Zaman Narcissus, Ketika Semua Orang Mengagumi Dirinya Sendiri

Foto: Marija Zaric/Unsplash
Foto: Marija Zaric/Unsplash

Inilah yang bisa disebut sebagai narsisisme sosial. Dalam mitologi Yunani, kita mengenal kisah Narcissus, seorang pemuda tampan yang jatuh cinta pada bayangannya sendiri di permukaan air.

Penulis : Angga Wijaya

BARANGKALI kita hidup di zaman yang paling aneh dalam sejarah hubungan manusia. Tidak pernah sebelumnya manusia begitu terhubung satu sama lain, tetapi pada saat yang sama begitu sibuk mengagumi dirinya sendiri.

Di meja makan, di grup WhatsApp, di media sosial, bahkan dalam percakapan santai dengan teman, topik yang paling sering muncul adalah diri kita sendiri. Apa yang kita pikirkan, apa yang kita rasakan, apa yang kita alami. Seolah-olah dunia berputar di sekitar pengalaman pribadi masing-masing.

Saya tidak mengatakan bahwa berbicara tentang diri sendiri adalah sesuatu yang salah. Manusia memang memiliki kebutuhan untuk didengar dan dipahami. Namun belakangan ini saya sering merasa ada sesuatu yang berubah dalam cara kita berhubungan dengan orang lain. Hubungan sosial terasa semakin dangkal.

Segalanya terasa serba permukaan. Pertemanan yang seharusnya hangat perlahan berubah menjadi hubungan serba transaksional. Kita seakan bertanya dalam hati, Apa yang bisa saya dapatkan dari orang ini? bukan lagi apa yang bisa saya berikan dalam pertemanan ini? Jika seseorang tidak memberi manfaat tertentu, kita dengan mudah menjauh.

Barangkali inilah yang bisa disebut sebagai narsisisme sosial. Dalam mitologi Yunani, kita mengenal kisah Narcissus, seorang pemuda tampan yang jatuh cinta pada bayangannya sendiri di permukaan air.

Ia begitu terpesona pada dirinya sendiri sampai akhirnya tidak mampu melihat dunia di luar dirinya. Kisah itu mungkin terdengar seperti dongeng kuno, tetapi hari ini kita seperti hidup di zaman Narcissus baru. Bedanya, Narcissus modern menatap layar gawai.

Media sosial menyediakan panggung yang luas bagi setiap orang untuk menampilkan dirinya. Di satu sisi, ini positif, orang bisa berbagi gagasan, pengalaman, dan kreativitas. Namun di sisi lain, ruang yang sama sering menjadi arena pamer tanpa henti. Semua orang ingin terlihat, diperhatikan, dan diakui.

Kebutuhan akan pengakuan sebenarnya sangat manusiawi. Dalam psikologi, ini termasuk kebutuhan dasar manusia. Namun ketika keinginan itu menjadi berlebihan, ia bisa melelahkan—bagi diri sendiri maupun orang lain.

Media sosial mendorong kita menampilkan versi terbaik diri kita. Foto yang paling menarik, status paling cerdas, momen paling menyenangkan. Padahal kenyataan hidup tidak pernah sesederhana itu.

Lingkaran Narsisisme

Kita mudah terjebak perbandingan. Melihat kehidupan orang lain yang tampak lebih sukses atau bahagia membuat kita merasa kurang. Dari sinilah lingkaran narsisisme terbentuk, kita ingin terlihat lebih baik agar tidak kalah dari orang lain. Semakin kita mengejar pengakuan dari luar, semakin sulit merasa puas. Lubang kosong di dalam diri kita coba diisi dengan aktivitas digital, yakni mengunggah, menunggu like, membaca komentar, membalas, lalu mengunggah lagi. Namun lubang itu sering tetap kosong.

Bahkan ketika seseorang memiliki keluarga lengkap, pasangan yang baik, dan anak-anak sehat, rasa kosong itu tetap muncul. Mungkin persoalannya bukan kurangnya perhatian, tetapi ketidakmampuan berdamai dengan diri sendiri. Kita hidup di zaman yang bising; informasi datang dari segala arah, notifikasi tak berhenti, setiap hari kita terhubung dengan banyak orang. Namun di tengah koneksi itu, kita jarang benar-benar diam.

Kita selalu ingin terhubung, selalu ingin merespons, selalu ingin terlihat hadir. Padahal kehadiran yang terus-menerus di ruang digital membuat kita semakin jauh dari diri sendiri. Kita sibuk melihat dunia luar, tetapi lupa melihat ke dalam.

Di Bali, kita mengenal Hari Raya Nyepi, ketika hampir semua aktivitas dihentikan. Jalanan sepi, lampu dipadamkan, bandara ditutup, bahkan internet dimatikan. Bagi sebagian orang, situasi ini terasa tidak nyaman. Namun dalam keheningan itulah kita punya kesempatan jarang ditemui: bercengkerama dengan diri sendiri.

Nyepi memberi ruang untuk bertanya jujur; apa yang sebenarnya kita cari selama ini? Apakah kesibukan di media sosial benar-benar membuat lebih bahagia? Atau kita hanya berlari dari sesuatu di dalam diri? Keheningan Nyepi seperti cermin berbeda dari Narcissus. Bukan untuk mengagumi diri, tapi untuk menatap diri dengan kejujuran—tanpa panggung, penonton, dan tepuk tangan.

Ada masa dalam hidup saya ketika saya benar-benar harus belajar mengenal diri sendiri. Bukan melalui media sosial atau percakapan ramai, tetapi melalui keheningan panjang. Dalam keheningan itu saya mulai memahami bahwa manusia sering kali paling asing terhadap dirinya sendiri. Kita sibuk mencari pengakuan dari luar, padahal yang paling sulit adalah berdamai dengan diri sendiri.

Mungkin jika kita bisa lebih akrab dengan diri sendiri, kita tidak lagi terlalu haus akan pengakuan dari luar. Dan hubungan kita dengan orang lain pun akan menjadi lebih tulus. Tidak lagi sekadar transaksi. (*)

 

 Angga Wijaya adalah penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

 

 

Apa Komentar Anda?