KLUNGKUNG, kanalbali.id – Memperingatai Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB) Tahun 2026, berbagai pihak di Indonesia kembali menegaskan komitmennya dalam membangun masyarakat yang tangguh dan siap menghadapi bencana.
Salah-satunya melalui kegiatan dipusatkan di Desa Jumpai, Kecamatan Klungkung, Kabupaten Klungkung pada Rabu (29/4/2026).. Program ini dilaksanakan oleh Yayasan BAWA dengan dukungan penuh dari International Fund for Animal Welfare (IFAW), serta mendapat dukungan aktif dari Pemerintah Desa Jumpai.
Saat ini, Desa Jumpai telah membentuk Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) yang memiliki tugas pokok dan fungsi dalam melakukan seluruh kegiatan penanggulangan bencana baik dalam fase sebelum, saat dan sesudah bencana terjadi.
Selain itu, Desa Jumpai telah merampungkan kajian risiko bencana untuk desa mereka yang juga dilengkapi dengan pengkajian kesejahteraan/kesehatan hewan sebagai komponen pendukung dari kajian risiko yang dilakukan.
Upaya mengintegrasikan komponen pengurangan risiko bencana dengan kesejahteraan hewan merupakan hal yang baru bagi Bali, dimana upaya ini menggunakan pendekatan one-health yang mengolaborasikan kesehatan manusia, kesehatan hewan dan kesehatan lingkungan.
Saat ini, Desa Jumpai sudah merampungkan peta evakuasi sederhana yang dibuat secara partisipatif oleh warga masyarakat dan juga FPRB Desa Jumpai.
Peta evakuasi ini juga menjadi dasar dalam penyusunan prosedur evakuasi hewan dalam situasi darurat. Prosedur ini memuat segala tindakan yang wajib dilakukan oleh warga masyarakat dan juga peternak untuk memastikan hewan mereka dapat dievakuasi dengan aman dan tetap memperhatikan kaidah kesejahteraan hewan.
Simulasi gempa bumi yang melibatkan sekitar 200 peserta yang terdiri dari Forum Pengurangan Risiko Bencana Desa Jumpai, siswa dan guru SD Negeri Jumpai serta perwakilan masyarakat.
Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan respons cepat dan tepat dalam menghadapi situasi darurat di lingkungan desa. Selain itu, simulasi ini bertujuan untuk menguji dokumen penjabaran tugas masing-masing regu di Forum PRB dan menguji skenario evakuasi warga berikut dengan hewan peliharaan dan ternaknya.
Simulasi mandiri ini dimaksudkan untuk dapat melihat kapasitas respon FPRB Desa Jumpai tanpa bergantung dari pihak-pihak eksternal karena dalam situasi darurat, warga masyarakatlah yang menjadi garda terdepan dalam melakukan tindakan tanggap darurat.
Kegiatan ini juga dihadiri oleh Perwakilan BPBD Kabupaten Klungkung dan Kepala UPTD. Puskesmas Klungkung 1. Dalam sambutannya, beliau menegaskan bahwa kesiapsiagaan bencana bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, melainkan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat.
“Melalui kolaborasi yang kuat antara pemerintah dan masyarakat, kita dapat membangun budaya siap untuk selamat sesuai dengan tema Hari Kesiapsiagaan Bencana tahun ini dimana kita harus bersatu dalam siaga dan tangguh menghadapi bencana,” ujarnya.
Peringatan Hari Kesiapsiagaan Bencana 2026 diharapkan mampu meningkatkan kesadaran, kewaspadaan, serta kesiapan masyarakat dalam menghadapi berbagai potensi bencana. Dengan semangat kebersamaan, Indonesia terus bergerak menuju masyarakat yang lebih tangguh, adaptif, dan siap untuk selamat.
(kanalbali/RLS )


