Unicef Harapkan Bali Bisa Jadi Model Penanganan Pandemi

Kgiatan saat simulasi penanganan Flu Burung - IST

DENPASAR–  Perwakilan Unicef Indonesia Arie Rukmantara mengatakan, sekitar 13 tahun yang lalu tepatnya di Kabupaten Jembrana Bali pernah melaksanakan simulasi pandemi yang diikuti oleh 5.000 orang. Simulasi ini turut melibatkan pihak bandara, rumah sakit, puskesmas, hingga sekolah.

“Saat itu diberitakan oleh media massa sebagai simulasi pandemi terbesar di dunia karena diikuti hingga ribuan orang,” kata dia secara virtual dalam webinar yang digagas Yayaasan Wisnu, Rabu, (8/9/2021).

Menurutnya, dari hasil simulasi tersebut melahirkan sebuah dokumen atau catatan-catatan yang dapat digunakan jika ada pandemi seperti situasi saat ini. Penanganan pandemi COVID-19 juga dinilai tidak ada yang baru atau diluar hasil simulasi, terutama untuk Bali.

“Sebagai tempat terlaksananya simulasi pandemi, Bali bisa saja sudah punya dokumen dan ahli yang fokus pada penanganan pandemi itu sendiri,” tambahnya.

Ia menjelaskan, dalam dokumen tersebut juga terdapat kebiasaan yang dilakukan dalam situasi pandemi, seperti memakai masker. Hanya saja hasil simulasi tersebut diadaptasi kembali dengan apa yang harus dilakukan saat ini.

Pandemi COVID-19 mungkin bukan yang terakhir, sambungnya, bisa saja ada pandemi lain yang akan muncul. Generasi penerus diminta untuk tidak lupa bahwa Bali memiliki rujukan terkait penanganan pandemi dalam simulasi di 2008, dan kitab-kitab lainnya yang sudah tersimpan ratusan tahun lalu.

“Kalau ada pandemi, apapun penyebabnya telah terdapat dokumen yang bisa dibaca dan diadaptasi pada kondisi terkini, sehingga respon itu cepat dilakukan diawal pandemi yang mungkin terjadi lagi pada 20, 40, dan 100 tahun mendatang,” jelas Arie. (kanalbali/Luh Sugiari)

Apa Komentar Anda?

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.