarlah dunia berlomba, aku tetap di sini. Dan di tengah arus besar uang, beton, dan promosi, seseorang masih bisa berkata dengan tenang; kamu kaya, saya tidak marah atau iri. Bukan karena hidupnya mudah. Melainkan karena ia memilih untuk tidak menyerahkan dirinya kepada ukuran orang lain.

Ci sugih cang sing pedih bukan sekadar kalimat penyangkal iri hati, melainkan semacam pernyataan sunyi tentang cara seseorang berdiri di hadapan dunia yang makin gemar mengukur nilai manusia dengan angka, sertifikat, dan saldo rekening. Di dalamnya tersimpan latihan panjang untuk menahan diri agar tidak terperosok ke dalam perlombaan yang melelahkan, untuk tidak ikut mabuk ketika kekayaan dipuja berlebihan, untuk tetap waras ketika ketimpangan menjadi pemandangan sehari-hari.

Ia adalah seni menjaga jarak, sekaligus seni merawat martabat, agar seseorang tidak berubah menjadi bayangan orang lain hanya karena hidupnya tak semewah tetangga, tak segemerlap brosur vila, atau tak sekeras suara uang yang kini semakin sering terdengar di pulau ini.(*)

 

Apa Komentar Anda?