Pemulung, Pahlawan Sampah Terlupakan

Pemilahan sampah di TPA Suwung - IST
Pemilahan sampah di TPA Suwung - IST

Di tengah krisis sampah yang belakangan ramai dibicarakan di Bali, profesi pemulung hampir tidak pernah masuk dalam percakapan resmi. Padahal jika kita mau jujur, mereka adalah pahlawan sampah yang sesungguhnya

Penulis Angga Wijaya

PAGI itu matahari belum sepenuhnya tinggi ketika saya duduk di sebuah warung kopi di Tibubeneng, Badung, Bali. Warung kecil yang berdiri di pinggir jalan itu baru saja membuka hari. Aroma kopi hitam bercampur bau air hujan yang menggenang di jalan depan warung.

Di salah satu bangku kayu, seorang lelaki duduk sambil menyeruput kopi dari gelas kaca. Sepeda motornya diparkir di depan warung. Motor itu terlihat tua, catnya kusam, dan di bagian belakangnya terpasang dua keranjang besar yang menggantung di kanan dan kiri.

Di kampung halaman saya di Negara, Jembrana, orang-orang dulu menyebutnya anting. Saya mendekatinya, lalu kami berbincang. Ia seorang pemulung.

Lelaki itu berasal dari sebuah daerah di Jawa Timur. Sudah belasan tahun ia tinggal di Bali. Dahulu ia bekerja sebagai sopir, tetapi beberapa tahun terakhir ia “banting setir” menjadi pemulung. Setiap pagi ia berangkat memulung dengan sepeda motor tuanya. Anting di belakang motor itulah tempat ia menaruh barang-barang bekas yang berhasil ia kumpulkan sepanjang hari.

Kardus, potongan besi, aluminium, AC rusak, televisi bekas, bahkan kulkas yang telah dianggap tak berguna lagi oleh pemiliknya. Barang-barang itu tidak semuanya ia temukan di tempat sampah. Sebagian ia beli dari pemiliknya. Harga ditentukan lewat tawar-menawar yang sederhana, sering kali hanya berdasarkan insting dan pengalaman.

Jika barang sudah banyak, ia menjualnya ke pengepul rongsokan. Di sanalah semuanya ditimbang. Berat, kondisi barang, dan harga pasaran menentukan berapa rupiah yang ia bawa pulang hari itu. Namun menurutnya, keadaan kini tidak lagi seperti dulu.

“Dulu sehari bisa dapat seratus lima puluh sampai dua ratus ribu. Sekarang dapat lima puluh ribu saja saya sudah Syukur,” katanya sambil meminum kopi.

Ia tidak mengeluh. Kalimat itu keluar seperti laporan singkat tentang keadaan hidup. Saya memandang sepeda motor tuanya lagi. Di dalam anting, beberapa potongan kardus sudah tersusun. Ada juga serpihan logam yang berkilau terkena matahari. Benda-benda yang bagi orang lain mungkin hanya sampah. Bagi dia, itu adalah penghidupan.

Di wilayah Badung, saya memang sering melihat pemulung jenis ini. Mereka menggunakan sepeda motor dengan anting di belakang. Pemandangan ini agak berbeda dengan di Denpasar, di mana pemulung berjalan kaki dengan gerobak dorong masih lebih mudah ditemui. Di Badung, pemulung pemotor tampaknya lebih banyak.

Barangkali karena wilayah ini terus dibangun. Vila-vila baru bermunculan. Restoran dibuka di hampir setiap ruas jalan. Hotel berdiri di bekas lahan sawah yang dulu hijau.

Pembangunan pariwisata itu secara tidak langsung menciptakan satu hal yang jarang dibicarakan, yakni limbah material. Potongan besi dari proyek, kardus pembungkus peralatan, sisa instalasi listrik, dan juga perangkat elektronik yang diganti sebelum rusak total.

Bagi pemulung, semua itu adalah ladang rezeki. Mereka tahu di mana proyek sedang berjalan. Mereka tahu kapan sebuah restoran melakukan renovasi. Mereka bahkan hafal gang-gang tempat vila baru sedang dibangun. Seperti pemburu yang mengandalkan insting, para pemulung membaca tanda-tanda ekonomi dari sisa-sisa barang yang dibuang.

Namun ironisnya, di tengah krisis sampah yang belakangan ramai dibicarakan di Bali, profesi pemulung hampir tidak pernah masuk dalam percakapan resmi. Padahal jika kita mau jujur, mereka adalah pahlawan sampah yang sesungguhnya. Jauh sebelum pemerintah berbicara tentang pemilahan sampah. Jauh sebelum konsep ekonomi sirkular diperkenalkan dalam seminar-seminar lingkungan.

Para pemulung sudah mempraktikkannya setiap hari. Mereka memisahkan kardus dari plastik.
Mereka tahu harga aluminium lebih tinggi dari besi biasa. Mereka mengenali jenis kabel yang mengandung tembaga. Mereka bekerja dengan pengetahuan yang lahir dari pengalaman lapangan, bukan dari buku.

Setiap hari mereka menyelamatkan ratusan kilogram material dari kemungkinan berakhir di tempat pembuangan akhir. Bayangkan jika mereka tidak ada; berapa banyak kardus akan menumpuk di TPA? Berapa banyak logam akan terkubur bersama sampah organik?

Namun jasa itu jarang disebut. Nama pemulung lebih sering muncul dalam konteks yang kurang menyenangkan. Seorang kenalan pernah berkata kepada saya, setengah bercanda namun juga serius. “Pemulung itu sebenarnya pantas dijadikan duta sampah.”

