Bali dengan nuansa alamnya yang asri dan nyaman untuk di kunjungi, potensi mangrove sebagai destinasi wisata juga menjadi salah satu daya tarik wisatawan mancanegara.
Hutan bakau (mangrove) yang terlerletak di Denpasar selatan ini wajib kita jaga dan lestarikan. Pandemic covid-19 ini telah meluas di 216 negara termasuk Negara yang sering mengunjungi Pulau Bali sebagai pilihan destinasi wisata.
Menurunnya aktivitas pariwisata membuat pertumbuhan ekonomi di Bali mengalami kontraksi paling rendah sampai dengan minus 12 % di tahun 2020 paling rendah diantara seluruh daerah di Indonesia.
I Nyoman Mardika selaku aktivis penggiat lingkungan hidup sangat Mengapresiasi aktivitas TNI AD Kodam IX Udayana yang diinisiasi oleh Dandim Badung Kol. Inf. I Made Alit Yudana terkait revitalisasi, penyelamatan dan pelestarian lingkungan hidup utamanya hutan mangrove yang ada di desa pemogan yang termasuk dalam program ketahanan pangan TNI AD.
Bahwasanya dijelaskan menurut Dandim Badung kegiatan tersebut tidak terlepas dari dukungan masyarakat serta dukungan dari kumpulan generasi milenial yang diwadahi oleh Yayasan Adhi Guna Maha Karya yang selama ini banyak membantu kegiatan- kegiatan sosial, kemanusiaan dan lingkungan hidup yang direncanakan oleh Kodim 1611/Badung.
Kades Siap Mendukung Penuh Program TNI AD bersama Yayasan Adhi Guna Maha Karya tersebut serta berkomitmen bersama-sama salah satunya untuk menyelenggarakan tempat pembibitan bakau di desanya serta penanaman pohon bakau pada hutan mangrove yang masih belum terjamah tentunya tidak terlepas dari peran serta masyarakat pemogan itu sendiri sebagai masyarakat penunjang utama hutan bakau, disertai kelompok-kelompok nelayan Simbar Segara dan Batu Lumbang kelompok nelayan yang ada didalam hutan mangrove itu.
Akibat dari penurunan fungsionalitas yang terjadi pada hutan mangrove Bali seperti kerusakan hutan akibat perambahan hutan, alih fungsi lahan, Penumpukan Sampah serta penumpukan sendimentasi dari dua sungai besar yaitu Sungai Tukad Badung dan Sungai Tukad Mati; Serta banyaknya tanaman mangrove yang mati akibat kurang pengelolaan dan pemeliharaan pohon mangrove.
Keberadaan mangrove dipercaya menjamin ketersediaan ikan, apalagi hampir 60% anggota kelompok nelayan memiliki mata pencaharian utama sebagai nelayan, hal ini dibuktikan dengan semakin berkurangnya luasan hutan mangrove menyebabkan menurunnya pendapatan masyarakat secara drastis karena tidak dapat memperoleh hasil ikan karena penurunan populasi ikan akibat berkurangnya tempat hidup ikan dikawasan hutan mangrove.
Berkurangnya luasan hutan mangrove akibat dari perubahan alih fungsi lahan dan rusaknya kawasan hutan mangrove.
Mangrove sebagai salah satu solusi peningkatan ekonomi Potensi mangrove lain sangat bermanfaat bagi masyarakat sekitar hutan mangrove revitalisasi hutan mangrove ini sangat diharapkan dan akan mendapat dukungan penuh dari kelompok nelayan Batu Lumbang dan Kelompok Nelayan Simbar Segara.
I Nyoman Mardika menyatakan juga bahwa keseimbangan alam dan kelestarian lingkungan hidup sangat baerpengaruh terhadap kehidupan masyarakat Bali, dimana dasar prinsip kehidupan masyarakat Bali sedari dulu adalah selalu bersinergi dengan alam.
Dengan kegiatan revitalisasi hutan mangrove Bali maka diharapakan peningkatan ketahanan pangan masyarakat Bali, khususnya pada desa-desa di wilayah hutan mangrove Bali yaitu enam desa di Kota Denpasar, (Sanur Kauh, Sidakarya, Sesetan, Serangan, Pedungan, dan Pemogan) dan wilayah Kabupaten Badung meliputi (Kuta, Tuban, Kedonganan, Jimbaran, dan Tanjung Benoa). – IST



Be the first to comment