Bumi sebagai Rahim Kehidupan; Menelisik Karya Keramik Genesis Ida Ayu Gede Artayani

Ida Ayu Gede Artayani. bersama karya keramiknya - IST
Ida Ayu Gede Artayani. bersama karya keramiknya - IST

Rahim menjadi salah satu simbol paling purba dalam sejarah manusia. Jauh sebelum manusia mengenal bahasa, agama, negara, bahkan kebudayaan,

Oleh Angga Wijaya*

 SETIAP kebudayaan memiliki kisah tentang awal kehidupan. Ada yang memulainya dari sebutir telur kosmis, ada yang mengisahkannya sebagai penciptaan langit dan bumi, ada pula yang meyakini bahwa manusia berasal dari tanah.

Berbeda-beda bentuknya, tetapi semuanya bertemu pada satu kesadaran yang sama, bahwa kehidupan tidak pernah lahir begitu saja. Ia selalu berawal dari sebuah ruang yang memungkinkan pertumbuhan.

Barangkali karena itulah rahim menjadi salah satu simbol paling purba dalam sejarah manusia. Jauh sebelum manusia mengenal bahasa, agama, negara, bahkan kebudayaan, setiap kehidupan terlebih dahulu bertumbuh di dalam ruang yang gelap, hangat, dan melindungi.

Rahim bukan sekadar organ biologis, melainkan lambang tentang asal-usul, harapan, sekaligus keberlanjutan.

Simbol itulah yang menjadi pusat perhatian dalam karya keramik Genesis karya Ida Ayu Gede Artayani. Dibentuk dari stoneware clay, karya ini menghadirkan bentuk yang mengingatkan pada rahim dengan figur janin di salah satu sisinya.

Pada sisi lain tampak dua wajah, laki-laki dan perempuan, yang menyerupai topeng. Menurut penjelasan perupa, janin tersebut melambangkan awal kehidupan dan keberlanjutan generasi, sementara kedua wajah merepresentasikan penyatuan dua unsur yang melahirkan kehidupan.

Rahim yang dihadirkan bukan hanya rahim seorang ibu, tetapi metafora “Rahim Ibu Bumi”, ruang tempat seluruh kehidupan bertumbuh.

Karya keramik Ida Ayu Gede Artayani. dalam pameran bertajuk Genesis - IST
Karya keramik Ida Ayu Gede Artayani. dalam pameran bertajuk Genesis – IST

Pilihan simbol itu terasa menarik karena lahir pada saat dunia sedang menghadapi krisis ekologis yang semakin nyata. Hampir setiap hari manusia membaca berita mengenai perubahan iklim, hutan yang terus menyusut, pencemaran sungai, atau cuaca ekstrem yang datang silih berganti.

Persoalan-persoalan tersebut biasanya disampaikan melalui angka, grafik, atau laporan ilmiah. Seni memilih jalan yang berbeda. Ia tidak memulai pembicaraan dari bencana, melainkan dari kelahiran.

Cara itu membuat Genesis terasa lebih sunyi, tetapi justru lebih mengendap. Alih-alih menunjukkan bumi yang sedang rusak, Ida Ayu Gede Artayani menghadirkan bumi sebagai rahim.

Pergeseran sudut pandang ini penting. Rahim bukan sesuatu yang dapat dieksploitasi. Rahim adalah ruang yang dijaga karena darinyalah kehidupan memperoleh kesempatan untuk tumbuh. Ketika bumi dipahami sebagai rahim, hubungan manusia dengan alam berubah secara mendasar.

Alam tidak lagi diposisikan sebagai sumber daya yang dapat diambil tanpa batas, melainkan sebagai ruang yang memungkinkan manusia sendiri tetap hidup.

Di sinilah letak kekuatan karya ini. Ia tidak menggurui. Tidak pula menghadirkan slogan-slogan penyelamatan lingkungan. Karya ini hanya menggeser cara kita memandang bumi. Pergeseran yang tampak sederhana itu sesungguhnya mengubah seluruh cara berpikir kita mengenai hubungan manusia dengan alam.

Begitu pula pilihan medium keramik. Di tengah perkembangan seni kontemporer yang semakin akrab dengan teknologi digital, video, atau instalasi multimedia, tanah liat mungkin tampak sebagai material yang sederhana.

