Penulis: Angga Wijaya
SENJA perlahan turun di Warung Kopi Serabi Dulu Lanan, Minggu 15 Februari 2026. Cahaya jingga menempel di dinding warung sederhana itu.
Di sudut ruangan, belasan anak muda duduk melingkar. Tidak ada panggung. Tidak ada backdrop. Tidak ada spanduk besar. Hanya percakapan, tawa, cerita, dan lagu yang dinyanyikan bersama.
Sore itu menjadi pertemuan terakhir Jembrana English Club sebelum memasuki Ramadan. Saya tidak berada di sana, tetapi cerita-cerita yang sampai kepada saya melalui sambungan daring sehari setelahnya terasa hidup. Imam Barker, salah satu penggagas komunitas itu, bercerita dengan suara yang tetap tenang seperti biasanya.
“Selama sepuluh bulan terakhir kami rutin setiap minggu. Total sudah 28 pertemuan,” katanya, Senin (16/2/2026) melalui sambungan telepon.
Di kabupaten Jembrana yang sering disebut orang hanya ketika hendak menyeberang lewat Gilimanuk, 28 pertemuan bukan angka kecil. Ia adalah tanda konsistensi.
Sebelum menetap di Jembrana, Imam tumbuh di Dusun Wanasari, Denpasar, yang lebih dikenal sebagai Kampung Jawa. Kawasan itu menjadi salah satu simpul komunitas Muslim di Bali. Ia tumbuh dalam lingkungan religius, tetapi juga terbuka.
Di masa mudanya, Imam intens bergaul dengan para seniman Denpasar. Ia akrab dengan lingkungan Jatijagat Kampung Puisi di Renon. Komunitas ini dikenal banyak melahirkan penyair, penulis, dan dramawan muda berbakat.
Di sana ia bertemu almarhum Umbu Landu Paranggi, sosok karismatik yang menjadi mentor banyak penulis muda. Ia juga bergaul dengan GM Sukawidana, Mas Ruscitadewi, Wayan Jengki Sunarta, Pranita Dewi, Kim Al Ghazali, Sulis Gingsul AS, Moch Satrio Welang, Bonk Ava, Hendra Utay, hingga Achmad Obe Marzuki dan nama-nama lain.
Lingkar itu membentuk cara berpikirnya. Diskusi puisi, pembacaan naskah, perdebatan gagasan kebudayaan menjadi santapan rutin. Ia tidak hanya menyukai bahasa Inggris karena tata bahasa, tetapi karena sastra. Ia membaca William Shakespeare dan Edgar Allan Poe, lalu membandingkannya dengan penyair-penyair Indonesia yang ia kenal langsung. Dari ruang-ruang itu ia belajar satu hal penting, bahasa hidup ketika diberi ruang dialog.
Pindah dan Menemukan Oase
Pernikahannya dengan gadis Muslim asal Negara membawa Imam meninggalkan Denpasar. Ia pindah ke Jembrana. Perpindahan itu bukan hanya soal alamat, tetapi juga soal lingkungan intelektual.
“Awalnya saya kira akan kehilangan ruang diskusi,” pungkasnya.
Yang ia temukan justru sebaliknya. Ia menemukan komunitas Muslim yang cair, diskusi-diskusi kecil selepas salat, dan anak-anak muda yang sebenarnya haus ruang belajar.
Jangan Sampai Jadi Spammer Posting di Medsos
Ia mulai mengamati lingkungan sosial di sekitar Negara dan Loloan. Banyak majelis ilmu keagamaan. Banyak pengajian. Tetapi ia tidak menemukan wadah komunitas belajar ilmu umum seperti bahasa Inggris yang gratis dan terbuka.
“Banyak anak muda ingin belajar bahasa Inggris, tapi malu. Takut salah. Merasa tidak punya teman,” ujarnya.
Pertanyaan sederhana muncul dalam benaknya, kenapa tidak dibuat saja ruang belajar santai yang terbuka untuk siapa pun.
Awal Mula JEC
Bersama Hilman Najib, ia memulai langkah kecil pada April 2025. Mereka sepakat membuat pertemuan sederhana. Tidak ada ruangan khusus. Tidak ada fasilitas mewah. Tidak ada sponsor.
Mereka mengajak teman-teman terdekat. Duduk melingkar. Berkenalan. Berbicara seadanya dalam bahasa Inggris. Salah sedikit, tertawa bersama, lalu mencoba lagi.
