Penulis: Angga Wijaya
ENTAH kabar ini harus membuat kita bangga atau malu. Indonesia menurut survei global IKEA Sleep Uncovered 2025 dinobatkan sebagai negara yang paling suka tidur di dunia.
Dari 57 negara yang diteliti, warga negeri ini paling sering mengaku bahwa tidur adalah hal yang menyenangkan, penting, bahkan spiritual.
Kita memang bangsa yang pandai menikmati rebahan. Ada istilah “healing,” “me time,” dan “self care” yang kini terdengar di mana-mana. Tapi mari berhenti sejenak, benarkah kita benar-benar tidur paling lama, atau sekadar paling sering membicarakan tidur?
Survei IKEA itu dilakukan bersama lembaga riset GlobeScan yang melibatkan 55 ribu responden dari berbagai negara. Pertanyaannya sederhana, apakah Anda suka tidur dan seberapa penting tidur bagi hidup Anda. Jadi bukan soal berapa jam kita tidur, melainkan bagaimana perasaan kita terhadap tidur.
Itu sebabnya hasil survei ini lebih tepat disebut mengukur sikap terhadap tidur ketimbang durasi tidur. Maka ketika media ramai menulis orang Indonesia paling banyak tidur di dunia, sesungguhnya yang terjadi adalah salah tafsir.
Yang diukur bukan jam tidur, tapi cinta terhadap tidur. Dan kita tahu, mencintai sesuatu tak selalu berarti memilikinya.
Sulit Tidur
Faktanya, data ilmiah justru menunjukkan hal sebaliknya. Menurut laporan World Sleep Congress 2025 dan survei YouGov 2024, orang Indonesia rata-rata hanya tidur 6 jam 36 menit per malam. Angka itu di bawah standar ideal tujuh hingga delapan jam dan termasuk yang terpendek di Asia.
Penyebabnya klasik, jam kerja panjang, stres, beban ekonomi, konsumsi gawai sebelum tidur, dan kultur begadang yang dianggap keren. Banyak di antara kita baru bisa benar-benar memejamkan mata setelah memastikan notifikasi ponsel tak ada yang penting, setelah melihat video terakhir di TikTok, atau setelah menulis status insomnia lagi.
Kita hidup di zaman yang membuat tidur menjadi kemewahan. Bahkan ketika tubuh lelah, pikiran masih terus men-scroll dunia.
Tidur di Indonesia barangkali sudah menjadi semacam utopia kecil. Semua orang ingin melakukannya, tapi sedikit yang benar-benar bisa. Kita memujanya seperti mantra, tapi melupakannya ketika deadline datang.
Lihat saja bahasa sehari-hari kita. Kata tidur kerap dijadikan sinonim untuk kemalasan. “Kerja, jangan tidur saja” atau “Negara jangan tidur” padahal tidur adalah kebutuhan dasar manusia, bahkan hak biologis yang sama pentingnya dengan makan dan bernapas.
Di sisi lain, ketika kita benar-benar lelah dan butuh istirahat, rasa bersalah muncul. “Masak baru jam sembilan malam udah ngantuk.” Kita hidup dalam paradoks, bangsa yang mencintai tidur tapi menyanjung kelelahan.
Budaya Lokal
Ada juga dimensi sosial yang menarik. Dalam budaya lokal, tidur sering dikaitkan dengan ketenangan batin. Di Bali misalnya, orang tua kerap menasihati anak-anaknya, “Tidur yang nyenyak biar mimpinya bagus.” Di Jawa ada pepatah “ngantuk iku tandha tentrem” yang berarti ngantuk adalah tanda tenteram. Artinya, orang yang bisa tidur dengan tenang adalah orang yang damai.
Tapi kini ketenangan itu makin langka. Kita tidur di tengah dengung notifikasi, lampu kota yang tak pernah padam, dan pikiran yang sibuk menghitung tagihan. Tidur pun menjadi semacam perlawanan kecil terhadap dunia yang terlalu cepat.
Mungkin itu sebabnya kita mengaku paling suka tidur, karena di balik pengakuan itu terselip kerinduan untuk benar-benar beristirahat.
Coba perhatikan kehidupan urban. Di Denpasar, Jakarta, atau Surabaya, malam hari bukan lagi waktu beristirahat, melainkan perpanjangan dari siang. Restoran masih ramai, ojek daring masih melaju, dan para pekerja kreatif masih menatap layar laptop sambil menyeruput kopi dingin.
Ada kebanggaan tertentu ketika seseorang berkata “aku belum tidur sejak kemarin.” Seolah begadang menjadi simbol produktivitas, padahal ia perlahan menggerogoti kesehatan fisik dan mental.
Kita hidup di tengah sistem yang menyanjung kesibukan dan mencurigai ketenangan. Seseorang yang istirahat dianggap malas, padahal ia sedang menyelamatkan tubuhnya dari kehancuran kecil yang tak terlihat. Tidur menjadi bentuk perlawanan yang paling sunyi terhadap kapitalisme yang memuja efisiensi.
Sementara di sisi lain, masyarakat desa masih memelihara kebiasaan tidur yang lebih alami. Jam sembilan malam mereka sudah lelap, jam lima pagi sudah bangun. Tidak ada lampu terang yang menyala semalaman, tidak ada suara motor, tidak ada kecemasan digital. Di tempat-tempat seperti itulah kita menemukan sisa kearifan lama, bahwa tidur bukan sekadar kebutuhan, melainkan bagian dari ritme alam.
Namun ironi terjadi ketika gaya hidup kota menyusup ke desa melalui gawai. Anak-anak desa kini juga begadang menonton siaran langsung, bermain gim, atau berselancar di TikTok. Tidur yang dulu tenang kini direcoki cahaya biru dari layar ponsel. Teknologi memberi kenyamanan, tapi sekaligus mencuri ketenangan.
Perlunya Sistem Sosial
IKEA tentu tidak salah. Mereka hanya mencatat bahwa di Indonesia tidur dianggap penting dan membahagiakan. Tapi cinta terhadap tidur tak otomatis membuat kita cukup tidur. Sama seperti cinta terhadap buku tak selalu membuat kita membaca.
Kita butuh lebih dari sekadar kesadaran. Kita butuh sistem sosial yang menghargai waktu istirahat. Jam kerja manusiawi, ruang privat yang tenang, dan budaya yang tidak menertawakan orang yang memilih tidur lebih awal.
Pemerintah sering bicara tentang indeks kebahagiaan, tapi lupa bahwa kebahagiaan sederhana juga bergantung pada seberapa nyenyak rakyat tidur malam ini. Bangsa yang terus-menerus kurang tidur adalah bangsa yang lelah, dan bangsa yang lelah sulit berpikir jernih.
Mungkin penghargaan sebagai negara paling suka tidur ini bukan prestasi, melainkan peringatan lembut. Kita suka tidur karena terlalu penat hidup di dunia yang terus menuntut bangun. Kita mencintai tidur karena hanya di sana kita bisa lepas dari segala kewajiban sosial, target, dan notifikasi.
Bayangkan sejenak, sebuah malam tanpa sinyal, tanpa notifikasi, tanpa rasa bersalah karena ingin beristirahat. Bayangkan tidur sebagai bentuk kebebasan terakhir yang masih bisa kita miliki di dunia yang menuntut kita terus produktif.
Jadi jika suatu malam nanti kamu bisa tertidur tanpa rasa bersalah, tanpa mimpi buruk, tanpa memikirkan pekerjaan yang belum selesai, selamat. Kamu sedang mengalami kemewahan sejati di negeri yang paling suka tidur tapi jarang benar-benar istirahat. (kanalbali/KAD)


