Bangkit dari Kemiskinan, Ayu Sudana Bawa Kopi Plaga Mendunia

Ayu Sudana dalam suatu kesempatan mempresentasikan Bali Beans & Coffee - IST
Ayu Sudana dalam suatu kesempatan mempresentasikan Bali Beans & Coffee - IST

BADUNG, kanalbali.id – Bali Beans Coffee & Co kini sudah dikenal salah-satu eksportir kopi premium dari Bali ke sejumlah negara seperti Perancis, Inggris, Cekoslovakia hingga ke Dubai di Uni Emirat Arab.

Di balik itu ada kisah Ayu Sudana, 40 tahun, perempuan tangguh yang bangkit kemiskinan keluarganya.

Berbekal ijazah kejar Paket C, Ayu awalnya bekerja di dunia pariwisata. Tahun 2015, dia mendapat menjajal kesempatan untuk bekerja di Dubai, ibukota Uni Emirat Arab. Tugasnya adalah di bagian logistik yang memberinya kesempatan untuk mengenali berbagai jenis suplai makanan.

“Semua kebutuhan makanan, termasuk kopi, berasal dari luar karena disana hanya ada gurun pasir,” sebutnya saat acara Media Gathering, Kamis (I4/12/2025).

Dalam satu kesempatan, dia bertemu dengan orang kaya dari Perancis  dan menceritakan kebun kopi keluarganya di Banjar Lawak, Belok Sidan, Badung, Bali. Cerita Ayu membuat orang itu tertarik untuk berinvestasi.

“Tapi saat itu terlintas mengapa tak dikelola sendiri agar orang Bali tak hanya menjadi pekerja bagi orang lain,” kata Ayu yang menolak tawaran itu.

Kebun kopi itu sudah mulai ditanami oleh orang tuanya Nyoman Sudana dan Wayan Sari sejak 1985. Hebatnya, hingga saat ini, kebun kopi Arabika ditanami secara organik untuk pemupukan maupun penanganan hamanya.

Pengolahan kopi di Beans & Coffee - IST
Pengolahan kopi di Beans & Coffee – IST

Mereka menanam kopi dengan cara tradisional dengan meniru ekosistem hutan. Kopi dikelilingi pohon jeruk, cabai, hingga tanaman perindang lainnya. Sistem tumpangsari ini membuat tanah tetap subur tanpa pupuk kimia.

Sayangnya, nasib petani kopi sangat tergantung pada harga kopi di pasaran yang sering dimainkan oleh para tengkulak. Ayu kecil seringkali menandai. Jika harga kopi bagus, ia bisa mendapat baju baru untuk sekolahnya.

Namun ketika harga kopi jatuh, ia tak akan mendapatkan apa-apa. Bahkan biji kopi terpaksa disimpan hanya sebagai bubuk murahan.

Setelah pulang ke Bali dengan membawa cukup banyak uang, Ayu mulai menata ulang kebun keluarganya. Ia bekerjasama dengan 22 petani lokal yang seluruhnya adalah perempuan yang masing-masing mengelola lahan seluas 2 hektar.

“Kalau dengan para ibu, lebih gampang memastikan bahwa penghasilan mereka akan bermanfaat untuk keluarga,” tegasnya.

Orang tua Komang Ayu Sedana, tuanya Nyoman Sudana dan Wayan Sari - IST
Orang tua Komang Ayu Sudana, tuanya Nyoman Sudana dan Wayan Sari – IST

“From Crop to Cup”, begitu filosofinya dalam usaha ini. Artinya, mata rantai nilai kopi sepenuhnya dikelola dari hulu hingga hilir, sehingga kualitas tetap terjaga dan petani mendapatkan nilai lebih besar.

Bali Beans pun kini tidak hanya mengelola kebun dan menjual kopi. Pengunjung lokal dan internasional bisa datang ke lahan mereka di Plaga untuk melihat bagaimana kopi dibudidayakan secara organik, bukan sekadar diminum.

Total luas  area kebun mencapai 5,5 hektar dengan area tanaman kopi aktif 2,5 hektar. Produksinya rata-rata sekitar 500 kg green beans per hektar per tahun.

Ayu berusaha menyajikan pengalaman dalam menghadirkan kopi yang sulit diperoleh para wisatawan di negaranya. Seperti, tur kebun, edukasi budaya kopi Bali,sesi tasting dan roasting.

Belakangan dia pun berusaha memberdayakan anak-anak muda agar mampu bersaing dalam penyajian kopi melalui barista akademi. “Saya ingin mereka itu tak harus bekerja kemana-mana tapi bisa bersaing dan berkompetisi disini,” tegasnya. ( kanalbali/RFH )

Apa Komentar Anda?