Pameran MANUSIA 4.0: Diver(city): Merespon Isu Interseksionalitas dan Merayakan Keberagaman

Penulis: Fatima Gita Elhasni

RIUH ramai terdengar berbeda di salah satu venue Berbagi Ruang & Kopi pada Sabtu (17/1).

Jika biasanya ia dipenuhi oleh teriakan bebas para penonton konser, kali ini terpasang berbagai instalasi kolaboratif dengan corak warna cerah dan meriah. Kesan inilah yang ingin dibuat oleh PKBI Daerah Bali dalam pameran MANUSIA 4.0: Diver(city).

Memupuk harapan untuk kota yang sehat, pameran MANUSIA 4.0: Diver(city) merespon terkait isu interseksionalitas HIV dan kekerasan seksual di tengah keberagaman identitas.

Melanjutkan seri pameran MANUSIA sebelumnya, PKBI Daerah Bali menggandeng Gurat Institute sebagai kolaborator dalam mewujudkan visual pameran.

Gurat Institute merupakan sebuah kolektif seniman Bali yang berfokus pada program riset, dokumentasi, pengkajian dan pengembangan kebudayaan (visual culture), melalui presentasi gelaran seni rupa dan karya-karya kolaboratif yang melibatkan lintas seniman.

Kurator pameran MANUSIA 4.0, Savitri Sastrawan mengaku senang kembali terlibat sebagai kolaborator, yang menurutnya kali ini terasa sangat berbeda dibanding sebelumnya.

“Yang kali ini benar-benar desain sebenarnya, karena bikin peta digital dan game digital. Beda banget dengan pameran sebelumnya yang masih berbasis artwork seperti lukisan atau patung,” ujarnya.

Tantangan terbesar, menurut Savitri, adalah mengolah data yang sangat padat menjadi visual yang menarik tanpa membebani pengunjung, sehingga pendekatan desain komunikasi visual dengan warna-warna cerah dipilih agar tetap mudah diakses.

Ia menambahkan, isu-isu sensitif yang sulit dibicarakan di ruang publik justru perlu dikemas secara menarik agar bisa memantik percakapan.

Dengan mengajak seniman muda seperti Yessiow dan Kadek Bagaskara yang dikenal dengan visual karya yang cerah dan modern, pameran ini harapannya bisa memantik isu kesehatan dengan cara yang tidak ‘menakutkan’.

Goal-nya dari awal itu menjembatani dan mengenalkan ke publik tentang hal-hal yang selama ini dianggap tidak konvensional supaya bisa jadi prioritas juga di kehidupan kita,” katanya. Savitri berharap pameran ini dapat membuka ruang dialog yang lebih inklusif sekaligus mendorong kesadaran publik terhadap keberagaman dan keadilan sosial.

Menariknya, harapan untuk kota yang sehat ini dibangun bukan di atas angan semata. Berbagai karya yang dipamerkan merupakan bentuk diseminasi publik dari program Indonesia Health Cities with Pride (IHCP) yang telah berjalan pada 2023–2025.

“Karena implementasi di 2025 ini kami fokuskan pada pengembangan media sebagai puncak perjalanan IHCP, kami ingin ada sesuatu yang bisa digunakan secara berkelanjutan, bahkan setelah program ini berakhir,” ujar Ni Kadek Sintya Angreni, Program Manager IHCP.

Oleh karena itu, bentuk karya yang dipamerkan merupakan product knowledge yang diharapkan bisa dimanfaatkan di masa mendatang. 

Ia menjelaskan, perjalanan IHCP kemudian direfleksikan hingga memilih tema Diver(city), yang menekankan pentingnya keberagaman, khususnya dalam isu kesetaraan gender dan HIV.

“Harapannya, pameran ini bisa menjadi titik awal untuk memperkenalkan keberagaman secara lebih luas, sehingga masyarakat semakin sadar dan inklusif,” katanya. Lebih jauh, pameran ini diharapkan dapat mendorong terwujudnya kota yang sehat melalui akses layanan kesehatan yang bebas stigma dan diskriminasi, termasuk bagi komunitas ODHIV dan penyintas kekerasan seksual.

