BADUNG, kanalbali.id – Tokoh dari Puri Mengwi, Badung, Agung Gde Agung akan menjalani ritual suci Mebhiseka Ida Cokorda pada Senin, 7 Juli 2025 di Pura Taman Ayun dengan melibatkan 11 Sulinggih atau Pendeta Hindu.
Hal disampaikan Ketua Panitia Pelaksana I Wayan Subawa dalam jumpa pers di Puri Mengwi, Sabtu (5/7/2025).
“Kami menyampaikan permakluman kepada masyarakat dan mohon maaf bila nantinya ada perubahan-perubahan dalam pengaturan lalu lintas dan kegiatan lain,” ujarnya.
Rangkaian upacara akan didahului dengan pemasangan Destar Kebesaran oleh Ida Bhagawanta yang dikenakan di kepala Anak Agung Gde Agung di Merajan Puri Ageng Mengwi yang dilanjutkan dengan acara inti di Pura Taman Ayun.
Ujian COVID-19 bagi Sang Perawat Senior
Setelah menjalani berbagai rangkaian upacara, pada saat “Mejaya-Jaya”, Ida Bhagawanta akan membisikan Bhiseka Ida Cokorda.
Jero Rsi kemudian menganugerahkan dan memberitahu nama panggilan dan nama lengkap atau gelar suci kepada Anak Agung Gde Agung dan istri yang dilanjutkan dengan pemberian tongkat komando dan pemasangan lencana di dada.
“Mulai saat itulah, Anak Agung Gde Agung beserta istri akan berganti nama dan panggilan,” sebutnya.
Pemilihan Pura Taman Ayun yang berstatus Warisan Budaya Dunia/World Heritage oleh Unesco sejak Jumat, 6 Juli 2012 sebagai lokasi upacara Bhiseka Ratu bukan tanpa sebab.
Selain karena terdapat Pura Paibon Puri Mengwi, kawasan suci Pura Taman Ayun merupakan kahyangan jagat tempat distanakannya Pura-Pura Kahyangan Jagat di Bali berupa meru.
Kronologi Keputusan Mebhiseka
Dengan meninggalnya Ida Cokorda Puri Agung Mengwi ke XII pada tahun 2000, maka gelar Ratu mengalami kekosongan di Puri Mengwi. Saat itu sudah ada usulan agar AA Gde Agung menjalani Mebhiseka namun tokoh kelahiran 21 Mei 1949 itu menyatakan belum bersedia.
Karena itu pasemetonan Puri sepakat menjadi AA Gde Agung sebagai penglingsir puri yang memimpin kewajiban adat dan tradisi berdasarkan agama Hindu Dresta Bali. AA Gde Agung kemudian menduduki sejumlah jabatan public sepert Bupati Badung dua periode dan kemudian menjadi anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Dapil Bali.
Kemudian, pada Minggu, 15 Januari 2023 berlangsung Paruman Asta Puri atau pertemuan keluarga besar puri yang terdiri dari Puri Gede, Puri Selat, Puri Banyuning Bongkasa, Puri Mayun, Puri Anyar, Puri Kamasan, Puri Muncan Kapal, dan Puri Kapal Kaleran di Puri Saren Kauh Kamasan, Sibang, Badung.
Saat itu Penglingsir Puri Kamasan, I Gusti Agung Gde Dirga mengusulkan agar Anak Agung Gde Agung sebagai Penglingsir Puri Ageng Mengwi segera “Mebhiseka Ratu Ida Cokorda”.
Namun, kala itu, Anak Agung Gde Agung membalas dengan ucapan terima kasih dan memilih lebih fokus dalam merenovasi Pura Luhur Seseh.
Seiring berjalannya waktu, permintaan tersebut muncul kembali pada Parum Semeton Puri, Minggu, 13 Agustus 2023. Dalam pertemuan keluarga besar puri itu semua peserta sepakat meminta agar Anak Agung Gde Agung “Mebhiseka Ratu Ida Cokorda”.
Pada Pemilu 2024, sejatinya Gde Adung sudha kembali bersiap untuk maju sebagai calon. Namun kemudian mendapat nasehat dari Bhawagawanta Puri atau pendeta yang menjadi penasehat Puri untuk bersiap melakukan Abhiseka sehingga batal maju dalam pencalona.
Dukungan pun disampaikan dalam beberapa kali rapat oleh krama atau masyarakat dari 38 desa adat anggota Mangu Kerta Mandala, Kecamatan Mengwi. Mangu Kerta Mandala adalah wadah atau forum bagi seluruh bendesa adat se-Mengwi yang berperan penting dalam menjaga kelestarian adat, agama, dan budaya.
“Setelah berpikir dalam rentang waktu yang cukup lama dan dengan mempertimbangkan pentingnya meneruskan tradisi (dresta) puri, menjaga eksistensi Puri Ageng Mengwi, dan peningkatan kualitas spiritualitas, saya akhirnya menerima permintaan semeton puri yang didukung oleh krama Desa Adat Mangu Kerta Mandala Kecamatan Mengwi,” kata Gde Agung. ( kanalbali/RFH )


