Ya, sampah makin menjadi topik pembicaraan penting. Hanya saja, bicara saja belum cukup. Karena solusinya membutuhkan aksi sekecil apa pun itu. Edukasi ekologis pun makin menyebar di ruang sekolah Kota Denpasar, Bali.
MEREKA pun mulai mengkreasikan edukasi ekologis melalui beragam kegiatan, memulai dengan pembuatan ekoenzim sampai peduli isi jualan kantin. Program-program itu pun menjadi ruang juang edukasi guru-guru sekolah Denpasar kekinian. Mereka pun gebrasang (baca bahasa Bali : membangkitkan) semangat menjaga alam dari usia dini sampai sesama guru.
Kepala SMP Negeri 13 Denpasar Ni Made Sukarini mengatakan kantin menjadi awal ide perlunya mengolah sampah serta mengelola kantin sehat. “Saat itu tengah Covid dan sekolah ini juga masih baru. Sehingga kami merintis kantin bersama-sama guru,” kata Sukarini,
Awalnya kantin menjual buah-buahan yang diolah menjadi makanan rujak serta buah potong. Semua disediakan oleh guru untuk anak-anak yang ingin jajan di kantin.
Lalu, lanjut Sukarini, sampah kulit buah menumpuk dan muncul ide untuk berlatih membuat ekoenzim. Jadilah datang Tim Relawan Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (LLHPB) Pimpinan Wilayah Aisyiyah Bali untuk melatih.
Selanjutnya, mereka bekerja sama dengan 2022 diawali ikut pelatihan gerakan pembaharuan bersama Ashoka Indonesia dan diminta membuat rencana aksi. Kantin pun menjadi ide rencana aksi dengan dari kantin membuat ekoenzim sampai sambun cair dan padat.
“Seru ternyata. Kami bersama guru berlatih ekoenzim dan berpraktik baik sehingga bisa ditularkan ke siswa-siswa. Kami pun sempat membagi-bagikan ke orang tua siswa hasil panenan ekoenzim saat penerimaan rapot sebagai apresiasi kepada siswa,” kata Sukarini.





Dari ekoenzim dan produknya, Sukarini pun sepakat bersama guru untuk mendisiplinkan siswa membuang sampah serta mengolahnya menjadi hal berguna. Termasuk, mengedukasi untuk diet sampah.
Tong-tong sampah hanya ada di lantai bawah atau di halaman sekolah dari sebelumnya sempat ditaruh di setiap lantai sekolah yang terdapat 3 lantai.
“Ya, awalnya memang sulit mengajak disiplin. Ada saja alasannya. Tapi lambat laun guru dan siswa terbiasa serta mulai makin sedikit menghasilkan sampah di kelasnya masing-masing. Dari pengumpulan sampah botol plastik sampai tetra pack itu haslinya lumayan secara rupiah untuk menambah dana kegiatan siswa,” kata Sukarini.
Nah, Sukarini tak sendiri. Ia bersama Nurul Ekawati, guru matematika di SMP tersebut pun mencari ide soal gerakan pembaharuan saat lolos sebagai Fellow Ashoka. Menurut Nurul, prilaku siswa belajar matematika juga perlu pembaharuan. Ia mengkreasikan belajar matematika seperti aljabar melalui gambar-gambar komik.
“Ya, saya pikir siswa masa kini itu berbeda dengan siswa zaman saya atau sebelumnya. Siswa sekarang ini perlu suasana dan materi belajar yang lebih asik menarik. Dengan dibantu aplikasi Canva, saya menjadikan pelajaran aljabar di matematika itu menggunakan gambar komik. Sederhana, sih, tapi siswa senang,” kata Nurul.
Ia pun menyadari saat pelatihan ekoenzim pun membutuhkan konsep matematika. Maka ia pun tengah bereksperimen memanfaatkan limbah sampah kain (perca) untuk dijadikan ragam manfaat seperti sarung bantal hingga selimut, dengan hitungan matematika.
Ruang juang juga terus dijalankan Erna Susiana. Ia adalah pensiunan guru matematika SMP Negeri 2 Denpasar. Saat pandemi Covid, ia (sebelum pensiun) bersama sesama guru di SMP-nya menekuni pembuatan dan pemanfatan ekoenzim.
Hingga memasuki masa pensiun hingga awal 2026, Erna memilih setia gebrasang edukasi ekologi dan begabung Tim Relawan Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (LLHPB) Pimpinan Wilayah Aisyiyah Bali, yang diketuai oleh Setyarti. Lembaga yang lahir sekitar 10 tahun ini memang fokus pada penyelamatan alam, manajemen bencana, serta kampanye lingkungan.
Senin (30/1/2026) pagi, dengan suasana ceria, Erna bersama rekan satu tim LLHPB Pimpinan Wilayah Aisyiyah Bali Luluk Prihandari mengedukasi olah sampah kulit buah kepad guru dan siswa RA (setara taman kanak-kanak) Al Kalam, Kota Denpasar. Sebagai awalan, keduanya mengajak siswa bergantian memasukan kulit-kulit pisang usai memakan daging buahnya ke dalam campuran air dan gula pasir di sebuah drum berukuran 10 liter, di halaman sekolah.
“Ayo, anak-anak sehabis makan pisang, kulitnya dicuci, dikumpulkan, dipotong-potong, lalu masukan ke campuran air dengan gula tadi ya… Ayo, sini…sini, bergantian, ya,” kata Bu Erna yang diikuti para siswa semangat. Ya, pagi itu mereka belajar membuat ekoenzim dari beragam kulit buah-buahan.




