Hebat, Komunitas Anak Muda di Denpasar Ini ‘Sulap’ Sampah Plastik Jadi Aneka Perabot Rumah

DENPASAR, kanalbali.com – Puluhan anak muda di Kota Denpasar kini aktif berkegiatan di Youth Conservation Initiative (YCI) Bali. Mereka memiliki program bengkel plastik untuk mengolah sampah plastik menjadi produk bernilai guna.
Sampah plastik yang saat ini diolah berjenis High Density Polyethylene atau HDPE,” kata Ketua YCI Bali, Ni Kadek Bunga Rastiana di Kantor Yayasan Konservasi Indonesia (YKI) Bali, pekan lalu.
Biasanya plastik jenis ini digunakan sebagai bahan pembuatan tutup botol, galon air, botol susu, botol sabun, deterjen, botol sampo, kemasan oli, dan plastik kemasan tebal lainnya.
Kreatif, Anak Muda di Bali Ini Olah Sampah Plastik Jadi Kursi hingga Kotak Tisu (1)

“Jenis HDPE ini termasuk golongan plastik yang cukup aman digunakan berulang kali karena paling sering didaur ulang dengan nilai ekonomi dan proses yang sederhana,” jelasnya.
Adapun untuk mengolah sampah plastik HDPE  menjadi papan, setidaknya memerlukan tiga proses utama. Pertama, sampah plastik yang sudah dikelompokkan berdasarkan warna, bentuk, dan jenis dicacah menggunakan mesin pencacah. Jika sudah menjadi potongan kecil, plastik selanjutnya dicuci dan dijemur sekitar 30 menit.
Proses kedua, adalah pengovenan. Pada tahap ini potongan kecil plastik ditimbang sesuai dengan takaran yang dibutuhkan, lalu ditata dalam sebuah loyang datar yang terlebih dahulu telah dioleskan oli, kemudian di oven selama 1 jam 20 menit.
Kreatif, Anak Muda di Bali Ini Olah Sampah Plastik Jadi Kursi hingga Kotak Tisu (2)

zoom-in-white
Setelah plastik meleleh, dilanjutkan dengan proses pengepresan atau pencetakan selama 1,5 jam. Proses diakhiri dengan finishing atau menghaluskan sisi luar produk.
“Untuk membuat 2 buah papan ujian dengan ukuran sekitar 30 x 24 cm, dan tebal 1 cm setidaknya kami membutuhkan 1,8 Kg sampah plastik,” jelasnya.
Awalnya anggota YCI mendapatkan sampah plastik dari hasil kegiatan bersih-bersih pantai maupun mangrove. Kini pasokan plastik diperoleh dari kerjasama dengan hotel yang berada di Kabupaten Gianyar. Sedangkan bagian plastik yang belum bisa diolah oleh YCI akan disalurkan ke bank sampah.
YCI sendiri dibentuk oleh Yayasan Konservasi Indonesia (YKI) Bali pada 2019. Kegiatan yang dilakukan kala itu yakni monitoring terumbu karang, burung, dan beach clean up. Namun akibat pandemi COVID-19, kegiatan YCI dialihkan pada acara-acara webinar online terkait lingkungan. Hingga pada Oktober 2021, Yayasan Kaki Kita Sukasada (YKKS) membantu anggota YCI untuk belajar mengolah sampah plastik agar memiliki nilai guna.
“Selain dibimbing, YKKS juga memfasilitasi kami empat mesin untuk mengolah sampah plastik, dari mesin cacah, mesin injeksi, oven, dan pencetakan,” sebut perempuan yang masih duduk di bangku kelas 3 SMK ini.
Bunga menuturkan, kegiatan bengkel plastik dilakukan selama satu bulan sekali pada hari sabtu atau minggu, sehingga tidak mengganggu waktu sekolah dari para anggota.
Ke depannya bengkel plastik terus berusaha untuk bisa mengolah semua jenis plastik, dan juga sampah masker yang banyak timbul akibat pandemi. Selain itu, akan mencoba membuat barang bernilai guna lainnya, seperti meja, kursi, pin, dan kotak tisu.
“Kami sudah coba menggabungkan cacahan plastik jenis HDPE dan masker untuk membuat suatu produk, hasilnya bagus. Kami akan coba terus agar hasilnya maksimal,” kata dia.
(kanalbali/LSU)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.