Kampanye Publik di Tabanan, Animals Don’t Speak Human Dorong Gerai Kopi Gunakan Telur Cage-Free

 TABANAN, kanalbali.id – Belasan pegiat kesejahteraan hewan dari Animals Don’t Speak Human (ADSH) menggelar kegiatan kampanye publik di kawasan Lapangan Alit, Tabanan.

Kegiatan tersebut mendorong sebuah gerai kopi berinisial FC  untuk segera menerbitkan komitmen publik dan peta jalan (roadmap) transisi menuju penggunaan telur cage-free secara bertahap.

Kampanye publik tersebut disampaikan melalui kegiatan leafleting, dan aksi dengan mengenakan kode QR berjalan yang berisikan link petisi.

Melalui kampanye publik ini, ADSH mengajak masyarakat untuk lebih memahami asal-usul bahan pangan yang dikonsumsi sehari-hari sekaligus mendorong perusahaan agar memasukkan kesejahteraan hewan sebagai bagian dari praktik bisnis dan rantai pasok yang bertanggung jawab.

Kegiatan kampanye publik dilanjutkan dengan kegiatan photo opportunity di depan store FC  Tabanan.

Kegiatan ini ditujukan sebagai bentuk kehadiran nyata dan dorongan langsung kepada perusahaan agar mendengar suara konsumennya sendiri.

“Jika dengan bangga mengusung nilai kepedulian sosial, inovasi, dan kualitas terbaik bagi pelanggan. Jika kepedulian memang menjadi nilai utama, mengapa penerapan kesejahteraan hewan masih belum terlihat dalam kebijakan bisnisnya?” Ujar Novia Kirana, Campaigner, Animals Don’t Speak Human.

Kirana menambahkan “Sustainability bukan hanya tentang apa yang kita konsumsi, tetapi juga bagaimana produk itu dihasilkan dan kita perlu mulai peduli pada kehidupan yang ada di baliknya. Kami melihat gerai ini belum bersikap transparan terhadap sumber telur yang mereka pakai dalam rantai pasoknya,” tambah Kirana.

ADSH mendorong FC untuk mengambil langkah nyata melalui komitmen bebas sangkar (cage-free) yang jelas, transparan, dan memiliki target waktu yang terukur.

Bagi ADSH, cage-free bukan sekadar pilihan produksi, melainkan langkah memberi kesempatan bagi ayam petelur untuk mendapatkan hak mengekspresikan perilaku alaminya.

“Kami ingin gerai ini tidak berhenti pada wacana sustainability, tetapi menunjukkan komitmen tersebut menjadi perubahan nyata dalam rantai pasoknya dengan segera menerbitkan komitmen publik dan peta jalan transisi menuju penggunaan telur cage-free secara bertahap,” jelas Kirana.

Dorongan ini diperkuat oleh petisi daring di change.org, yang digagas koalisi Animal Friends Jogja (AFJ) dan Act for Farmed Animals (AFFA), dan telah ditandatangani lebih dari 19.000 orang. Ini merupakan bukti nyata bahwa publik semakin peduli pada bagaimana produk yang mereka konsumsi sehari-hari dihasilkan.

“Kita tidak harus menjadi konsumen yang sempurna untuk membuat perubahan. Kita bisa mulai dengan peduli, berani bertanya dan mempertimbangkan produk yang memperhatikan kesejahteraan hewan. Menjadi konsumen yang sadar bukan berarti harus menjadi konsumen yang sempurna, ini soal menyadari bahwa setiap pilihan kita punya konsekuensi,” tutup Kirana. (kanalbali/RLS/RFH)

Apa Komentar Anda?