Semangat makin seru saat orang tua juga diajak serta belajar. Ibu-ibu dari anak-anak pun turut serta berbaur bersama tim relawan, anak dan guru mulai dari menyiapkan ember, air, mencuci sampah buah, hingga mencampur dengan bahan lainnya. Mereka membuat 30 liter cairan calon ekoenzim untuk dipanen 3 bulan atau 90 hari kedepan.

“Nah, siapkan dulu drum-nya yang bersih. Ibu anak-anak bisa membantu memotong-motong kulit buah yang sudah dicuci ya dan membuat cairan gula pasir pengganti molase,” ajak Ibu Erna.
Ia menjelaskan cairan ekoenzim kalau membuatnya benar dari minimal 5 sampah buah dan takaran gula serta airnya, fermentasinya tidak berbau busuk. Baunya bisa mirip fermentasi tape atau tuak atau arak. Dan kulit buah yang sebaiknya tidak dipakai adalah kulit yang bersisik tajam (salak), berduri (durian), berminyak (alpukat).
Eco enzyme atau ekoenzim merupakan cairan dari fermentasi sampah organik (buah dan sayuran) yang dicampur dengan gula merah/putih/molase dan air dan diamkan selama minimal 3 bulan atau 90 hari.
Rumus perbandingannya 1:3:10, yaitu 1 untuk gula, 3 untuk buah dan 10 untuk air bersih yang diteliti oleh seorang pendiri asosiasi pertanian organik Thailand bernama Dr. Rosukon Poompanvong dan dikenalkan ke masyarakat oleh Dr. Joean Oon, seorang Naturopathi dari Penang Malaysia, dan tidak dipatenkan sehingga diharapkan siapa pun tidak memperjualbelikan hasil panenanya.

Kepala RA Al Kalam Denpasar Rachmah Permata Ilahi dan Guru Dwi Cici Febrianti senang melihat antusias dan semangat anak-anak untuk praktik membuat cairan pemanfaatan sampah buah. Harapan, adanya keberlanjutan dengan praktik pemanfaatan panen cairan ekoenzim.
“Seru sekali. Senang saya melihat anak-anak bersemangat. Semangat ini yang kami harapkan agar sejak dini mengenal pemanfaatan sampah organik dari buah. Kami kepala sekolah dan guru pun senang juga bisa bersama-sama belajar. Apalagi, ibu-ibu siswa juga hadir berpraktik bersama. Terima kasih, Bu, sampai bertemu lagi praktik pemanfaatan panen ekoenzim,” kata Rachmah dengan penuh gembira.
Usai berlatih dan bel pulang sekolah pun tiba. “Bu…nanti kalau di rumah, mulai pisah-pisah sampah buahnya, ya…Bu…. Kita bikin sendiri eko…eh eko apa ya Bu, eko yang tadi itu, kita belajar” kata salaj satu kepada ibunya. “iya, ekoenzim, sayang….,” jawab ibunya sambil bergandengan tangan untuk pulang.
Tak berhenti di siswa TK dan SMP, siswa sekolah dasar (SD) di Denpasar, juga mulai bergerak peduli ekologi. Salah satu lembaga swadaya masyarakat (LSM), Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) Bali, turut aktif mengedukasi guru dan siswa SD melalui kantin sehat.

Jualan nasi kuning di kantin sekolah tanpa pembungkus, di kanti SD Negeri 11 Padangsambian, Denpasar. (Foto : dokumentasi PPLH Bali)

Koordinator Kantin Sekolah Sehat Program Foof Smart City (FSC)Qinnara Pratita memotori beberapa sekolah di Denpasar. Ia bersama tim berfokus untuk mengembangkan kantin sekolah sehat. Ya, kami mengajak dan membangkitkan semangat sekolah agar semua makanan kantin diolah langsung dan dibuat fresh oleh petugas kantin.
“Menu kantin bervariasi dan ada beberapa berdasarkan minat selera pangan anak. Yang pasti, berusaha tidak lagi menggunakan plastik sekali pakai sebagai wadah penyajian, melainkan menggunakan wadah guna ulang seperti piring, gelas kaca, sendok bukan plastik. Termasuk membeli minuman memakai tumbler yagn dibawa siswa dari rumahnya,” kata Qinnara, sambil memperlihatkan sejumlah dokumentasi kegiatannya. (KanalBali.id)
Penulis: Ayu Sulisyowati
* Tulisan ini mendapatkan dukungan beasiswa dari Yayasan Ashoka dan Tempo Institute.