Namun justru kesederhanaan itulah yang memberi kekuatan simbolik pada Genesis. Tanah adalah material yang sejak ribuan tahun lalu menemani kehidupan manusia. Dari tanah lahir tempayan yang menyimpan air, periuk yang memasak makanan, hingga berbagai benda ritual yang menghubungkan manusia dengan dunia spiritual.

Tanah tidak pernah sekadar material. Ia selalu membawa ingatan. Karena itu, ketika tanah dibentuk menjadi rahim, karya ini seperti sedang mempertemukan dua asal-usul sekaligus: manusia yang berasal dari rahim dan manusia yang berasal dari tanah. Dua metafora itu bertemu dalam satu medium yang sama.

Boleh jadi, hubungan manusia dengan tanah merupakan salah satu hubungan paling tua dalam sejarah peradaban. Sebelum mengenal tembok beton dan gedung pencakar langit, manusia telah lebih dahulu membangun hidupnya di atas tanah.

Dari tanah tumbuh tanaman yang menjadi sumber pangan. Dari tanah pula manusia mengambil bahan untuk membuat rumah, peralatan hidup, dan berbagai benda yang mengiringi perjalanan kebudayaannya. Bahkan setelah kehidupan berakhir, manusia kembali dipeluk oleh tanah.

Kesadaran itulah yang diam-diam bekerja dalam Genesis. Material tidak dipilih karena mudah dibentuk atau memiliki kualitas estetis tertentu. Tanah liat menjadi bagian dari narasi yang ingin dibangun.

Ia bukan sekadar medium, melainkan metafora. Ketika dibakar, tanah memang berubah menjadi keramik yang keras. Namun, ingatan tentang asal-usulnya tidak pernah hilang. Ia tetap membawa jejak bumi.

Pilihan tekstur pada Genesis memperkuat kesan bahwa karya ini tidak sedang mengejar keindahan yang serba sempurna. Permukaannya dibiarkan memperlihatkan lipatan, tonjolan, dan guratan yang mengingatkan pada bebatuan yang tergerus waktu, batang pohon yang menua, atau tanah yang retak setelah musim kemarau.

Jejak-jejak itu bukan cacat yang harus disembunyikan, melainkan bagian dari bahasa visual yang dibangun perupa.

Karya keramik Ida Ayu Gede Artayani. dalam pameran bertajuk Genesis - IST
Karya keramik Ida Ayu Gede Artayani. dalam pameran bertajuk Genesis – IST

Dalam banyak karya keramik dekoratif, permukaan yang halus sering menjadi ukuran keberhasilan. Genesis justru bergerak ke arah yang berbeda. Ida Ayu Gede Artayani mempertahankan karakter materialnya sehingga tanah tetap terasa sebagai tanah.

Pilihan artistik semacam ini membuat karya tidak kehilangan kedekatannya dengan alam. Penonton tidak hanya melihat sebuah bentuk, tetapi juga seolah masih dapat membayangkan asal-usul material yang digunakan untuk membangunnya.

Keputusan itu terasa penting karena tema yang diangkat bukan sekadar tentang kelahiran manusia, melainkan tentang hubungan manusia dengan bumi. Akan terasa janggal apabila gagasan mengenai alam justru disampaikan melalui material yang kehilangan seluruh sifat alaminya.

Dalam Genesis, bentuk, tekstur, dan warna saling menguatkan sehingga medium menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari makna karya.

Pada sisi belakang karya tampak dua wajah manusia yang menyerupai topeng. Menurut penjelasan perupa, kedua wajah tersebut melambangkan penyatuan laki-laki dan perempuan sebagai sumber lahirnya kehidupan.

Dalam pembacaan filosofis, simbol itu merujuk pada konsep Purusha dan Prakriti, dua unsur yang berbeda tetapi saling melengkapi. Kehadiran topeng sekaligus dimaksudkan sebagai lambang ego manusia yang perlu ditanggalkan agar tercipta hubungan yang harmonis dengan alam.

Simbol itu dapat dibaca dalam konteks yang lebih luas. Hampir semua kebudayaan mengenal gagasan mengenai keseimbangan. Kehidupan tidak tumbuh karena satu unsur menguasai unsur lainnya, melainkan karena keduanya saling menopang. Alam dan manusia, laki-laki dan perempuan, tubuh dan jiwa, semua hadir dalam hubungan yang saling membutuhkan.

