Penulis: Angga Wijaya *
SAYA tidak duduk di kursi penonton ketika Sanghyang Dedari Tunjung Biru Prabawan Dewi Saraswati dipentaskan dalam rangkaian Bulan Bahasa Bali di SMAN 1 Kuta Selatan, Sabtu, 14 Februari 2026.
Saya menyaksikannya lewat layar, potongan dokumentasi, dan terutama dari cerita panjang yang mengalir melalui wawancara daring bersama Ni Putu Sri Sukmawati, S.Pd, guru Seni Budaya yang akrab disapa Sukma Uma.
Dari seberang layar, Sukma Uma berkisah dengan mata yang berbinar. Bukan semata tentang sebuah pertunjukan, melainkan tentang proses, tentang keberanian seorang siswa mengirim pesan di tengah malam, dan tentang keyakinan bahwa ide sekecil apa pun layak diperjuangkan.
Pertunjukan itu berangkat dari kegelisahan sederhana namun mendasar. Kisah Dewi Saraswati yang bertapa yoga samadhi, mengeluarkan sakti jnana, lalu didatangi para Dewata Nawa Sanga untuk turun ke jagat raya.
Keangkaramurkaan manusia yang lupa pada ajaran sastra serta tak lagi mampu membedakan palemahan, pawongan, dan parahyangan menjadi latar turunnya sang Dewi. Ia menjelma Dedari Tunjung Biru Prabawan Dewi Saraswati untuk memberi pencerahan dan tutur.
\Gagasan itu datang dari seorang siswa bernama I Made Gio Devtanio Wijaya, yang menggunakan nama panggung laliku.mas. Ia bukan hanya penampil utama, tetapi juga penggagas karya. Sukma Uma masih mengingat betul bagaimana ide itu pertama kali sampai kepadanya.

“Kalau murid saya sudah punya ide, mau malam hari, mau pagi hari buta, kalaupun dia punya ide, dia langsung chat saya atau telepon saya,” ujarnya melalui sambungan daring.
“Mereka akan sampaikan seperti ini, Mak, aku punya ide sebuah garapan tari seperti ini. Dia gambarkan idenya, kemudian dia minta pendapat saya, apakah kira-kira bisa diwujudkan,” imbuh Sukma Uma.
Saya membayangkan layar ponsel yang menyala di tengah malam. Seorang remaja yang tidak ingin idenya menguap begitu saja. Dalam dunia yang sering menertawakan mimpi anak muda sebagai angan-angan, pesan semacam itu adalah bentuk keberanian.
Bagi Sukma Uma, pesan seperti itu bukan gangguan. Justru sebaliknya, ia melihatnya sebagai energi.
“Saya selalu katakan kepada murid saya bahwa apapun keinginan kalian itu, kalian harus berani mewujudkan,” katanya. “Apresiasi akan datang kalau kita mau bekerja dan berusaha. Kalaupun bukan saat ini dapatkan apresiasi, next time kita pasti akan mendapatkan apresiasi,” ia menambahkan.
Kalimat itu terdengar seperti prinsip yang dipegangnya dalam mendampingi siswa. Bukan sekadar menyetujui ide, melainkan mengawal prosesnya.
Menurutnya, waktu persiapan karya ini tidak panjang. “Untuk prosesnya mungkin sekitar satu setengah bulan kita benar-benar intens untuk menggarap itu. Untuk menggodok konsepnya, untuk mencari musiknya yang bisa dipergunakan, untuk latihan bersama penari-penari yang sudah dipilih,” kata Sukma Uma.
Satu setengah bulan bukan waktu yang panjang untuk sebuah garapan yang memadukan tari, tembang, pedalangan, dan drama. Namun justru di situlah letak keberanian mereka. Tidak menunggu segala sesuatu ideal, melainkan bekerja dengan apa yang ada.
Sukma Uma menjelaskan bahwa ia mengambil peran sebagai penata gerak dan pemberi konsep gerakan. Selebihnya, siswa-siswa terlibat aktif dalam pengisian tembang, iringan, hingga konsep dramatik.
“Apa yang bisa saya lakukan adalah saya membantu untuk menata gerak. Jadi sebagai penata gerak atau memberikan konsep gerakan kepada mereka. Kemudian mereka juga yang mengisi iringan lagunya atau tembangnya, kemudian yang mengisi pedalangannya. Jadi garapan ini komplit sekali. Ada dalangnya, ada tembangnya, kemudian ada tarinya, dan ada konsep dramanya,” jelasnya.
