Perubahan Irigasi, Lahan, dan Iklim : Ngojerang Resiliensi Subak Bali? (Tulisan 3)

Pekaseh Subak Padanggalak, Kota Denpasar, Ketut Losen memperlihatkan whatsapp grup subaknya dari telepon genggam pintarnya mengenai informasi prakiraan cuaca dari BMKG Wilayah Denpasar, Jumat (13/2/2026). Informasi ini merupakan prakiraan cuaca setiap 10 harian (dasarian) dan membantunya beserta anggota subak mengambil keputusan untuk mengelola sawahnya kedepan. (Foto : KanalBali.id/Ayu Sulistyowati)
Pekaseh Subak Padanggalak, Kota Denpasar, Ketut Losen memperlihatkan whatsapp grup subaknya dari telepon genggam pintarnya mengenai informasi prakiraan cuaca dari BMKG Wilayah Denpasar, Jumat (13/2/2026). Informasi ini merupakan prakiraan cuaca setiap 10 harian (dasarian) dan membantunya beserta anggota subak mengambil keputusan untuk mengelola sawahnya kedepan. (Foto : KanalBali.id/Ayu Sulistyowati)

Persoalan suhu memanas

Dalam artikel publikasi Haseeb Bakhtary, Lead Consultant Climate Focus di webnya menuliskan peristiwa cuaca ekstrem terkait iklim mengakibatkan jutaan orang terpapar kerawanan pangan dan krisis air.

Ancaman ini sangat parah bagi sekitar 3,5 miliar orang yang tinggal di wilayah yang sangat rentan terhadap dampak negatif perubahan iklim. Yaitu, utama di wilayah-wilayah ini—yang mencakup Afrika, Asia, Amerika Tengah dan Selatan, serta negara-negara berkembang dengan pulau kecil—masyarakat adat, petani skala kecil, dan rumah tangga berpenghasilan rendah. Mereka adalah komunitas yang paling rentan.

Seperti Haseeb sebutkan, petani dan masyarakat adat menjadi yang rentan. Maka pertanian dan sistem pangan seperti halnya di Bali dengan subaknya memang perlu beradaptasi untuk memastikan keamanan pangan serta pola makan yang sehat serta terjangkau. Dan, berdasarkan beberapa data perubahan iklim mulai nyata dan dirasakan di Bali.

Melandrat mengakui soal panasnya matahari beberapa tahun ini memepengaruhi keputusan kebijakannya di dinasnya untuk keberlanjutan pola tanam padi di Buleleng. Prilaku para petani di Bali, berubah ketika terik matahari menyengat sepanjang hari lebih dari 38 derajat Celcius.

Hal tersebut didukung dalam visualsasi garis warna pemanasan yang menunjukkkan anomali suhu udara rata-rata tiap tahunnya di wilayah Indonesia (warming stripes).  Membaranya terik di Indonesia, termasuk Bali, dapat dibaca di website milik Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), seperti yang terlihat pada 8 Januari 2026.

Warna Warming Stripes (Garis Pemanasan) di Indonesia Periode 1980-2024

Sumber : website Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) tentang Warming Stripes.

Warming stripes adalah representasi visual perubahan suhu rata-rata tahunan suatu wilayah selama periode waktu tertentu. Diperkenalkan oleh Prof. Ed Hawkins, seorang ilmuwan iklim dari University of Reading di Inggris, warming stripes menyederhanakan data suhu kompleks menjadi garis-garis vertikal berwarna.

Setiap garis mewakili satu tahun, dengan warna biru untuk tahun-tahun yang lebih dingin dari rata-rata dan merah untuk tahun-tahun yang lebih hangat. Semakin merah warnanya, semakin tinggi suhu tahunan dibandingkan dengan rata-rata historis.

BACA JUGA:

Perubahan Irigasi, Lahan, dan Iklim : Ngojerang Resiliensi Subak Bali? (Tulisan 1)

Setiap garis mewakili satu tahun, dengan warna biru untuk tahun-tahun yang lebih dingin dari rata-rata dan merah untuk tahun-tahun yang lebih hangat. Semakin merah warnanya, semakin tinggi suhu tahunan dibandingkan dengan rata-rata historis.

Berdasarkan data tersebut, kondisi iklim Indonesia pada tahun 2024 (lihat grafis Warna Warming Stripes di Indonesia Periode 1980-2024) mengalami rekor tahun terpanas sepanjang sejarah sebesar +0,8°C dibandingkan suhu normal tahun 1991-2020. Ini menandakan adanya suhu di Indonesia terus meningkat akibat perubahan iklim global.

Warna Warming Stripes (Garis Pemanasan) di Bali Periode 1980-2024

Sumber : website Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) tentang Warming Stripes.

 

Warna Warming Stripes (Garis Pemanasan) di Jakarta Periode 1980-2024

Sumber : website Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) tentang Warming Stripes.
Sumber : website Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) tentang Warming Stripes.

Keterangan warna

Sumber : website Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) tentang Warming Stripes.

Dapat dilihat pula garis merah di Bali ternyata lebih banyak ketimbang di Jakarta sebagai provinsi pembanding. Bali kedapatan berwarna merah tua yang artinya penambahannya bisa sekitar dari 0,80 derajat dari suhu rata-rata 36-37 derajat Celcius.

Dalam artikel publikasi dari Haseeb Bakhtary yang merupakan Lead Consultant, climatefocus.com (2025), menyebutkan peristiwa cuaca ekstrem terkait iklim mengakibatkan jutaan orang terpapar kerawanan pangan dan krisis air.

