Art Centre Denpasar, Pusat Kesenian Bali yang Belum Tergantikan

Pementasan saat Pesta Kesenian Bali 2025 di panggung Ardha Candra, Art Cntre, Denpasar - Foto: Rofiqi Hasan
Pementasan saat Pesta Kesenian Bali 2025 di panggung Ardha Candra, Art Cntre, Denpasar - Foto: Rofiqi Hasan

DENPASAR, kanalbali.id –  Agung Weda Putra terlihat lelah setelah seharian melatih pukulan gamelan di Sanggar Wahana Gurnita, Desa Kesiman Petilan, Denpasar. Tapi dia mengaku masih tetap bersemangat.

“Ini adalah latihan terakhir untuk pementasan besok malam di Art Centre,” katanya saat ditemui, Minggu (13/7/2025).

Sejak 6 bulan lalu, di setiap akhir pekan, Weda bersama puluhan penabuh gamelan lainya belajar untuk memadukan nada-nada dengan tembang atau pun gerakan para penari. Mereka adalah utusan dari Kota Denpasar untuk acara Parade Gong (Gamelan-red) Kebyar di panggung Pesta Kesenian Bali (PKB) 2025.

“Rasanya cukup menegangkan, tapi juga menyenangkan,” kata pemuda yang kini berusia 20 tahun itu. Sejak kecil ia mengaku selalu menyempatkan diri untuk menonton penampilan-penampilan para seniman di PKB setiap tahunnya. Dalam hatinya terbersit keinginan untuk suatu saat tampil disana.

Agung Weda Putra (kiri) dan Ni Putu Nilam Cahyani, dua seniman muda yang tampil di PKB 2025 - Foto: Rofiqi Hasan
Agung Weda Putra (kiri) dan Ni Putu Nilam Cahyani, dua seniman muda yang tampil di PKB 2025 – Foto: Rofiqi Hasan

Lain lagi dengan perasaan Ni Putu Nilam Cahyani (20) yang akan tampil sebagai penari utama dari sanggar itu. Sebelumnya, dia sudah kerap tampil di PKB, bahkan sejak masih anak-anak.

“Awalnya ikut untuk acara dolanan bocah, terus ke acara tarian-tarian remaja,” jelasnya. Yang membedakan tahun ini adalah pentas pertamanya sebagai tokoh utama dalam sendratari yang dipentaskan.

“Jadi akan berbeda sekali. Apalagi yang menonton sampai ribuan orang,” katanya.Pementasan bertempat di panggung Ardha Candra adalah lokasi utama pentas di PKB. Kapasitasnya sekitar 6.000 orang tapi bila penuh bisa sampai sebanyak 8.000 orang.

Adapun kisah yang disadur dari cerita Calon Arang ini adalah mengenai tokoh perempuan bernama Dayu Datu yang berjuluk Rangdaning Jero Agung. Setelah suaminya mati mendadak saat hendak Medhiksa atau dinobatkan pendeta, dia membalas dendam kepada para brahmana (pemimpin agama-red) dengan menggunakan ilmu hitam.

Dayu Datu berubah menjadi leak atau tokoh ilmu hitam yang menyebabkan kematian para calon pendeta. Akibat huru-hara ini, Raja Kesiman akhirnya turun tangan untuk menetralkan keadaan.

Pementasan di panggung Ksirarnawa pada Pesta Kesenian Bali 2025 - Foto: Rofiqi Hasan
Pementasan di panggung Ksirarnawa pada Pesta Kesenian Bali 2025 – Foto: Rofiqi Hasan

Seniman Bali dan Art Centre

Tampil di Art Centre atau Taman Budaya Denpasar memang selalu menjadi pengalaman yang menarik. Seniman Wayan Dibia yang kini menjadi Ketua Dewan Kurator PKB 2025, masih mengenang saat ia pertama kali tampil membawakan tarian Cak Subali Sugriwa ketika panggung Ardha Candra diresmikan pada tahun 1975.