Salah satu fakta yang perlu mendapatkan perhatian bersama adalah hasil penelitian IHCP pada tahun 2024 yang menemukan adanya keengganan remaja untuk datang ke akses layanan kesehatan karena kurangnya akses informasi serta menariknya lembaga layanan.

Ketika ditanyakan layanan dan diperlukan, sekitar 63,4% remaja menginginkan layanan konseling, diikuti oleh tes HIV (52,7%) dan tes Infeksi Menular Seksual atau IMS (44,5%).

Fakta ini menunjukkan adanya kebutuhan untuk mengakses layanan, namun belum banyak lembaga yang dapat menarik sekaligus memberikan informasi lengkap terkait layanan kesehatan terkait.

Namun demikian, temuan lain menunjukkan bahwa stigma berbasis gender masih kuat, di mana 33,6% responden meyakini pemerkosaan lebih sering dilakukan oleh laki-laki karena dianggap memiliki hasrat seksual tinggi.

Hal ini menegaskan pentingnya penguatan edukasi yang sensitif gender dalam layanan kesehatan remaja.

Data-data ini divisualisasikan ke dalam infografis berbentuk Pulau Bali dan bersanding dengan beberapa karya seperti video Story of Change dari penerima manfaat program, modul fasilitator serta buku tentang interseksionalitas isu dan analisis kebijakan yang diproduksi selama program IHCP dijalankan. 

Dalam dinamika berproses di IHCP, peserta pelatihan serta pihak-pihak yang terlibat pun berkontribusi pada karya photovoice yang dipamerkan di MANUSIA 4.0: Diver(city).

Terdapat 12 foto sekaligus narasinya yang menceritakan bagaimana upaya mereka dalam membangun kota yang adil, setara, dan sehat, khususnya dalam isu HIV dan kekerasan seksual. Pesertanya pun sangat beragam, mulai dari remaja pelajar hingga pemangku kebijakan di daerahnya masing-masing.

Untuk membuat pameran lebih interaktif, di MANUSIA 4.0 ini, tim juga mengembangkan board game bertemakan alur jaringan rujukan untuk penyintas kekerasan seksual di kampus.

Melalui board game ini, pemain diajak berperan sebagai pihak ketiga yang menyaksikan kejadian kekerasan seksual di kampus dan belajar menentukan langkah yang tepat. Permainan ini juga memperkenalkan alur rujukan layanan kesehatan, termasuk bagi penyintas IMS dan Orang dengan HIV, mulai dari kontak pertama di lingkungan pendidikan hingga akses layanan lanjutan.

Sebagai penutup, diskusi panel bertajuk Membuka Akses, Menguatkan Hak: Perjalanan Pemenuhan HKSR bagi ODHIV dan Penyintas Kekerasan Seksual digelar untuk memperkuat kesadaran publik sekaligus menegaskan urgensi peran pemerintah dalam penanganan kekerasan seksual.

Panel ini menghadirkan Prof. Dr. Anak Agung Istri Ari Atu Dewi, S.H., M.H. (FH Unud), Dr. Made Sugi Hartono, S.H., M.H., CPM (FHIS Undiksha), serta Ni Wayan Ika Ayu Rayni (IPPI Bali), yang membahas dinamika kebijakan, sistem rujukan, dan praktik layanan dalam pemenuhan HKSR, termasuk hambatan struktural dan praktik baik yang telah berjalan di Indonesia, khususnya di Bali. 

Pameran MANUSIA 4.0: Diver(city) diadakan di Berbagi Ruang & Kopi, Jl. Astasura No.91, Peguyangan Kangin, Denpasar, Bali. Pameran dibuka untuk publik mulai dari tanggal 17-19 Januari 2026. ( kanalbali/RLS )

 

Apa Komentar Anda?