Penulis: Angga Wijaya
Bali selalu tampak baik-baik saja dari kejauhan. Pulau ini dipromosikan sebagai ruang damai, tempat manusia belajar kembali tentang harmoni. Tentang keseimbangan antara sekala dan niskala. Tentang hidup yang selaras dengan alam dan sesama.
Namun di balik lanskap itu, ada sesuatu yang terus berulang dan jarang benar-benar dibicarakan dengan jujur, yakni kematian yang datang dengan cara sunyi, lalu diulang, dan diulang lagi.
Kasus bunuh diri di Bali bukan peristiwa baru. Ia bukan pula kejutan. Justru karena terlalu sering hadir, ia perlahan kehilangan daya kejutnya. Menjadi rutinitas. Menjadi angka. Menjadi berita pendek yang dibaca sambil lalu, lalu ditinggalkan.
Kita sering menyebutnya sebagai “tragedi”. Tetapi jarang bertanya: mengapa tragedi ini terasa seperti pola?
Kematian yang Menular
Dalam kajian psikologi, ada istilah copycat suicide atau Werther Effect. Sebuah fenomena ketika seseorang melakukan bunuh diri setelah terpapar kasus bunuh diri lain yang diberitakan secara luas. Bukan karena ingin meniru secara sadar, melainkan karena menemukan pembenaran emosional.
Dalam bahasa yang lebih sederhana, bahwa kematian bisa menular.
Terutama di masyarakat yang menekan emosi, menjunjung tinggi rasa malu, dan tidak terbiasa membicarakan luka batin secara terbuka. Bali, dalam banyak hal, masuk dalam kategori ini.
Di sini, beban hidup sering dibungkus rapi oleh senyum. Masalah keluarga disembunyikan demi menjaga nama baik. Tekanan ekonomi ditahan agar tidak mencoreng citra “keluarga baik-baik”. Gangguan kesehatan mental masih sering dianggap lemah iman, kurang sembahyang, atau akibat gangguan niskala.
Dalam situasi seperti itu, berita bunuh diri bisa berubah fungsi. Dari informasi menjadi isyarat. Dari kabar duka menjadi kemungkinan.
Dan media, sadar atau tidak, ikut menjadi medium penularannya.
Bali dan Statistik yang Selalu Gagal Menggugah
Data kepolisian melalui Pusat Informasi Kriminal Nasional (Pusiknas) Polri menunjukkan Bali masih menempati posisi teratas sebagai provinsi dengan angka bunuh diri tertinggi di Indonesia. Pada 2023, tercatat sekitar 135 kasus bunuh diri, dengan suicide rate mencapai 3,07 per 100.000 penduduk.
Angka ini sering muncul di berita, tetapi jarang benar-benar dipahami. Ia disebut, lalu ditinggalkan. Tidak pernah benar-benar dijadikan dasar refleksi kolektif.
Padahal, angka hanyalah pintu masuk. Di baliknya ada manusia. Ada keluarga. Ada desa adat. Ada banjar yang tiba-tiba sunyi karena satu warganya memilih pergi dengan cara yang tak bisa diterima nalar.
Ironisnya, di pulau yang kaya ritual kematian, kita justru gagap ketika berhadapan dengan kematian yang tidak “wajar”. Kita sibuk membersihkan secara spiritual, tetapi lupa membersihkan cara berpikir kita tentang kesehatan mental.
Media dan Nafsu Detail
Sebagai jurnalis, saya tahu godaan itu. Godaan untuk menulis lengkap. Detail. Spesifik. Lokasi disebut berkali-kali. Kronologi disusun rapi. Metode dijelaskan seolah bagian dari laporan teknis.
Semua demi satu alasan klasik, yaitu, agar berita terasa “utuh”.
Namun di sinilah masalahnya. Dalam isu bunuh diri, kelengkapan sering kali menjadi kekeliruan etis. Detail yang tidak perlu justru membuka pintu bagi peniruan. Terutama bagi pembaca yang sedang berada di kondisi mental paling rapuh.