Saya tertawa ketika mendengarnya pertama kali. Tetapi semakin lama saya memikirkannya, kalimat itu terasa masuk akal. Siapa yang setiap hari berhadapan dengan sampah? Bukan pejabat.
Bukan aktivis lingkungan yang berbicara di forum. Melainkan para pemulung.

Mereka yang menyusuri gang-gang perumahan. Mereka yang mengaduk-aduk tumpukan kardus di belakang restoran. Mereka yang menimbang besi tua dengan tangan sendiri. Mereka mengenal wajah sampah lebih dekat daripada siapa pun.

Namun di sisi lain, profesi ini juga sering dipandang dengan curiga. Beberapa kasus kecil telah memberi citra buruk bagi mereka. Ada pemulung yang tertangkap kamera CCTV mencuri barang yang sebenarnya bukan rongsokan. Sepeda anak-anak, atau peralatan rumah tangga yang masih baru. Video seperti itu cepat menyebar di media sosial.

Lalu muncul kesimpulan yang tergesa-gesa. Pemulung dianggap tidak bisa dipercaya. Akibatnya, di banyak gang perumahan kini muncul papan pengumuman: “Pemulung dilarang masuk.”

Kalimat itu terlihat sederhana. Tetapi di baliknya ada sebuah stigma sosial. Padahal kenyataannya jauh lebih kompleks. Tidak semua pemulung melakukan hal buruk.
Banyak dari mereka bekerja dengan cara yang jujur.

Mereka membeli barang bekas secara sah. Mereka menawar dengan sopan.
Mereka mencari rezeki dengan kerja keras. Sayangnya, dalam masyarakat modern yang serba cepat menilai, satu kesalahan sering kali menghapus seratus kebaikan. Di titik inilah kita mulai melihat paradoks yang aneh.

Bali sedang menghadapi persoalan sampah yang serius. Namun kelompok masyarakat yang paling berpengalaman mengelola sampah justru berada di pinggir percakapan. Mereka tidak diundang dalam rapat-rapat kebijakan.
Mereka tidak masuk dalam program resmi. Padahal mereka sudah bekerja jauh sebelum program-program itu lahir.

Mungkin sudah saatnya kita membayangkan pendekatan yang berbeda. Alih-alih memandang pemulung sebagai masalah sosial, mengapa tidak melihat mereka sebagai bagian dari solusi?

Pemerintah daerah sebenarnya bisa mulai dengan langkah yang sederhana, pendataan. Berapa sebenarnya jumlah pemulung yang bekerja di Bali? Berapa yang menggunakan sepeda motor?
Berapa yang berjalan kaki? Di mana wilayah kerja mereka?

Selama ini angka-angka itu hampir tidak pernah disebut secara resmi. Padahal dari sana banyak kebijakan bisa dirancang. Misalnya dengan membentuk komunitas pemulung terdaftar. Mereka bisa diberi kartu identitas kerja. Dengan identitas itu, masyarakat tahu bahwa mereka bukan orang asing yang mencurigakan.

Identitas juga memberi rasa aman bagi pemulung sendiri. Mereka tidak lagi dipandang sebagai penyusup di gang-gang perumahan.

Langkah berikutnya adalah pelatihan pemilahan sampah yang lebih sistematis. Bukan karena pemulung tidak tahu cara memilah, tetapi karena sistem pasar material daur ulang kini semakin kompleks.

Plastik memiliki banyak jenis. Logam juga memiliki kualitas berbeda.Jika pemulung mendapat pelatihan sederhana, nilai jual barang yang mereka kumpulkan bisa meningkat. Penghasilan mereka pun bertambah.

Selain itu, pemerintah bisa melibatkan pemulung dalam sistem bank sampah atau TPS3R. Bayangkan jika setiap desa memiliki jaringan pemulung yang bekerja sama dengan pengelola sampah setempat. Pemulung menjadi penghubung antara rumah tangga dan pusat daur ulang.

Mereka tidak hanya mengumpulkan rongsokan, tetapi juga membantu mengedukasi warga tentang pemilahan sampah. Di titik itu, profesi pemulung berubah dari pekerjaan informal menjadi bagian dari sistem lingkungan yang lebih besar.

Tentu saja semua itu tidak bisa terjadi dalam semalam. Diperlukan kemauan politik, koordinasi, dan terutama perubahan cara pandang. Kita perlu berhenti melihat pemulung hanya sebagai bayangan di pinggir jalan. Mereka adalah pekerja lingkungan. Mereka adalah penyaring pertama dalam rantai panjang pengelolaan sampah.

Pagi di warung Tibubeneng itu akhirnya semakin ramai. Beberapa pekerja proyek datang membeli nasi bungkus. Motor-motor mulai memenuhi halaman kecil warung. Lelaki pemulung yang saya ajak berbincang tadi berdiri. Ia membayar kopinya, lalu merapikan anting di belakang motornya.

Sebelum berangkat, ia berkata singkat; “Sekarang susah, tapi ya dijalani saja.” Ia menyalakan motor tuanya dan perlahan pergi menyusuri jalan. Di belakangnya, dua keranjang anting bergoyang pelan, siap menampung sisa-sisa barang yang dunia anggap tak lagi berharga.

Saya memandangnya sampai ia hilang di tikungan. Dan saya berpikir, mungkin kita sering lupa bahwa peradaban tidak hanya dibangun oleh mereka yang menciptakan barang-barang baru.  Tetapi juga oleh mereka yang menyelamatkan yang lama dari menjadi sampah.  Pemulung adalah bagian dari cerita itu. Pahlawan sunyi yang setiap hari membersihkan dunia kita tanpa pernah diminta. Tanpa upacara, tanpa penghargaan. Dan hampir selalu tanpa disebut namanya. (*)

 Angga Wijaya adalah penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Apa Komentar Anda?