Pertemuan pertama mungkin canggung. Peserta awal hanya enam orang. Minggu-minggu berikutnya kadang turun, kadang naik. Pernah suatu kesempatan yang hadir hanya dua orang. Tetapi mereka tetap bertemu. “Konsistensi itu yang kami jaga,” kata Imam.
Dari minggu ke minggu, Jembrana English Club tumbuh perlahan. Ia bukan sekadar tempat belajar tata bahasa. Ia menjadi ruang bertemu, ruang berbagi, ruang bertumbuh.
Mengapa gratis? Pertanyaan itu sering muncul. Imam menjawab dengan tenang, kursus bahasa Inggris cukup mahal bagi sebagian anak muda. Ia tidak ingin faktor biaya menjadi penghalang.
“Tujuan kami bukan materi. Ini niat mengabdi dan berbagi ilmu,” ujarnya.
Ia menjadi sukarelawan yang tidak dibayar. Ia ingin membedakan JEC dengan kursus formal. Di sini tidak ada biaya pendaftaran. Tidak ada kewajiban membeli modul. Yang ada hanya komitmen hadir dan mau belajar. Bagi Imam, mengajar adalah bagian dari mencari berkah di dunia pendidikan.
Atmosfer Anak Muda Jembrana
Imam mengakui setiap daerah punya karakter berbeda. Pemuda-pemudi Jembrana, menurutnya, antusias jika diberi ruang berbicara. “Mereka suka kalau didengar. Apalagi kalau topiknya menarik bagi mereka,” katanya.
Karena itu metode JEC tidak mengikat secara kaku. Tidak ada tekanan. Tidak ada target hafalan. Yang penting adalah keberanian berbicara.
Anggota aktif JEC saat ini sekitar sepuluh orang. Total member mencapai 30 orang termasuk anggota baru. Pada pertemuan terakhir sebelum Ramadan di Warung Kopi Serabi Dulu Lanan, hadir 16 peserta. Tema sore itu Sharing, Storytelling and Singing Together.
Kegiatan dimulai pukul 17.00 WITA dengan doa bersama. Setelah itu, peserta berbincang menggunakan bahasa Inggris selama lima menit. Kebiasaan ini menjadi ciri khas JEC. Tak ada tekanan. Tak ada rasa takut salah.
Sesi storytelling menjadi momen emosional. Beberapa anggota menceritakan aktivitas harian, pertemanan, tantangan kuliah, bahkan kegelisahan pribadi.
“Lewat cerita, kami ingin setiap anggota merasa dihargai dan dipedulikan,” ujar Hilman.
Di sesi terakhir, lagu-lagu dinyanyikan bersama. Gitar dimainkan. Penyanyi lokal Jembrana, Eva, ikut memeriahkan. Dua mahasiswa dari PTIQ Jakarta juga hadir. Sore itu ditutup pukul 18.30 WITA dengan doa bersama.
Di warung sederhana itu, JEC menegaskan semboyan mereka, We stand together, We fall together, We win together.
Lebih dari Sekadar Bahasa
Bagi anggota seperti Aan, JEC bukan hanya tempat belajar bahasa Inggris. “Di sini kami bukan hanya belajar. Kami bertumbuh bersama. Mental kami terasah,” katanya.
Kalimat itu menegaskan bahwa JEC adalah ruang aman. Ruang untuk mencoba tanpa dihakimi. Ruang untuk membangun rasa percaya diri.
Menjelang satu tahun perjalanan pada April 2026, Imam menyadari perjalanan ini masih panjang. Ia tidak mengejar jumlah besar. Ia mengejar dampak.
Dari pergaulannya bersama para penyair di Denpasar, Imam Barker belajar bahwa komunitas adalah soal komitmen. Dari Jembrana, ia belajar bahwa makna tidak selalu lahir di pusat keramaian.
“Saya merasa ini seperti jalan pulang,” katanya.
Jalan pulang bukan selalu berarti kembali ke tempat asal. Kadang ia berarti menemukan tempat di mana kita merasa dibutuhkan.
Di ujung barat Bali, anak-anak muda duduk melingkar, berbicara dalam bahasa yang dulu terasa asing bagi sebagian dari mereka. Mereka tertawa ketika salah. Mereka mencoba lagi. Mereka saling menyemangati.
Jembrana English Club mungkin sederhana. Tetapi di ruang-ruang sederhana seperti itulah harapan sering kali tumbuh.
Dan bagi Imam Barker, dari Kampung Jawa hingga Jembrana, perjalanan ini bukan sekadar pindah kota. Ia adalah perjalanan merawat bahasa, merawat manusia, dan menemukan makna dalam pengabdian. (*)