Dalam tradisi Bali, cara pandang semacam ini terasa akrab. Kehidupan dipahami sebagai upaya menjaga harmoni di antara berbagai unsur yang berbeda. Alam bukan sesuatu yang berada di luar manusia, melainkan bagian dari kehidupan yang harus terus dirawat. Ketika keseimbangan terganggu, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh alam, tetapi juga oleh manusia sendiri.

Pembacaan tersebut membuat Genesis terasa sangat relevan dengan situasi hari ini. Berbagai krisis lingkungan pada dasarnya dapat dipahami sebagai krisis hubungan. Manusia semakin melihat alam sebagai objek yang dapat dimanfaatkan, sementara alam kehilangan kedudukannya sebagai ruang yang memungkinkan kehidupan berlangsung.

Cara berpikir yang menempatkan manusia sebagai pusat semesta melahirkan berbagai bentuk eksploitasi yang perlahan menggerus daya dukung bumi.

Menariknya, Ida Ayu Gede Artayani tidak menyampaikan kritik itu secara langsung. Ia tidak menghadirkan gambaran hutan yang gundul, sungai yang tercemar, atau satwa yang kehilangan habitatnya.

Ia memilih jalan yang lebih tenang. Melalui simbol rahim dan janin, karya ini mengingatkan bahwa persoalan lingkungan sesungguhnya selalu berkaitan dengan keberlangsungan kehidupan.

Pilihan pendekatan semacam ini membuat Genesis tidak terjebak menjadi poster kampanye lingkungan. Ia tetap berdiri sebagai karya seni yang membuka ruang tafsir. Penonton tidak diarahkan menuju satu kesimpulan yang pasti, melainkan diajak membangun hubungan mereka sendiri dengan simbol-simbol yang dihadirkan.

Di sinilah letak kekuatan karya ini. Semakin lama dipikirkan, semakin luas kemungkinan pembacaannya. Rahim dapat dimaknai sebagai tubuh perempuan, sebagai bumi, sebagai alam, bahkan sebagai ruang kebudayaan yang melahirkan manusia.

Sementara janin dapat dipahami sebagai generasi mendatang yang masa depannya bergantung pada keputusan-keputusan yang diambil manusia hari ini. Dengan demikian, Genesis tidak hanya berbicara mengenai asal-usul kehidupan, tetapi juga tentang tanggung jawab untuk memastikan bahwa kehidupan itu tetap memiliki tempat untuk tumbuh.

Ada kecenderungan menarik dalam perkembangan seni kriya beberapa dekade terakhir. Medium tidak lagi dipahami semata-mata sebagai bahan untuk menghasilkan benda yang indah atau fungsional.

Tanah liat, kayu, logam, kaca, dan serat alam semakin sering diperlakukan sebagai bahasa yang membawa gagasan. Seniman tidak hanya mengolah material, tetapi juga mengolah cara kita memandang material itu sendiri.

Genesis bergerak dalam kecenderungan tersebut. Karya ini tidak meminta perhatian melalui kerumitan teknik atau kemewahan bentuk. Sebaliknya, ia mengajak penonton memasuki lapisan makna yang tersembunyi di balik kesederhanaan simbol-simbolnya.

Rahim, janin, dan dua wajah manusia merupakan citra yang mudah dikenali. Namun, ketika ketiganya dipertemukan dalam satu bentuk keramik, lahirlah ruang tafsir yang jauh lebih luas daripada yang tampak di permukaan.

Salah satu kekuatan karya ini adalah kemampuannya menjadikan tubuh sebagai jalan untuk membaca alam. Selama ini tubuh manusia sering dipisahkan dari lingkungan. Tubuh dianggap milik individu, sedangkan alam dipandang sebagai sesuatu yang berada di luar diri.

Genesis menawarkan cara pandang yang berbeda. Rahim sebagai sumber kehidupan sekaligus dipahami sebagai metafora bumi. Dengan demikian, tubuh manusia dan tubuh alam tidak lagi berdiri sebagai dua entitas yang terpisah, melainkan saling mencerminkan.

Pembacaan seperti ini mengingatkan bahwa krisis ekologis pada dasarnya juga merupakan krisis cara pandang. Kerusakan lingkungan tidak muncul begitu saja akibat perkembangan teknologi atau pertumbuhan ekonomi.

