DENPASAR, kanalbali.id – Fotografer muda Ade Gita Ahimsa menggelar pameran fotografi “To Walk and Cross” di Rumah Mentari, Penatih, Dangin Puri, Denpasar hingga 14 Juni mendatang.
Foto yang dipamerkan adalah karya-karya terbaru yang digarap dalam tiga bulan terakhir. “Aku ingin menampilkan kesanku terhadap proses perjalanan masa kecilku, dari rumah tempat tinggalku hingga lingkungan sekolahku,” sebutnya.
Ia menggunakan pendekatan fotografi ekspresif dalam proses itu dimana kamera bukan sekedar alat untuk menangkap obyek visual. Tapi juga digunakan untuk mengungkapkan kembali suasana batin, emosi maupun kenangannya di masa lalu.
Karena itu batasan-batasan foto dokumentatif yang standar dirasakannya tidak cukup untuk memenuhi ekspektasinya itu. Hasilnya adalah foto-foto yang sepintas tak memenuhi kaidah fotografi dari segi pencahayaan, komposisi serta batasan yang lain.

Seperti dalam foto yang obyeknya adalah kebun luas tempatnya bermain di masa lalu. Ia menampilkan sorot cahaya matahari yang over exposure menimpa tanaman di kebun yang kini di sebelahnya telah berdiri sebuah rumah kost.
“Cahaya matahari itu menggambarkan kegembiraanku di masa lalu dan di masa kini karena kenanganku bermain bersama teman-teman,” ujarnya.
Pada foto yang lain dia memotret seorang bocah di halaman rumah yang dulu ditinggalinya. Namun bocah itu tampil dalam balutan cahaya putih sebagai kenangan atas dirinya sendiri di masa lalu.
Seniman dan akademisi I Made Susanta Dwitanaya menyebut keberanian Ade Ahimsa yang baru saja lulus dari ISI Denpasar itu layak diapresiasi. “Sangat jarang yang berani mengambil alternatif menampilkan hal baru dalam dunia fotografi di Bali,” sebutnya.

Hal itu menciptakan kesan bahwa fotografi hanya menjadi mekanisme reproduksi secara massal yang kehilangan aura dari obyek atau suatu peristiwa. Upaya Ade, kata dia, merupakan bentuk pemulihan fotografi dalam hal memulihkan ingatan akan atmosfir dan rasa yang pernah dialami di masa lalu.
Fotografer senior JP Christo menyebut trend semacam ini sebenarnya sudah muncul dalam dunia fotografi di Eropa saat ini. Foto-foto yang blur atau menampilkan kesan tertentu sudah diterima sebagai bentuk ekspresi yang bisa dijelaskan kepada khalayak penikmat foto. ( kanalbali/RFH )