Judul-judul sensasional, foto lokasi kejadian, ilustrasi yang dramatis—semua itu mungkin menaikkan klik, tetapi juga menaikkan risiko.
Media sering lupa satu hal: pembaca bukan entitas netral. Mereka membawa luka masing-masing ketika membaca berita.
Dan ketika media gagal menyadari itu, berita tidak lagi sekadar informasi. Ia berubah menjadi pemicu.
Ada kekerasan yang tidak berbunyi dalam bahasa media. Kata-kata seperti “nekat”, “tragis”, atau “mengakhiri hidupnya” sering dipakai tanpa refleksi. Padahal, bahasa semacam ini menyederhanakan penderitaan yang kompleks.
Ia menghapus proses panjang di balik keputusan ekstrem. Ia menutup ruang empati. Ia bahkan bisa mempermalukan keluarga yang ditinggalkan.
Dalam budaya Bali, rasa malu adalah beban yang berat. Pemberitaan yang ceroboh bisa membuat keluarga korban bukan hanya berduka, tetapi juga terasing secara sosial.
Alih-alih membantu, media justru memperdalam luka.
Pagar, CCTV, dan Simbol Semu
Upaya pencegahan fisik sering dijadikan solusi cepat. Pagar dipasang. CCTV diperbanyak. Upacara pembersihan digelar. Semua ini penting, tetapi sering kali hanya menenangkan permukaan.
Jembatan Tukad Bangkung di Plaga, Badung, adalah contoh nyata. Meski telah dilengkapi berbagai pengamanan, kasus bunuh diri tetap terjadi. Ini membuktikan bahwa persoalan bunuh diri tidak bisa diselesaikan dengan pendekatan fisik dan simbolik semata.
Masalahnya bukan pada jembatan. Masalahnya ada pada manusia yang berdiri di atasnya.
Selama tekanan hidup terus dipendam, selama berbicara tentang kesehatan mental masih dianggap tabu, selama media lebih sibuk memburu sensasi daripada membangun kesadaran, maka tragedi akan selalu menemukan jalannya sendiri.
Media sering mengklaim diri sebagai saksi zaman. Tetapi dalam isu bunuh diri, media lebih dari sekadar saksi. Ia adalah aktor.
Ia bisa memilih untuk menulis dengan jeda. Dengan empati. Dengan kesadaran bahwa setiap kalimat bisa berdampak pada hidup orang lain.
Media bisa menggeser fokus, yakni,dari bagaimana seseorang mati, menuju bagaimana kita bisa mencegah kematian berikutnya. Dari sensasi menuju solusi. Dari tragedi menuju refleksi.
Menyertakan informasi layanan kesehatan mental, membuka ruang dialog, menghadirkan perspektif ahli—semua ini bukan tambahan, melainkan tanggung jawab.
Pulau yang Perlu Belajar Mendengar
Bali tidak kekurangan ritual. Tetapi kita kekurangan ruang mendengar. Ruang untuk mengakui bahwa tidak semua orang kuat. Bahwa spiritualitas tidak selalu menyembuhkan depresi. Bahwa senyum bukan tanda baik-baik saja.
Mewaspadai copycat suicide berarti mengakui bahwa kematian tidak pernah berdiri sendiri. Ia bergerak melalui cerita, melalui bahasa, melalui cara kita membicarakannya.
Dan selama media masih abai pada kekuatan kata-katanya sendiri, selama kita masih nyaman menjadikan tragedi sebagai konsumsi harian, maka luka itu akan terus diwariskan.
Pulau ini tampak tenang. Tetapi di bawahnya, ada jeritan yang belum kita dengar dengan sungguh-sungguh. (*)
- Angga Wijaya adalah jurnalis dan penulis yang tinggal di Denpasar. Buku terbarunya berjudul Laki-Laki yang Menata Lukanya di Rak Buku.


