DENPASAR, kanalbali.id– Upaya mendorong penyandang disabilitas agar lebih berani bersuara di ruang publik kembali dilakukan Bumi Setara. Pada Minggu, (9/11/2025), organisasi yang bergerak dalam interseksi hak asasi disabilitas tersebut menggelar Pelatihan Menulis Opini Inklusif di Kafe White Channy, Renon, Denpasar.
Acara ini diikuti sepuluh muda-mudi disabilitas yang ingin belajar bagaimana menyampaikan gagasan dan pengalaman mereka melalui tulisan opini yang efektif, terstruktur, dan berpeluang dimuat di media massa.
Direktur Program Bumi Setara, Ni Putu Candra Dewi, S.H., M.I.S., menyampaikan bahwa pelatihan ini lahir dari kebutuhan untuk membuka ruang literasi yang setara bagi kelompok disabilitas.
“Suara penyandang disabilitas masih minim dalam diskursus publik, padahal perspektif mereka sangat penting untuk mencerminkan kenyataan sosial yang lebih lengkap,” ujarnya.
Bagi Bumi Setara, tambah Candra, menyediakan wadah bagi penyandang disabilitas untuk menulis opini merupakan langkah strategis untuk memperkuat advokasi yang lebih luas.
Candra menjelaskan, pelatihan ini bertujuan membekali peserta dengan kemampuan teknis serta keberanian untuk menulis tentang isu-isu yang mereka alami langsung.
Dalam banyak kasus, pengalaman sehari-hari penyandang disabilitas, mulai dari keterbatasan akses fasilitas publik, diskriminasi dalam pendidikan atau pekerjaan, hingga persoalan kesehatan mental, sering tidak masuk pemberitaan atau pembahasan kebijakan,” katanya.
Melalui kegiatan ini, ia berharap pengalaman-pengalaman tersebut dapat diubah menjadi gagasan kritis yang terdengar sampai ke pembuat kebijakan.
Pelatihan ini menghadirkan Angga Wijaya, penulis dan wartawan yang telah aktif menulis sejak 2001. Angga membuka sesi dengan kisah pribadi yang menyentuh. Ia bercerita tentang perjalanan pemulihannya sebagai penyandang skizofrenia dan bagaimana menulis menjadi bagian penting dari proses tersebut.
“Saya penyandang skizofrenia yang sudah pulih. Kalau saya bisa kembali bekerja, menulis, dan berbicara di depan kalian hari ini, itu karena saya percaya satu hal sederhana, menulis adalah bagian dari proses penyembuhan dan pemberdayaan,” ujarnya.
Angga menekankan bahwa tulisan opini bukan sekadar tempat untuk mencurahkan perasaan, tetapi juga alat advokasi yang dapat memengaruhi cara masyarakat dan pemerintah melihat persoalan. Ia melihat opini sebagai ruang strategis untuk mendorong perubahan dan membuka kesadaran publik.
“Lewat tulisan opini, kita tidak hanya menceritakan pengalaman pribadi, tapi juga mengubahnya menjadi kekuatan sosial,” tegasnya.
Dalam pelatihan tersebut, Angga memaparkan materi mengenai pengertian opini, perbedaannya dengan berita, serta ciri-ciri opini yang baik. “Opini harus terfokus pada satu ide besar, ditopang data dan pengalaman nyata, disampaikan dengan bahasa yang komunikatif, serta memiliki nilai kemanusiaan. Tulisan opini yang baik tidak hanya informatif, tetapi mampu menggugah dan memengaruhi pembaca,” ucapnya.
Angga juga menguraikan struktur dasar opini, mulai dari judul yang memancing perhatian, paragraf pembuka yang kuat, argumen utama yang tersusun rapi, hingga penutup yang memberi ajakan atau refleksi. Ia menambahkan bahwa memahami cara kerja media massa menjadi faktor penting agar opini dapat dimuat.
Pelatihan menjadi semakin interaktif ketika peserta diminta menulis paragraf pembuka opini berdasarkan isu yang mereka hadapi dalam kehidupan sehari-hari. Ada yang menulis tentang aksesibilitas trotoar, ada yang menyoroti layanan pendidikan inklusif yang belum optimal, dan ada pula yang mengangkat pengalaman diskriminasi di tempat kerja. Beberapa peserta kemudian membacakan tulisannya, dan suasana diskusi berlangsung hangat.
Candra Dewi mengapresiasi antusiasme peserta yang terus mengikuti sesi hingga akhir. Ia menyebut pelatihan ini sebagai langkah awal untuk membangun komunitas muda disabilitas yang vocal dengan berbagai medium, salah satunya menjadi penulis. Bumi Setara juga membuka ruang publikasi dan mengembangkan jaringan bagi karya-karya mereka agar dapat tersampaikan ke lebih banyak pembaca.
Menutup sesi, Angga kembali memberi pesan yang menjadi inti dari seluruh materi pelatihan. “Menulis membantu saya menata pikiran dan mengubah cara orang melihat saya. Teruslah menulis, sekecil apa pun tulisan kalian, karena setiap kata bisa membuka jalan perubahan,” katanya.
Pelatihan di Kafe White Canny tersebut ditutup dengan undangan terbuka bagi peserta untuk mengirimkan draft opini sepanjang 800 hingga 1.000 kata ke Bumi Setara dari sesi latihan untuk dipublikasi di website bumisetara.org. Melalui kegiatan seperti ini, Bumi Setara berharap semakin banyak suara penyandang disabilitas yang hadir dalam ruang publik di Bali dan mampu mendorong kebijakan yang lebih inklusif serta berkeadilan. (*)


