SRIYantraDUO dalam Amor Fati, Kegelisahan Artistik Dua Seniman Bali

Kegelisahan gagasan dalam bentuk visual yang artistik dan sekaligus sebagai bentuk kolaborasi dalam format duo seniman Bali, Made Bayak dan Kartika Dewi  kepada publik.

oleh: SRIYatraDUO 

SRIYatraDUO berakar dari  Sri Yantra atau Sri Chakra dari Tripura Sundari adalah Yantra atau mandala yang dibentuk oleh sembilan segitiga yang saling bertautan mengelilingi sebuah titik di tengah yang disebut Bindu.

Empat dari segitiga ini tegak mewakili energi maskulin dan lima dari segitiga ini terbalik mewakili Shakti atau energi feminin.

Konsep ini kami pakai untuk merepresentasikan kegelisahan gagasan dalam bentuk visual yang artistik dan sekaligus sebagai bentuk kolaborasi dalam format duo seniman Bali, Made Bayak dan Kartika Dewi, sepasang manusia yang telah mengikat komitmen bersama dan dengan latar belakang pendidikan seni rupa di ISI Denpasar, hadir dengan mengadopsi konsep dasar pada manusia yaitu feminimXmaskulin.

Shakti energi feminim yang memiliki makna kekuatan, energi, atau daya, secara mitologis, selalu digambarkan sebagai feminin, sering dipersonifikasikan sebagai dewi, pasangan feminin ilahi dari dewa maskulin. Tetapi pada tingkat pemahaman terdalam, Shakti bahkan melampaui gender.

Shiva/energi maskulin adalah manifestasi kesadaran murni, saksi abadi dan tak berubah dari keberadaan.

Ia mewakili ketenangan, ketidakterikatan, dan kehadiran yang mendasar yang mengamati dan menahan ruang bagi penciptaan untuk berkembang. Dia bukanlah tindakan, tetapi kesadaran yang memberi arah pada tindakan, adalah ketenangan kosmik, potensi yang memungkinkan semua gerakan dan penciptaan, itu semua adalah dasar bagi Shakti untuk menari.

Pameran perdana yang menandai kehadiran duo seniman ke blantika seni bertajuk “Amor Fati”, yang akan berlangsung 10 April – 1 Mei 2026 di Tat Art Space, Jalan Imam Bonjol, Gang Rahayu No. 16A, Denpasar.

Amor fati menjadi tema dan judul pamer merupakan frasa yang berasal dari bahasa Latin, yang secara harfiah berarti “cinta akan takdir” atau “mencintai nasib”.

Konsep ini mengajarkan sikap menerima dan merangkul segala hal yang terjadi dalam hidup – baik itu kebahagiaan maupun penderitaan, keberhasilan ataupun kegagalan – sebagai bagian tak terpisahkan dari perjalanan hidup seseorang.

Lebih dari sekadar penerimaan pasif, Amor fati mengajak kita untuk secara aktif mencintai dan menghargai setiap pengalaman hidup, termasuk yang tampaknya negatif atau menyakitkan. Ini bukan berarti kita harus menyukai penderitaan, melainkan mengambil sikap yang lebih konstruktif dalam menghadapinya.

Friedrich Nietzsche, filsuf Jerman abad ke-19, adalah tokoh yang paling sering dikaitkan dengan konsep amor fati. Ia menggambarkannya sebagai formula untuk kebesaran manusia: “Bahwa seseorang tidak menginginkan apa pun yang berbeda, tidak ke depan, tidak ke belakang, tidak dalam segala kekekalan. Bukan hanya menanggung apa yang diperlukan… tetapi mencintainya.”

Dengan kata lain, Amor fati mengajarkan kita untuk tidak hanya pasrah menerima takdir, tetapi juga mengembangkan rasa cinta dan apresiasi terhadap segala aspek kehidupan. Ini termasuk momen-momen sulit yang mungkin ingin kita hindari, namun justru berpotensi membentuk karakter dan membawa pelajaran berharga.

Sejarah dan Asal-usul Konsep Amor Fati

Nietzsche dikenal sebagai tokoh yang mempopulerkan amor fati, konsep ini sebenarnya memiliki akar yang lebih dalam pada tradisi filsafat Yunani-Romawi kuno, khususnya aliran Stoikisme. Para filsuf Stoa seperti Epictetus, Seneca, dan Marcus Aurelius telah mengajarkan pentingnya menerima takdir dan menemukan kebahagiaan dalam segala situasi.

Stoikisme menekankan bahwa kita harus fokus pada hal-hal yang berada dalam kendali kita, seperti pikiran dan tindakan kita sendiri, sambil menerima dengan lapang dada hal-hal yang di luar kendali kita. Pemikiran ini menjadi landasan bagi konsep amor fati yang kemudian dikembangkan lebih lanjut oleh Nietzsche.