Dalang dalam pementasan ini adalah Kevin. Tata rias ditangani Jerry co. Crew dipercayakan kepada Redi. Penari tergabung dalam Insan Muda Osaka. Dukungan datang dari ekstrakurikuler teater, pesantian, dan tari SMAN 1 Kuta Selatan, serta Broadcasting Osaka.
Kolaborasi itu, dari cerita Sukma Uma, bukan sekadar teknis produksi. Ia menjadi ruang belajar bersama. Setiap elemen menyumbang peran, setiap siswa belajar memikul tanggung jawab.
Saya menanyakan kepadanya, mengapa kisah Dewi Saraswati yang dipilih. Ia menjelaskan bahwa keprihatinan terhadap lunturnya pemahaman sastra dan nilai-nilai dasar kehidupan menjadi pijakan.
Kisah turunnya Dewi Saraswati menjadi simbol pengingat. Bahwa ilmu dan sastra bukan hanya pelengkap seremoni, melainkan fondasi peradaban. Ketika manusia lupa membedakan palemahan, pawongan, dan parahyangan, keseimbangan hidup pun goyah.
Dalam pementasan ini, simbol juga hadir lewat pilihan warna kostum. Dominasi putih dan kuning bukan tanpa alasan.
“Kami menggunakan dominan warna putih, itu menunjukkan sebuah hati yang bersih, sebuah kesucian, sebuah keinginan yang baik. Kemudian warna kuning itu sudah pastilah kita tahu bahwa di Bali itu warna putih kuning itu melambangkan satu kesucian,” ujarnya.
Ia berharap simbol itu tidak berhenti sebagai visual panggung. “Harapannya semoga segala hal yang baik dan bersih itu selalu ada dan nyantol di kepala dan di hati kita,” tambahnya.
Dari layar laptop saya, kata-kata itu terasa lebih dari sekadar penjelasan artistik. Ia adalah doa yang diselipkan dalam karya.
Sukma Uma juga berbicara tentang keraguan yang sering menyelimuti siswa. Ia melihat banyak potensi yang tertahan oleh rasa takut.
“Murid itu punya potensi tapi ragu untuk mengungkapkan. Murid itu punya keinginan tapi merasa bahwa nanti tidak ada yang mendukung. Harus ada yang berani mendukung, harus ada yang berani berkata bahwa kamu pasti bisa dan aku ada selalu di sampingmu atau di belakangmu,” pungkasnya.
Pernyataan itu mengingatkan saya bahwa di balik setiap pertunjukan sekolah, ada dinamika psikologis yang tidak sederhana. Ada kecemasan, ada kekhawatiran gagal, ada ketakutan ditertawakan. Dalam konteks itu, peran guru menjadi sangat krusial.
Ia tidak hanya mengajarkan teknik tari atau teori seni, tetapi menghadirkan rasa aman.
“Saya sebagai guru hanya mendampingi dan membantu untuk mewujudkan ide-ide mereka. Sekecil apapun, sesederhana apapun ide dari murid-murid saya itu adalah sebuah batu berlian yang bisa diasah menjadi sebuah maha karya,” ujarnya.
Batu berlian. Ungkapan itu terus terngiang dalam pikiran saya setelah wawancara usai. Di tengah arus besar modernitas yang kerap membuat tradisi terasa kuno, justru di ruang-ruang sekolah seperti inilah batu-batu itu diasah.
Laliku.mas, sebagai penampil utama sekaligus penggagas, menjadi contoh bahwa generasi muda tidak selalu apatis terhadap sastra dan nilai. Mereka hanya butuh ruang, butuh pendamping, dan butuh keyakinan bahwa suara mereka penting.
Dari ide yang dikirim di tengah malam hingga akhirnya berdiri di panggung Bulan Bahasa Bali, perjalanan Sanghyang Dedari Tunjung Biru Prabawan Dewi Saraswati bukan semata cerita tentang pertunjukan. Ia adalah cerita tentang keberanian memulai, tentang guru yang membuka pintu, dan tentang siswa yang memilih untuk tidak diam.
Saya memang tidak menyaksikan langsung gemuruh tepuk tangan di aula sekolah itu. Namun dari cerita yang mengalir lewat layar, saya merasakan satu hal yang sama kuatnya, yakni keyakinan bahwa sastra dan ajaran tidak akan benar-benar hilang selama masih ada anak muda yang berani berkata, “Mak, aku punya ide.” (kanalbali/AWJ)
*Angga Wijaya adalah penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai


