Dalam proyek My Salah Mat itu, musik tidak sekadar menjadi hiburan. Ia menjadi pintu masuk menuju pengetahuan. Anak-anak diajak mengenal sejarah melalui suara, nama, dan cerita.
Oleh Angga Wijaya*
SAYA tumbuh di Negara, Jembrana, Bali, sebuah wilayah multikultur yang kehidupan masyarakatnya dibentuk oleh perjumpaan berbagai latar budaya dan agama. Sejak kecil, saya sudah akrab dengan keberagaman.
Kehidupan bertetangga, pertemanan, dan perjumpaan sehari-hari membuat saya mengenal Islam bukan sebagai sesuatu yang jauh dari kehidupan, melainkan sebagai bagian dari wajah masyarakat di sekitar saya.
Pengalaman itu barangkali ikut membentuk rasa ingin tahu saya terhadap agama, kebudayaan, dan cara manusia menjalani keyakinannya. Ketika kemudian belajar Antropologi Budaya di Universitas Udayana, saya memperoleh perspektif yang lebih luas untuk memahami keberagaman.
Saya belajar bahwa agama tidak hanya hidup dalam kitab suci dan ruang ibadah. Ia juga hadir dalam kebiasaan, tradisi, hubungan sosial, kesenian, serta ingatan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Pengalaman tersebut kembali terasa ketika suatu hari saya menemukan sebuah lagu nasyid saat sedang mencari musik untuk mengiringi unggahan di media sosial. Awalnya, pencarian itu sederhana.
Saya hanya membutuhkan musik latar yang sesuai dengan suasana tulisan. Namun, sebuah lagu kemudian menarik perhatian saya. Judulnya Women in Islam, dibawakan oleh My Salah Mat.
Saya memutar lagu itu beberapa kali. Nuansa vokalnya sederhana dan terasa dekat dengan dunia anak-anak. Tidak ada aransemen musik yang rumit atau kemegahan produksi yang membuat pendengarnya harus terpukau.
Namun, ada sesuatu yang membuat saya berhenti sejenak. Lagu tersebut memperkenalkan sepuluh perempuan yang memiliki tempat penting dalam sejarah Islam.
Saya kemudian mencari tahu lebih jauh tentang My Salah Mat. Ternyata, nama tersebut bukan nama seorang penyanyi, melainkan sebuah proyek pendidikan Islam yang mengembangkan berbagai sarana pembelajaran untuk anak-anak.
Salah satu produknya berupa media interaktif yang memperkenalkan tokoh-tokoh perempuan dalam sejarah Islam. Melalui sentuhan pada nama atau gambar tertentu, anak-anak dapat mendengarkan kisah perempuan yang diperkenalkan.
Dalam proyek itu, musik tidak sekadar menjadi hiburan. Ia menjadi pintu masuk menuju pengetahuan. Anak-anak diajak mengenal sejarah melalui suara, nama, dan cerita.
Sebuah pendekatan sederhana yang memiliki arti penting, terutama ketika sejarah perempuan masih sering ditempatkan di bagian pinggir dalam berbagai narasi besar.
Saya tertarik pada cara sebuah lagu anak-anak memperkenalkan sejarah yang begitu luas. Pengalaman menemukan lagu itu mengingatkan saya bahwa pengetahuan kadang datang melalui jalan yang tidak kita rencanakan.
Saya semula hanya mencari musik untuk sebuah unggahan, tetapi justru menemukan bahan renungan tentang perempuan, sejarah, agama, dan pendidikan.
Sebagai seseorang yang banyak mengamati kehidupan manusia melalui perspektif antropologi, saya melihat proyek seperti ini bukan semata-mata sebagai produk pendidikan agama.
Ia juga memperlihatkan bagaimana sebuah masyarakat memilih tokoh untuk dikenang, nilai untuk diwariskan, dan cerita untuk disampaikan kepada generasi berikutnya.
Sepuluh perempuan dalam sejarah Islam
My Salah Mat memperkenalkan sepuluh perempuan melalui media pembelajaran interaktif. Nama-nama mereka membawa kita pada perjalanan sejarah yang panjang. Mereka hidup dalam zaman dan lingkungan berbeda.
Sebagian berada dekat dengan masa Nabi Muhammad, sementara yang lain hidup beberapa abad sesudahnya. Kisah mereka memperlihatkan bahwa sejarah Islam tidak hanya dibentuk oleh tokoh laki-laki.
Khadijah bint Khuwaylid merupakan salah satu perempuan paling penting dalam sejarah awal Islam. Ia dikenal sebagai saudagar Quraisy yang memiliki kemampuan ekonomi dan kedudukan sosial. Sebelum menjadi istri Nabi Muhammad, Khadijah telah menjalankan kegiatan perdagangan dengan mempekerjakan orang lain untuk mengelola barang dagangannya.
Ketika Muhammad menerima wahyu pertama, Khadijah menjadi orang yang memberikan dukungan dan ketenangan. Ia tidak hanya mendengarkan pengalaman suaminya, tetapi juga mempercayainya ketika dunia di sekeliling mereka belum memahami apa yang sedang terjadi.
Dalam kisah awal Islam, dukungan Khadijah memiliki arti yang sangat besar. Ia memperlihatkan bahwa keberanian tidak selalu hadir dalam tindakan yang terlihat oleh banyak orang. Terkadang, keberanian hadir melalui kesediaan berdiri di samping seseorang ketika ia sedang menghadapi ketidakpastian.
Aisyah bint Abu Bakr memperlihatkan sisi lain dari peran perempuan. Ia dikenal sebagai salah satu periwayat hadis paling penting dalam tradisi Islam. Pengetahuannya meliputi berbagai persoalan keagamaan, kehidupan keluarga Nabi, dan praktik keseharian umat. Banyak orang datang kepadanya untuk bertanya dan belajar.
Kehadiran Aisyah dalam sejarah memperlihatkan bahwa perempuan juga menjadi sumber pengetahuan. Ia bukan sekadar tokoh yang dikenang karena hubungan keluarganya dengan Nabi Muhammad. Ia memiliki kapasitas intelektual dan otoritas keilmuan yang diakui dalam tradisi Islam. Kisah Aisyah mengingatkan bahwa pengetahuan tidak semestinya ditentukan oleh jenis kelamin.
Maryam bint Imran menempati kedudukan yang sangat istimewa. Namanya bahkan menjadi nama salah satu surah dalam Al-Qur’an. Ia dikenal sebagai ibu Nabi Isa dan sosok perempuan yang menjaga kesucian serta keteguhan imannya. Kisah Maryam bukan hanya tentang kelahiran seorang nabi, melainkan juga tentang ujian, kesendirian, kepercayaan, dan kekuatan menghadapi penilaian masyarakat.
Dalam Al-Qur’an, Maryam digambarkan sebagai perempuan yang dipilih dan dimuliakan oleh Allah. Kisahnya menunjukkan bahwa pengalaman perempuan dapat menjadi pusat narasi keagamaan, bukan sekadar bagian kecil dari cerita tentang laki-laki.
Asiyah bint Muzahim dikenal melalui kisahnya sebagai istri Firaun. Namanya tidak disebut secara langsung dalam Al-Qur’an, tetapi tradisi Islam mengenangnya sebagai perempuan yang mempertahankan iman di tengah kekuasaan yang menindas. Dalam Surah At-Tahrim ayat 11, Al-Qur’an menghadirkan istri Firaun sebagai perumpamaan bagi orang-orang beriman. Ia memohon kepada Allah agar diselamatkan dari Firaun dan perbuatannya.
Kisah Asiyah memiliki pesan yang kuat. Lingkungan keluarga dan kekuasaan tidak selalu menentukan keyakinan seseorang. Ia hidup di tengah kemewahan istana, tetapi tidak menjadikan kemewahan sebagai ukuran kebenaran. Keteguhan imannya justru tumbuh di tengah situasi yang penuh tekanan.
Fatimah az-Zahra, putri Nabi Muhammad, juga menjadi figur yang dihormati dalam sejarah Islam. Ia dikenal karena kedekatannya dengan Nabi, kesederhanaan hidup, dan keteguhan dalam menjalani berbagai ujian. Dalam tradisi Islam, Fatimah memiliki tempat istimewa sebagai bagian dari keluarga Nabi.
Kisahnya sering disampaikan melalui nilai kasih sayang, kesabaran, dan kesederhanaan. Namun, mengenang Fatimah seharusnya tidak berhenti pada pemujaan terhadap kesalehan domestik. Ia juga merupakan bagian dari sejarah keluarga Nabi yang mengalami perubahan sosial dan politik besar pada masa awal Islam.
Baraka, yang lebih dikenal sebagai Umm Ayman, adalah perempuan asal Habasyah yang memiliki hubungan dekat dengan keluarga Nabi Muhammad. Ia pernah merawat Nabi sejak masa kecil dan tetap menjadi sosok yang dekat dengannya setelah dewasa. Nabi dikenal menghormatinya sebagai perempuan yang memiliki tempat istimewa dalam kehidupannya.
Kisah Umm Ayman menarik karena memperlihatkan hubungan yang melampaui batas asal-usul dan kedudukan sosial. Ia bukan berasal dari keluarga elite Quraisy. Namun, perannya dalam kehidupan Nabi membuat namanya dikenang dalam sejarah Islam. Penghormatan terhadap Umm Ayman mengingatkan kita bahwa sejarah tidak hanya dibentuk oleh orang-orang yang memiliki kekuasaan atau kekayaan.
Asma bint Abu Bakr dikenal melalui keterlibatannya dalam peristiwa hijrah Nabi Muhammad dari Makkah ke Madinah. Ia membantu menyediakan kebutuhan perjalanan dan mengantarkan bekal bagi Nabi serta ayahnya, Abu Bakar. Dalam tradisi Islam, ia dikenal dengan julukan Dhat al-Nitaqayn, yang berkaitan dengan kisah penggunaan ikat pinggangnya untuk mengikat bekal perjalanan.
Peran Asma memperlihatkan bahwa peristiwa besar dalam sejarah tidak hanya bergantung pada tokoh yang tampil di garis depan. Ada orang-orang yang bekerja dalam senyap, mengambil risiko, dan memastikan sebuah perjalanan dapat berlangsung. Mereka mungkin tidak selalu berada dalam pusat perhatian, tetapi kontribusinya tidak dapat dipisahkan dari jalannya sejarah.
Al-Shifa bint Abdullah merupakan perempuan yang dikenal memiliki kemampuan membaca dan menulis. Dalam sejumlah riwayat, ia disebut pernah mengajarkan keterampilan menulis kepada Hafsa bint Umar. Ia juga dikenal sebagai perempuan yang memiliki pengetahuan dan pendapat yang dihargai. Beberapa sumber sejarah menyebutkan bahwa Khalifah Umar pernah mempercayakan kepadanya urusan tertentu di pasar Madinah. Namun, rincian mengenai tugas tersebut perlu dibaca dengan memperhatikan sumber riwayatnya.
Kisah Al-Shifa memperlihatkan pentingnya literasi perempuan dalam masyarakat Islam awal. Pada masa ketika kemampuan membaca dan menulis belum dimiliki semua orang, pengetahuan merupakan modal sosial yang berharga. Perempuan yang menguasai literasi memiliki kesempatan untuk berperan dalam pendidikan dan kehidupan masyarakat. Al-Shifa mengingatkan kita bahwa sejarah perempuan juga merupakan sejarah pengetahuan.
Nafisa bint al-Hasan dikenal sebagai keturunan Hasan bin Ali dan seorang tokoh keilmuan yang dihormati di Mesir. Ia lahir di Makkah sekitar 762 Masehi dan kemudian menetap di Mesir. Pengetahuan agama dan kesalehannya membuat banyak orang datang untuk belajar. Dalam sejumlah catatan biografi, Imam Syafi’i disebut pernah bertemu dan mendengarkan hadis darinya.
Kisah Nafisa menunjukkan bahwa perempuan memiliki tempat dalam tradisi keilmuan Islam yang berkembang di berbagai wilayah. Sejarah Islam tidak hanya berlangsung di Makkah dan Madinah. Ia juga tumbuh di Mesir, Damaskus, Baghdad, dan pusat-pusat pengetahuan lainnya. Dalam perjalanan itu, perempuan ikut menjadi bagian dari jaringan intelektual dan spiritual.
Tokoh terakhir dalam daftar tersebut adalah Zainab bint al-Kamal, seorang ulama hadis yang lahir di Yerusalem pada 1248 dan wafat di Damaskus pada 1339. Ia dikenal sebagai pengajar dan periwayat hadis. Sejak kecil, ia diperkenalkan kepada majelis-majelis ilmu dan kemudian mengumpulkan banyak izin periwayatan atau ijazah dari para ulama.
Kisah Zainab penting karena memperlihatkan bahwa perempuan tidak hanya menjadi penerima pengetahuan, tetapi juga pemilik otoritas keilmuan. Banyak murid datang untuk belajar kepadanya, termasuk laki-laki yang ingin memperoleh sanad atau jalur periwayatan hadis. Keberadaannya menjadi pengingat bahwa sejarah intelektual Islam memiliki ruang yang lebih luas daripada gambaran yang sering kita temukan dalam narasi populer.
Sepuluh perempuan tersebut tidak memiliki kehidupan yang sama. Mereka datang dari masa, lingkungan, dan latar sosial yang berbeda. Ada yang dikenal melalui perdagangan, ada yang melalui pengetahuan agama, ada yang melalui keteguhan iman, dan ada pula yang melalui keterlibatan dalam peristiwa sejarah. Masing-masing meninggalkan jejak melalui pilihan dan tindakan dalam kehidupannya.
Musik sebagai jalan mengenang
Saya membayangkan seorang anak mendengarkan lagu Women in Islam berulang kali. Ia mungkin belum memahami seluruh konteks sejarah di balik nama-nama tersebut. Namun, ia mulai mengenal Khadijah, Aisyah, Maryam, dan perempuan lainnya. Nama-nama itu masuk ke dalam ingatannya melalui irama yang sederhana.
Kelak, ketika ia menemukan kisah mereka dalam buku atau pelajaran sejarah, nama-nama tersebut tidak lagi terasa asing. Ia memiliki ingatan awal yang membuatnya ingin mengetahui lebih jauh. Dalam proses pendidikan, hal kecil semacam itu dapat menjadi penting.
Kita sering menganggap sejarah sebagai urusan masa lalu. Padahal, cara kita mengenang masa lalu ikut memengaruhi cara kita membayangkan masa depan. Jika anak-anak hanya diperkenalkan kepada tokoh laki-laki ketika mempelajari sejarah agama, mereka mungkin tumbuh dengan anggapan bahwa perubahan dan kepemimpinan selalu berasal dari laki-laki.
Sebaliknya, ketika perempuan diperkenalkan sebagai bagian penting dari sejarah, cakrawala pengetahuan mereka menjadi lebih luas. Anak perempuan dapat menemukan teladan yang beragam. Anak laki-laki juga dapat belajar menghormati perempuan sebagai manusia yang memiliki kemampuan, pikiran, dan peran sosial.
Dalam hal ini, proyek My Salah Mat menarik bukan karena ia menawarkan sesuatu yang sepenuhnya baru dalam sejarah Islam. Tokoh-tokoh perempuan tersebut telah lama dikenal dalam berbagai sumber keagamaan dan sejarah. Hal yang menarik justru terletak pada cara mereka diperkenalkan kembali melalui medium yang dekat dengan kehidupan anak-anak masa kini.
Teknologi interaktif dan musik menjadi sarana untuk menghubungkan generasi sekarang dengan sejarah yang mungkin terasa jauh. Di tengah derasnya hiburan digital, pendidikan agama juga membutuhkan cara penyampaian yang kreatif tanpa kehilangan kedalaman isi.
Saya teringat kembali pada alasan awal menemukan lagu itu. Saya hanya sedang mencari musik untuk sebuah unggahan media sosial. Pencarian sederhana tersebut justru membawa saya pada percakapan yang lebih luas tentang sejarah perempuan, pendidikan anak, musik, dan ingatan dalam Islam.
Mungkin itulah salah satu hal menarik dari kebudayaan. Sesuatu yang kita temukan secara tidak sengaja dapat membuka jalan menuju pemahaman yang lebih luas. Sebuah lagu pendek bisa mengantar kita membaca kembali sejarah panjang. Sebuah media pembelajaran anak dapat mengingatkan orang dewasa bahwa masih banyak bagian sejarah yang perlu diperkenalkan dengan cara yang lebih adil.
Perempuan-perempuan dalam lagu tersebut bukan sekadar nama yang harus dihafalkan. Mereka adalah manusia dengan pengalaman, pilihan, dan perjuangannya masing-masing. Kisah mereka mengajarkan bahwa sejarah tidak hanya dibentuk oleh mereka yang berdiri di pusat kekuasaan atau paling sering disebut dalam buku. Banyak jejak penting justru ditinggalkan oleh orang-orang yang selama ini kurang mendapat perhatian.
Mengenang mereka berarti mengakui bahwa perjalanan sejarah Islam tidak pernah menjadi milik satu kelompok manusia saja. Perempuan turut membentuknya, merawat pengetahuan di dalamnya, dan mewariskan nilai-nilainya kepada generasi berikutnya.
Pada akhirnya, lagu Women in Islam mengingatkan saya bahwa pendidikan sejarah bukan hanya tentang mengetahui siapa yang hidup pada masa lampau. Pendidikan sejarah juga menyangkut bagaimana kita memilih teladan dan nilai yang hendak dibawa ke masa depan.
Sepuluh perempuan itu telah melewati zaman mereka. Namun, kisahnya masih dapat berbicara kepada kita hari ini. Tugas kita bukan hanya mengagumi keteguhan mereka, melainkan juga memastikan bahwa perempuan pada masa sekarang memiliki ruang yang cukup untuk belajar, bekerja, berpikir, mengambil keputusan, dan meninggalkan jejaknya sendiri.
Saya mengawali tulisan ini dari sebuah lagu yang ditemukan ketika mencari musik untuk unggahan media sosial. Pada akhirnya, lagu itu membawa saya kembali pada pengalaman masa kecil di lingkungan multikultur, pada pelajaran antropologi tentang manusia, dan pada kesadaran bahwa keberagaman selalu menyimpan cerita yang layak didengarkan.
Sejarah akan selalu ditulis ulang melalui ingatan generasi berikutnya. Akan lebih lengkap apabila dalam ingatan itu, perempuan tidak lagi ditempatkan di pinggir cerita. ***
Tentang Penulis
*) I Ketut Angga Wijaya lahir di Negara, Jembrana, Bali, sebuah wilayah multikultur yang mempertemukannya dengan kehidupan masyarakat dan agama Islam sejak kecil. Pengalaman tumbuh di tengah keberagaman tersebut membentuk rasa ingin tahunya terhadap perbedaan budaya dan keyakinan.
Ia pernah belajar Antropologi Budaya di Universitas Udayana (UNUD), yang memberinya perspektif lebih luas dalam memahami manusia, kebudayaan, dan kehidupan sosial. Ia juga pernah nyantri selama empat tahun di Bali Gandhi-Vidyapith Ashram, Denpasar, lembaga yang didirikan oleh Ibu Gedong Bagoes Oka, tokoh pluralisme asal Bali. Semasa hidupnya, Ibu Gedong aktif menularkan semangat kebinekaan, kedamaian, dan nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan masyarakat Indonesia.
Pengalaman pendidikan, perjumpaan lintas agama dan budaya, dan kehidupan sehari-hari menjadi bagian penting dari cara Angga membaca manusia dan menulis tentang keberagaman.