Ia bermula ketika manusia berhenti melihat dirinya sebagai bagian dari alam. Sejak saat itu, hubungan yang semula bersifat timbal balik berubah menjadi hubungan yang eksploitatif. Alam tidak lagi diperlakukan sebagai ruang hidup bersama, melainkan sebagai objek yang dapat diambil manfaatnya tanpa batas.

Karena itu, Genesis tidak dapat dibaca hanya sebagai karya tentang kelahiran. Ia juga berbicara mengenai etika. Bagaimana manusia seharusnya memperlakukan bumi? Bagaimana hubungan antara generasi hari ini dengan generasi yang akan datang? Apa arti kemajuan apabila ruang kehidupan terus mengalami penyusutan?

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu tidak dijawab secara langsung. Seni memang tidak selalu menawarkan solusi. Tugasnya sering kali justru menghidupkan kembali kemampuan manusia untuk merenung.

Dalam dunia yang semakin dipenuhi informasi, seni menyediakan ruang untuk berhenti sejenak dan memikirkan kembali hal-hal yang selama ini dianggap biasa.

Menarik pula mencermati bagaimana Ida Ayu Gede Artayani menggunakan bahasa visual yang relatif tenang. Tidak ada ledakan bentuk, tidak ada komposisi yang agresif, dan tidak ada upaya mengejutkan penonton melalui efek dramatis.

Karya ini justru membangun kekuatannya melalui kesunyian. Simbol-simbol yang dihadirkan bekerja perlahan, membentuk percakapan batin yang terus berkembang seiring lamanya seseorang memberi perhatian kepada karya tersebut.

Pilihan itu menunjukkan kedewasaan artistik. Perupa tampaknya percaya bahwa sebuah karya tidak harus berteriak agar didengar. Ia cukup menghadirkan bentuk yang jujur terhadap gagasannya. Selebihnya, biarlah penonton membangun dialognya sendiri.

Kejujuran itu juga tampak pada pilihan warna. Dominasi warna-warna tanah membuat Genesis terhindar dari kesan dekoratif yang berlebihan. Warna tidak digunakan untuk menarik perhatian, tetapi untuk memperkuat makna.

Tanah tetap tampil sebagai tanah. Glasir yang bernuansa alami memperlihatkan kedekatan material dengan lingkungan yang menjadi sumber inspirasinya. Dalam konsep karya disebutkan bahwa pemilihan warna alam dan tekstur organik dimaksudkan untuk menegaskan hubungan erat antara manusia dan alam.

Sebagai bagian dari Pameran Internasional Becoming; Prakriti–Pustaka–Padma di ARMA Ubud, karya ini juga menemukan konteks yang tepat.

Tema besar pameran yang menempatkan alam sebagai sumber pengetahuan, kreativitas, dan kehidupan memberikan ruang bagi Genesis untuk berbicara bukan hanya sebagai karya individual, melainkan sebagai bagian dari percakapan yang lebih luas mengenai relasi manusia dengan alam pada masa kini.

Di titik inilah Genesis memperlihatkan salah satu kekuatan seni kriya kontemporer. Ia tidak meninggalkan tradisi, tetapi juga tidak terjebak di dalamnya. Ia memanfaatkan medium yang telah dikenal selama ribuan tahun untuk membicarakan persoalan yang sangat mutakhir.

Tanah liat yang dahulu menjadi wadah air dan makanan kini menjadi wadah bagi renungan mengenai masa depan bumi.

Dalam beberapa tahun terakhir, isu lingkungan semakin sering hadir dalam praktik seni rupa Indonesia. Namun, tidak semua seniman memilih menyuarakannya melalui gambaran bencana atau kritik yang keras.

Ada pula yang menempuh jalan yang lebih hening, yaitu, mengajak penonton kembali mengingat hubungan paling mendasar antara manusia dan alam. Genesis termasuk dalam kelompok karya yang memilih jalan kedua.

Karya ini tidak membangun kesadaran ekologis melalui rasa takut. Sebaliknya, ia menghidupkan kembali rasa keterhubungan. Ketika bumi dipahami sebagai rahim, hubungan manusia dengan alam tidak lagi didasarkan pada kepentingan ekonomi atau pemanfaatan sumber daya.

