Hari Kesiapsiagaan Bencana, BAWA dan IFAW Gelar Simulasi Gempa Bumi di SDN Jumpai

KLUNGKUNG, kanalbali.id –  Upaya untuk membangun budaya kesiapsiagaan  mendorong lahirnya ide intervensi program pemberdayaan masyarakat yang mengkolaborasikan pengurangan risiko bencana dengan elemen kesejahteraan hewan.

Salah satu komponen penting dalam program ini adalah membangun kesiapsiagaan masyarakat di semua elemen, baik warga masyarakat, kelompok perempuan, kaum muda, anak sekolah dan juga bagaimana komponen ternak juga mendapatkan fokus pertimbangan dalam seluruh rencana penanggulangan bencana dan pembangunan desa yang disusun.

Program ini telah dilakukan di wilayah Provinsi Bali sejak tahun 2019, dengan memilih lokasi program berdasarkan risiko dan kerentanan yang ada di wilayah tersebut.

Program yang dilaksanakan oleh Yayasan BAWA dan didukung penuh oleh International Fund for Animal Welfare (IFAW), untuk tahun ini dilakukan di Desa Jumpai, Kecamatan Klungkung, Kabupaten Klungkung.

BACA JUGA: Mengangkat Mitigator, Mewujudkan Indonesia Tangguh

Letak geografis Desa Jumpai yang berada di wilayah pesisir merupakan faktor risiko utama yang memerlukan intervensi dalam membangun kesiapsiagaan.

Pemerintah Desa Jumpai sendiri dengan sangat terbuka dan aktif mendukung pelaksanaan program ini sehingga program ini dapat berjalan dengan baik dengan harapan program ini akan berlanjut di masa yang akan datang.

Seperti yang kita tahu, Pemerintah Indonesia telah mencanangkan hari khusus yang dinamakan Hari Kesiapsiagaan Bencana atau disingkat HKB yang jatuh pada tanggal 26 April setiap tahunnya.

Peringatan HKB ini adalah inisiasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana yang bertujuan untuk mengajak semua pihak meluangkan waktu satu hari untuk melakukan latihan kesiapsiagaan bencana secara serentak.

Dengan adanya Hari Kesiapsiagaan Bencana, diharapkan dapat membudayakan latihan secara terpadu, terencana dan berkesinambungan guna meningkatkan kesadaran, kewaspadaan dan kesiapsiagaan masyarakat menuju Indonesia tangguh bencana.

Sebagai bentuk kontribusi sederhana dalam rangka peringatan Hari Kesiapsiagaan Bencana tahun 2025, SD Negeri Jumpai melaksanakan giat simulasi gempa bumi. Kegiatan yang dilakukan pada hari Selasa, 16 April 2025 ini diikuti oleh sekitar 200 orang dari unsur siswa, guru dan perwakilan masyarakat desa.

Bentuk kesiapsiagaan yang dibangun adalah kemampuan respon dari siswa dan guru-guru di sekolah menghadapi ancaman bencana yang berpotensi terjadi di lingkungan sekolah mereka. Kegiatan ini semakin bermakna dengan hadirnya Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Bali, yang memberikan sambutan hangat sekaligus membuka acara.

Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya kolaborasi antara masyarakat, dunia pendidikan, dan pemerintah dalam mempersiapkan diri menghadapi bencana. Kesiapsiagaan bencana bukan hanya tugas pemerintah, tetapi juga menjadi tanggung jawab bersama.

Melalui kegiatan ini, kita berharap anak-anak kita bisa memahami juga pentingnya persiapan sejak dini.

Kegiatan simulasi ini merupakan bagian dari kampanye edukasi sekolah yang telah dilakukan sejak bulan Januari di sekolah ini. Para siswa diberikan informasi-informasi mengenai kesiapisiagaan bencana dan kesejahteraan hewan, yang diharapkan mampu dipahami dan dipraktekkan oleh para siswa.

Materi-materi seperti jenis bencana, tas siaga, apa yang harus dflakukan jika bencana terjadi hingga membuat peta evakuasi mandiri dikemas dengan atraktif dan menarik untuk para siswa.

Para siswa secara aktif dalam mengikuti setiap sesi yang diberikan dan silih berganti menjawab pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan kesiapsiagaan bencana dan kesejahteraan hewan.

Selain itu, para siswa mendapatkan buku aktivitas anak yang berisi informasi dan permainan-permainan interaktif yang bertujuan untuk membangun kesadaran para siswa.

Pelaksanaan simulasi ini diharapkan memberikan bekal ilmu bagi seluruh elemen yang ada di sekolah dan secara tidak langsung akan memberikan dampak ke desa.

Kegiatan simulasi ini merupakan bagian dari membangun ketangguhan masyarakat untuk seluruh elemennya, dimana sebelumnya program juga sudah berproses dengan masyarakat termasuk kelompok perempuan, remaja serta lanjut usia dan saat ini melanjutkan berproses dengan anak-anak sekolah yang termasuk kelompok rentan dalam situasi darurat.

Kolaborasi para pihak ini menunjukkan sinergi yang efektif untuk membangun ketangguhan masyarakat, dimana program ini merupakan bagian komitmen dari Yayasan BAWA dengan dukungan dari IFAW untuk pemberdayaan dan penguatan kapasitas masyarakat termasuk anak usia sekolah terkait pengurangan risiko bencana serta kesehatan hewan. (kanalbali/RLS)

 

Apa Komentar Anda?

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.