“Art Centre ini betul-betul membentuk karakter seniman Bali. Karena disini mereka tumbuh dan belajar mengenai banyak hal,” ujarnya.

Area yang memiliki luas sekitar 5 hektar itu mulai dibangun pada tahun 1973 setelah digagas oleh tokoh (Alm) Ida Bagus Mantra yang saat itu masih menjabat sebagai Dirjen Kebudayaan.

Arsiteknya adalah seniman Bali Ida Bagus Tugur yang terkenal dengan karya yang memadukan kearifan tradisional Bali dengan tata ruang modern berdasarkan fungsinya.

Bangunan pertama di lokasi yang dulunya adalah hamparan kebun kelapa itu adalah gedung Pameran Mandara Giri dilengkapi dengan panggung pementasan kecil dan terbuka serta sebuah wantilan. Gedung-gedung yang lain baru menyusul kemudian, termasuk panggung tertutup Ksirarnawa.

Seniman senior Bali I Wayan Dibia yang saat ini menjadi Ketua Dewan Kurator PKB 2025 - Foto: Rofiqi Hasan
Seniman senior Bali I Wayan Dibia yang saat ini menjadi Ketua Dewan Kurator PKB 2025 – Foto: Rofiqi Hasan

Baru pada tahun 1979, seluruh area siap untuk digunakan sehingga digelarlah PKB untuk pertama kalinya sekaligus peresmian PKB oleh Ida Bagus Mantra yang sudah menjabat sebagai Gubernur Bali. Saat itu pun PKB belum terpusat sepenuhnya di Denpasar tapi masih digelar di kabupaten lainnya.

“Jadi awalnya, disini adalah untuk pementasan tarian kolosal Ramayana 7 kanda (bagian) dan hanya setiap akhir pekan selama satu bulan. Lalu bagian yang lebih kecil disebar ke kabupaten-kabupaten,” jelas Dibia.

Tujuannya, agar pementasan PKB juga dirasakan hingga ke seluruh pelosok Bali dan terjadi pertukaran pengalaman antara seniman dari satu kota ke kota yang lain.

Pola itu masih berlangsung ketika dia berangkat ke Amerika Serikat pada tahun 1982 untuk menimba ilmu dan mengambil gelar Doktor. Saat kembali ke bali pada 1994, pengelolaan PKB  sudah menjadi seperti saat. “Negatifnya tersentralisasi, tapi positifnya disini semua fasilitas sudah tersedia dan setiap seniman bisa mengukur pencapaiannya,” katanya.

Gedung Museum adalah bangunan yang pertama kali didirikan di area Art Centre, Denpasar, Bali – Foto: Rofiqi Hasan

Dimana pun lokasi PKB, Dibia berharap misi utama dari PKB tetap dipertahankan, yakni untuk melakukan konservasi sekaligus pengembangan budaya Bali berbasiskan tradisi. “Porsi yang kita jaga sekarang adalah 60 persen untuk pelestarian dan 40 persen untuk pengembangan,” katanya.

Hal itu sejalan dengan gagasan bahwa kesenian Bali akan mampu bersaing di tingkat global bila karakter Bali tetap bisa dipertahankan meskipun ruang interaksi dengan seni kontemporer dan modern tetap dibuka lebar.

“Kalau kita sepenuhnya kontemporer, sudah jelas bahwa kita akan kalah dengan seniman dari barat yang pasti lebih fasih dan memiliki kekebasan penuh tanpa ikatan tradisi,” katanya.

Art Centre  Saat Ini.

Kondisi Art Center yang sudah berusia lebih dari 52 tahun nyaris tak mengalami perubahan. Bangunan-bangunan utamanya masih berdiri megah dan difungsikan dari waktu ke waktu.

Di luar kegiatan PKB, terdapat agenda resmi pemerintahan yang cukup besar seperti Festival Seni Bali Jani bagi seniman-seniman kontemporer, Pameran pembangunan di bulan Agustus dan sejumlah kegiatan lainnya.