Hubungan itu berubah menjadi hubungan yang bersifat eksistensial. Manusia hidup karena bumi menyediakan ruang bagi kehidupan. Kesadaran sederhana itu sering kali terlupakan di tengah cara hidup modern yang cenderung memisahkan manusia dari alam.

Padahal, sejarah peradaban menunjukkan hal yang sebaliknya. Hampir semua kebudayaan besar lahir karena kedekatannya dengan alam. Sungai melahirkan permukiman. Tanah yang subur melahirkan pertanian.

Hutan menyediakan pangan, obat-obatan, dan bahan bangunan. Alam bukan sekadar latar tempat manusia hidup, melainkan bagian yang membentuk cara manusia berpikir, bekerja, dan membangun kebudayaannya.

Ketika hubungan itu mulai renggang, berbagai persoalan muncul. Kerusakan lingkungan bukan hanya berarti hilangnya pohon atau tercemarnya sungai. Yang sesungguhnya ikut hilang adalah ingatan manusia tentang dirinya sendiri. Kita semakin mahir mengeksploitasi alam, tetapi semakin sulit merasakan bahwa keberadaan kita sepenuhnya bergantung pada alam.

Dalam konteks inilah Genesis menemukan maknanya. Karya ini mengingatkan bahwa masa depan bukan semata persoalan teknologi, investasi, atau pembangunan. Masa depan selalu bermula dari kemampuan manusia menjaga ruang yang memungkinkan kehidupan terus berlangsung.

Rahim menjadi simbol yang sangat tepat karena ia mengandung dua makna sekaligus, yakni perlindungan dan harapan.

Sebagai karya seni kriya, Genesis juga memperlihatkan bagaimana keramik mampu melampaui fungsi tradisionalnya. Tanah liat tidak lagi hadir sebagai benda pakai ataupun sekadar objek dekoratif.

Di tangan Ida Ayu Gede Artayani, medium ini berubah menjadi bahasa visual yang menyampaikan gagasan tentang ekologi, spiritualitas, dan keberlanjutan hidup. Material, bentuk, dan konsep menyatu tanpa saling mendominasi. Keterampilan teknis memang tampak, tetapi tidak pernah mengalahkan kekuatan gagasan yang ingin disampaikan.

Konsistensi itu sejalan dengan perjalanan artistik Ida Ayu Gede Artayani yang aktif mengikuti berbagai pameran nasional dan internasional. Pengalaman tersebut memperlihatkan kesungguhannya menjadikan seni kriya sebagai ruang dialog antara tradisi, nilai-nilai budaya, dan persoalan-persoalan kontemporer.

Sebagai bagian dari Pameran Internasional Becoming: Prakriti–Pustaka–Padma di ARMA Ubud, Genesis juga memperkaya pembacaan mengenai tema besar pameran yang menempatkan alam sebagai sumber pengetahuan, kreativitas, dan kehidupan.

Namun, kekuatan karya ini tidak berhenti pada konteks pameran. Ia tetap relevan ketika dibaca di luar ruang galeri karena persoalan yang diangkat merupakan persoalan yang dihadapi manusia di mana pun berada.

Pada akhirnya, Genesis mengajak kita menyadari bahwa bumi bukan sekadar tempat berpijak. Ia adalah ruang yang memungkinkan kehidupan lahir, bertumbuh, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Gagasan itu disampaikan melalui bahasa keramik yang tenang, tanpa retorika yang berlebihan. Justru dalam kesederhanaannya itulah karya ini memperoleh kekuatannya.

Barangkali seni memang tidak dapat menghentikan krisis lingkungan. Sebuah karya keramik tidak akan menurunkan suhu bumi atau mengembalikan hutan yang telah hilang.

Namun, seni memiliki kemampuan lain yang tidak kalah penting: mengubah cara manusia memandang dunia. Dan setiap perubahan besar hampir selalu berawal dari perubahan cara pandang.

Melalui Genesis, Ida Ayu Gede Artayani mengingatkan bahwa sebelum manusia berbicara tentang kemajuan, pembangunan, atau peradaban, ada satu hal yang lebih dahulu harus dijaga: bumi sebagai rahim kehidupan. Sebab tanpa rahim itu, tidak akan ada generasi yang dapat mewarisi masa depan.***

Apa Komentar Anda?