“Nglaleng Bangke”: ‘Rebel’ ala Remaja Bali

Bermain layangan tradisional jenis celepuk menjadi cara remaja di Bali menumpahkan kreativitas seni - Zul T Eduardo
Bermain layangan tradisional jenis celepuk menjadi cara remaja di Bali menumpahkan kreativitas seni - Zul T Eduardo

Penulis: Angga Wijaya

Di BALI, ada istilah yang kadang bikin orang tua geleng-geleng kepala, yakni “Nglaleng Bangke”. Orang yang disebut begitu biasanya remaja atau anak muda yang nakal, bandel, malas belajar, jarang di rumah, atau suka menghilang ke sana-ke mari.

Dari luar, mereka terlihat “bermasalah”, tapi bagi yang paham budaya lokal, mereka sedang menjalani fase yang wajar dalam kehidupan manusia. Bahkan fase ini—yang di mata sebagian orang dianggap kacau—justru membentuk ketangguhan, kecerdasan sosial, dan kemampuan menghadapi kehidupan yang tak semua remaja “patuh” punya.

Fase ‘Rebel’

Psikologi perkembangan mengatakan, masa remaja adalah fase mencari identitas. Erik Erikson menyebutnya sebagai “Identity vs. Role Confusion”. Ini saat remaja mencoba berbagai peran, menentang aturan, dan merasakan dunia dengan caranya sendiri. Anak yang “nglaleng bangke” mungkin malas belajar, sering pergi tanpa pamit, atau mengurung diri di kamar, tidur seharian, tampak tak punya semangat hidup.

Kedua tipe ini—yang aktif memberontak dan yang pasif mengurung diri—sesungguhnya sedang belajar. Mereka belajar mengenal diri, menguji batas, merasakan konsekuensi, dan berinteraksi dengan orang lain. Dalam konteks ini, “nakal” bukan berarti gagal; itu adalah proses alami untuk membentuk karakter.

Diberi Ruang dan Dipahami

Yang menarik, budaya Bali memberi ruang kultural bagi perilaku semacam ini. Di banjar, dalam kegiatan adat, atau dalam interaksi sehari-hari, anak muda bisa “menjelajah” dunia sosial mereka tanpa dikekang sepenuhnya. Mereka bisa nakal, bisa diam, tapi tetap terhubung dengan komunitas.

Banjar, misalnya, memantau tanpa mengekang. Anak yang sering pergi ke warung, nongkrong dengan teman, atau ikut permainan jalanan tetap diawasi secara sosial. Budaya ini memberi pesan tersirat; kami memahami, tapi kami tetap ada di sini. Dalam budaya Bali, perilaku ini tidak selalu dihukum. Justru pengalaman hidup nyata dianggap penting, sama seperti pelajaran di sekolah.

Anak yang disebut nglaleng bangke seringkali memiliki jaringan sosial yang luas. Teman-teman mereka bisa menjadi seperti saudara. Dari interaksi ini, mereka belajar membaca situasi, memahami orang lain, menyelesaikan konflik, dan mengelola emosi—kemampuan yang kadang tak dimiliki anak-anak yang patuh dan berprestasi akademik tinggi.

Mereka belajar hidup, bukan sekadar mematuhi aturan. Dan itu membentuk ketangguhan. Banyak yang kelak sukses, bukan karena nilai raport, tapi karena pengalaman hidup yang kaya, fleksibilitas sosial, dan keberanian menghadapi tantangan.

Bagi sebagian guru atau orang tua, perilaku nglaleng bangke bisa terlihat mengganggu, seperti nilai rendah, jarang ikut les, malas disiplin. Tapi bila dilihat dari perspektif psikologi dan budaya, fase ini bisa menjadi investasi pengalaman hidup. Anak belajar dari interaksi nyata, kesalahan, dan kebebasan terbatas yang diberikan komunitas. Mereka mengasah kreativitas, kemampuan adaptasi, dan keterampilan sosial—modal hidup yang tak selalu bisa diajarkan di kelas.

Menjadi nakal atau memberontak di masa remaja bukan berarti gagal di masa depan. Banyak yang pernah disebut nglaleng bangke tumbuh menjadi orang dewasa tangguh, kreatif, dan berpengalaman. Mereka belajar mandiri, membangun jaringan sosial, dan menghadapi risiko—kompetensi yang kadang lebih kuat dibandingkan remaja yang “selalu patuh”.

Budaya Bali memberi ruang agar fase ini dipahami, bukan dihukum. Dengan begitu, anak muda tetap bisa mengeksplorasi identitasnya, belajar dari pengalaman nyata, dan membentuk karakter yang matang.

Nglaleng Bangke bukan sekadar istilah untuk nakal atau memberontak. Ini adalah fase alami perkembangan remaja, yang diakui secara budaya Bali sebagai proses pembentukan identitas dan karakter. Anak-anak yang masuk kategori ini belajar melalui pengalaman, membangun persahabatan erat, mengasah kecerdasan sosial dan emosional, dan mempersiapkan diri untuk kehidupan dewasa yang lebih kompleks.

Budaya Bali memahami bahwa hidup tak hanya soal nilai rapor atau patuh pada aturan. Ada fase untuk memberontak, untuk diam, untuk tersesat, agar akhirnya remaja bisa tumbuh menjadi individu yang tangguh, cerdas, dan mampu menavigasi dunia dengan percaya diri. Dan di sanalah Nglaleng Bangke menemukan maknanya, yakni sebagai ruang belajar hidup yang unik, lokal, dan manusiawi. (*)

  • Angga Wijaya adalah jurnalis dan penulis yang tinggal di Denpasar. Buku terbarunya berjudul Laki-Laki yang Menata Lukanya di Rak Buku.
Apa Komentar Anda?