Tempat ini juga disewakan bagi masyarakat dan pelaku bisnis yang akan mengadakan acara, khususnya acara kesenian.

Selain panggung terbuka Ardha Candra dan Gedung Ksirarnawa, terdapat tempat pementasan yang lebih kecil. Seperti, kalangan Ayodya dengan kapasitas 300 orang serta kalangan Angsoka dan Ratna Kanda dengan daya tampung penonton yang lebih kecil.

Art Centre Denpasar menjadi tempat rekreasi yang menyenangkan bagi keluarga di Bali - Foto Rofiqi Hasan
Art Centre Denpasar menjadi tempat rekreasi yang menyenangkan bagi keluarga di Bali – Foto Rofiqi Hasan

Lalu, ada juga panggung Madya Mandala di samping Ksrirarnawa dimana ribuan penonton bisa duduk lesehan menikmati pementasan.

Banyaknya gedung-gedung tua di area itu, membuat masalah perawatan menjadi tantangan tersendiri. Apalagi jumlah anggaran yang disediakan dan personelnya cukup terbatas. Setahun dari anggaran pemerintah hanya sekitar Rp 75 juta saja.

“Kami terutama fokus ke masalah pemeliharaan jaringan listrik karena menyangkut masalah keselamatan,” kata Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UTD) Taman Budaya I Wayan Mardika Bhuwana.

Masalah toilet juga banyak sekali dikeluhkan sehingga tahun depan akan ada budget khusus untuk mengatasi masalah ini.

Yang juga selalu menjadi sorotan saat event PKB adalah parkir kendaraan yang meluber ke jalan-jalan dan menyebabkan kemacetan. Soal ini Mardika mengaku, setiap tahun terus berkoordinasi dengan warga di sekitar lokasi yang mencari rejeki dengan membuka kantong parkir.

Gubernur Bali Wayan Koster yang hampir setiap malam selama PKB hadir bersama ribuan penonton di panggung Ardha Candra - Foto: Rofiqi Hasan
Gubernur Bali Wayan Koster yang hampir setiap malam selama PKB hadir bersama ribuan penonton di panggung Ardha Candra – Foto: Rofiqi Hasan

“Kami juga terus mencari alternatif lahan parkir,” katanya. Namun ketika acara memang menyedot banyak penonton, kemacetan tetap sulit dihindarkan.

Sementara itu, pada tahun 2023 juga dilakukan renovasi besar untuk gedung Ksirarnawa dari sisi interior dan fasilitas gedung yang menghabiskan dana hingga Rp 7 Miliar.

Mengenai usulan agar PKB tak hanya dipusatkan di Art Center Denpasar, Mardika menyatakan perlu kajian lebih mendalam. “Memang itu mengatasi masalah jarak dan kemacetan bagai seniman diluar Denpasar yang akan tampil disini,” katanya.

Upaya untuk kembali ke pola lama dimana PKB diselenggarakan juga di Kabupaten lain sempat dicoba pada tahun 2007. Namun, saat dilakukan evaluasi, banyak seniman yag merasa tidak puas dengan pementasan di Kabupaten.

“Mereka merasa taksu atau spiritnya berbeda karena memang penampilan di Art Center sudah menjadi tolok ukur bagi mereka,” sebutnya.

Sementara mengenai Pusat Kebudayaan Bali yang saat ini sedang dibangun di Klungkung, Bali Timur, menurut Mardika belum bisa dipastikan menjadi pengganti Art Center. “Saya kira, dalam 2 tahun ke depan dipastikan masih di tempat ini,” ujarnya. ( kanalbali/Rofiqi Hasan)***

 

*Liputan ini merupakan bagian dari Pelatihan Jurnalis di Denpasar Bali untuk peliputan Pesta Kesenian Bali 2025 yang didukung oleh ABC id.

 

 

 

 

 

Apa Komentar Anda?