Ancaman ini sangat parah bagi sekitar 3,5 miliar orang yang tinggal di wilayah yang sangat rentan terhadap dampak negatif perubahan iklim. Yaitu, utama di wilayah-wilayah ini—yang mencakup Afrika, Asia, Amerika Tengah dan Selatan, serta negara-negara berkembang pulau kecil—masyarakat adat, petani skala kecil, dan rumah tangga berpenghasilan rendah. Meraka adalah komunitas yang paling rentan.

Korelasinya dengan Bali, subak dapat masuk dalam komunitas yang paling rentan tersebut. Maka, garis pemanasan yang berwarna merah di Bali, sekiranya bisa patut diwaspadai sebagai alarm kerawanan pangan dan krisis air.

Gambar Ilustrasi Perubahan Prilaku Petani Jaga Sawah karena Teriknya Matahari

Gambar ilustrasi oleh KanalBali.id/Ayu Sulistyowati berdasarkan wawancara dengan Yayasan IDEP Selaras Alam, di Bali, 16 Februari 2026.

 

Losan dan petani lainnya mengakui mengubah jadwal pergi ke sawah gegara suhu Bali memanas seperti 2024. Panasnya mencapai lebih dari 40 derajat Celcius. Petani biasanya pergi ke sawah mulai sekitar pukul 8 atau 9 pagi sampai 5 sore untuk pulang.

Ketika suhu memanas, petani memulai ke sawah lebih mau di pukul 5 pagi sampai 9 pagi. Jeda pulang ke rumah karena tidak kuat panas dan kembali lagi ke sawah sekitar pukul 5 sore.

BACA JUGA:

Perubahan Irigasi, Lahan, dan Iklim : Ngojerang Resiliensi Subak Bali? (Tulisan 2)

 Beragam jurnal, kajian serta pengamatan akademisi terkait perubahan iklim serta dampaknya makin masif terpublikasi. Seakan mengingatkan agar pertanian dan sistem pangan harus beradaptasi. Adaptasi ini guna memastikan keamanan pangan global hingga akses terhadap pola makan yang sehat serta terjangkau.

Data dari Jurnal Manajemen Agribisnis, Vol.10. No.8, Mei 2022, penelitian berjudul “Analisis Ketersediaan dan Kebutuhan Beras di Provinsi Bali Tahun 2020”, dari Ni Wayan Suarni (AKP Madya Dinas Pertanian dan Kesehatan Pangan Provinsi Bali), memuat data-data kebutuhan beras per kabupaten/kota di Bali untuk 2020.

Begitu pula memuat bagaimana dalam waktu beberapa tahun hanya 2 kabupaten dari 9 kabupaten/kota yang surplus beras.

Manajer Kemitraan dan Komunikasi Yayasan IDEP Selaras Alam Edward Angimoy mengatakan banyak data dan fakta memperlihatkan adanya ketananan pangan dari beras padi ini terus menurun di Bali. Hanya saja, lanjutnya, masyarakat dikerucutkan dalam ruang hegemoni nasi sejak paska kemerdekaan sebagai sumber karbohidrat utama.

 

Kekiniannya, lanjut Edward, mulai tren masyarakat hidup sehat dengan mengkonsumsi nasinya dari padi beras lahan organik, pupuk organik dan bibitnya juga unggul organik.

Nah, masalahnya, edukasi organik ini tidak bisa instan begitu saja prosesnya. Ganti pupuk kimia ke organik dan harapan petani dengan penggantian itu produktivitas padi tetap sama di rata-rata 6 ton per hektarnya.

Akan tetapi, kenyataannya tidak segampang itu. Di titik tertentu, panen padi bisa turun terlebih dahulu setelah mengalami proses penurunan pupuk kimia dan menaikan ke organik.

“Butuh ketelatenan merawat sawah dari yang full kimia ke organik, pelan-pelan. Dan bisa dipastikan dititik tertentu produksinya menurun. Karena kita perlu memberi ruang kepada tanah untuk adaptasi. Kita manusia suka lupa dan maunya instan. Itu yang kami berupaya memaklumi petani menjadi pesimis mengganti ke organik,” ujar Edward, Senin (16/2/2026).

Ya, Losan pun mengeluhkan penurunan panen mendekati separuhnya dari rata-rata ketika menggunakan full pupuk kimia. Dan ia masih sulit menerima seutuhnya menggunakan pupuk organik.

“Jelas, Pekaseh seperti Pak Losan frustasi. Karena bisa jadi tidak ada jaminan insentif ketika penurunan produksi itu terjadi di saat berproses penggantian dari kimia ke organik,” tambah Edward.

Bahkan tidak stabilnya ketersediaan beras organik ini dapat mempengaruhi konsumen. Seorang warga Denpasar, awalnya tertarik dan memilih makan nasi organik dari beras organik. Belum sampai lebih dari 2 tahun, ia memutuskan kembali ke beras padi biasa.

Alasannya, ketersediaannya tidak stabil. Ia pun memilih kadang beras organik jika ada, kadang beras biasa saja. “Toh, sama-sama makan nasi,” katanya sambil berseloroh. (kanalbali/IST)

Penulis: Ayu Sulistyowati

*Tulisan ini mendapatkan dukungan beasiswa dari Yayasan Ashoka dan Tempo Institute.

Apa Komentar Anda?