Nietzsche sendiri mulai menggunakan istilah amor fati dalam karyanya “Die fröhliche Wissenschaft” (Ilmu yang Gembira) pada tahun 1882. Ia kemudian mengembangkan konsep ini lebih lanjut dalam karya-karya selanjutnya, menjadikannya salah satu aspek penting dalam filosofinya tentang kehidupan dan eksistensi manusia.

Penting untuk dicatat bahwa amor fati bukanlah ajaran untuk bersikap pasif atau fatalistik. Sebaliknya, ini adalah panggilan untuk mengambil sikap aktif dalam memaknai dan merespons setiap peristiwa dalam hidup, termasuk yang tampaknya negatif atau merugikan.

Amor fati mengajarkan kita untuk menerima segala aspek kehidupan tanpa syarat, termasuk hal-hal yang mungkin ingin kita ubah atau hindari.

Transformasi perspektif: Konsep ini mendorong kita untuk melihat tantangan dan kesulitan bukan sebagai beban, melainkan sebagai kesempatan untuk pertumbuhan dan pembelajaran.

Fokus pada respons internal: Alih-alih terpaku pada keadaan eksternal yang sering kali di luar kendali kita, amor fati mengajak kita untuk memusatkan perhatian pada bagaimana kita merespons situasi tersebut.

Apresiasi terhadap keseluruhan: Amor fati mengajarkan untuk menghargai kehidupan sebagai satu kesatuan yang utuh, di mana setiap pengalaman memiliki perannya sendiri dalam membentuk siapa kita.

Ketabahan dan resiliensi: Dengan mencintai takdir, kita mengembangkan ketahanan mental untuk menghadapi berbagai tantangan hidup dengan lebih baik.

Prinsip-prinsip ini tidak hanya relevan dalam konteks filosofis, tetapi juga memiliki implikasi praktis dalam kehidupan sehari-hari. Dengan menginternalisasi prinsip-prinsip amor fati, kita dapat mengembangkan pandangan hidup yang lebih seimbang dan resilien.

Meskipun berakar pada filsafat kuno, konsep amor fati tetap sangat relevan dalam konteks kehidupan modern. Bahkan, bisa diargumentasikan bahwa prinsip ini menjadi semakin penting di era yang penuh ketidakpastian dan perubahan cepat seperti sekarang. Bbeberapa cara amor fati dapat diterapkan dalam menghadapi tantangan kontemporer:

Mengatasi stres kerja: Dalam dunia kerja yang kompetitif, amor fati dapat membantu kita melihat tekanan dan tantangan sebagai kesempatan untuk berkembang secara profesional, alih-alih sebagai beban yang menekan.

Menghadapi perubahan teknologi: Dengan perkembangan teknologi yang pesat, amor fati mengajarkan kita untuk merangkul perubahan ini sebagai bagian tak terhindarkan dari evolusi masyarakat, alih-alih menolak atau takut akan hal baru.

Mengelola ekspektasi sosial media: Di era digital di mana kehidupan orang lain sering tampak sempurna di media sosial, amor fati mengingatkan kita untuk mencintai perjalanan hidup kita sendiri tanpa terus-menerus membandingkannya dengan orang lain.

Menghadapi krisis global: Dalam menghadapi tantangan global seperti pandemi atau perubahan iklim, amor fati dapat membantu kita menemukan kekuatan dan makna bahkan dalam situasi yang tampak tak terkendali.

Mengatasi kegagalan: Dalam budaya yang sering kali terobsesi dengan kesuksesan, amor fati mengajarkan kita untuk melihat kegagalan sebagai bagian penting dari proses pembelajaran dan pertumbuhan.

Dengan menerapkan prinsip amor fati dalam konteks modern, kita dapat mengembangkan ketahanan mental yang diperlukan untuk berkembang di dunia yang terus berubah. Ini bukan berarti kita harus pasif menerima ketidakadilan atau kondisi yang merugikan, tetapi lebih pada mengambil sikap yang konstruktif dalam menghadapi realitas yang ada sambil tetap berupaya untuk membuat perubahan positif.

Melalui pameran ini SRIYatraDUO, pasangan Made Bayak dan Kartika Dewi memunculkan identitas “baru” dalam berkarya seni dan meramaikan kancah dunia perseni-seni-an di Bali, Indonesia dan global.

Pameran ini menghadirkan kegelisahan mereka melalui 6 karya yang diciptakan pada tahun 2026. Pameran ini juga melibatkan Savitri Sastrawan sebagai penulis.

Acara pembukaan akan dihelat 10 April 2026 pada pukul 17.00 juga diisi oleh Tuki Gray sebagai pemandu tone.

Melalui keseimbangan Sri Yantra dan oase mental “Amor Fati”, moralitas manusia menjadi banyak pertanyaan, tetapi sebagai manusia tetap berpegangan akan rasionalitas.Kembali ke refleksi diri, dalam kasus SRIyantraDUO adalah bagaimana keluarga kecil dapat berkembang dengan baik dalam kesenian serta berkehidupan. [ kanalbali/IST)

Apa Komentar Anda?