Pandemi Covid-19 Paksa Masyarakat Melek Digital

Ilustrasi digital - UMJKM go online - IM2

DENPASAR – Pandemi Covid-19 yang sudah terjadi sejak awal tahun lalu memaksa masyarakat untuk lebih melek digital ke tatanan yang lebih baru. Budaya digital juga akhirnya membawa dampak bagaimana masyarakat berinteraksi saat ini.

Hal inilah yang disampaikan oleh Sofia Sari Dewi selaku Designer, Penggiat Sosial Media & Socialpreneur dalam Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 di wilayah Kota Denpasar, Bali, Rabu (16/6/2021) siang. Dalam pembahasannya dia mengatakan perubahan sosial merupakan salah satu dari kajian sosiologi yang sangat dinamis, karena adanya perubahan selalu terjadi dan tidak dapat dihindari.

“Yang membedakan perubahan sosial dengan jenis perubahan lain ini lebih menekankan pada aspek kultural dan budaya . Selain itu juga aspek struktural atau struktur masyarakat yang mempunyai dampak terhadap kehidupan bersosial,” kata dia memaparkan.

Dia mencontohkan, banyak perubahan yang terjadi di masyarakat. Mulai dari penggunaan alat komunikasi. Masyarakat dulunya menggunakan jaringan telepon rumah sebelum adanya ponsel. Kemudian masuk internet yang disusul dengan smartphone atau ponsel pintar. “Dahulu kala kalau kita mau buka email, perlu datang ke warnet. Sekarang buka email hanya tinggal membuka ponsel pintar saja,” terang dia.

Perubahan ini, dijelaskan oleh Sofia tidak bisa dihindari. Masyarakat harus mengikutinya jika ingin bertahan di dunia yang serba digital ini. “Jika tidak bisa mengikuti perubahan digital tentu akan kesulitan sendiri dalam bertahan hidup,” tuturnya.

Bentuk-bentuk perubahan sosial di masyarakat terbagi ke dalam tiga bagian. Pertama adalah perubahan struktural. Dimana terjadi pada zaman sejarah yakni pemerintahan diperintah kerajaan dan beralih ke republik yang dipimpin oleh seorang presiden.

Selanjutnya ada perubahan kecil, dimana itu terjadi dalam diri sendiri atau lebih personal. “Contohnya itu saya dahulu berambut panjang, namun seiring bertambahnya usia ingin memiliki rambut pendek. Kemudian gaya busana, dan hal lain yang sifatnya personal saja,” kata dia.

Terakhir adalah perubahan besar. Perubahan ini lebih ke bagaimana penduduk sekitar dengan sruktrur kemasyarakatan yang lebih kompleks dan besar. “Misalnya, dahulu penduduk banyak yang menjadi petani. Kini sebagian besar orang bekerja di kantoran,” timpalnya.

Era digital merupakan arena informasi yang disokong penuh oleh teknologi. Mau membicarakan apapun, atau mencari informasi apapun semua bisa melalui gadget dan internet. “Ketika ingin makan sesuatu, sekarang pesan dari handphone saja bisa kan? Betapa mudahnya era digital saat ini.”

Bahkan, dikatakan lebih lanjut ole Sofia, mencari jodoh pun bisa melalui internet dengan adanya aplikasi kencan. Teknologi tidak hanya memberikan kemudahan saja pada kehidupan masyarakat saat ini, namun risikonya pun tetap ada. Salah satu risiko yang cukup terasa adalah online bullying. Dimana secara tidak sengaja, atau bahkan sengaja seseorang dengan santai meninggalkan komentar pada postingan orang lain, yang bahkan tidak dikenal sekalipun.

“Laporan Microsoft menyatakan Indonesia berada di urutan ke-29 dari 32 negara dengan tingkat kesopanan netizen paling rendah. Itu artinya, kualitas pengguna internet harus dibenahi.”

Di akhir sesi, Sofia mengingatkan seluruh masyarakat untuk tetap berhati-hati dalam memposting di sosial media. “Saring sebelum sharing. Pastikan lagi informasi tersebut benar, dan juga jangan menggunakan sosial media sebagai tempat curhat atau berkeluh kesah. Bijaklah dalam menghadapi perubahan teknologi yang semakin cepat ini,” tutup dia.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital yang diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) bersama Siberkreasi di wilayah Kota Denpasar, Bali, Rabu (16/6/2021) ini juga menghadirkan pembicara lain yakni Barkah Alkhaliq (CEO PT Barkah Penghurian Teknologi (www.daftarsekolah.com)), Ni Nyoman Pudak Sari (Social Media Marketing Manager at Karma Global), I wayan Dodi Putra Artawan, S.Kom (Chief Executive Officer Akarel Inti Media) dan Aulia Qalbi sebagai Key Opinion Leader.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital. (kanalbali/RLS)

 

Apa Komentar Anda?

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.