DENPASAR, kanalbali.id – Sebuah reels atau video pendek tentang peningkatan kasus HIV di Bali melalui akun TikTok @latief.ikhsan beredar di media sosial.
Video tersebut menguraikan peningkatan kasus HIV di Bali secara gamblang namun tidak ada penjelasan secara akurat mengenai penyebabnya.
Dua orang dalam video tersebut secara gamblang menjelaskan jumlah kasus HIV terbanyak di Bali yakni di Kota Denpasar, Badung dan Buleleng.
Kota Denpasar mencapai 16 ribu kasus, Badung 4500 kasus dan Buleleng sebanyak 3800 lebih kasus. Disebutkan bahwa video itu bahwa jumlah kasus ini terdata September 2024 lalu.
Dua orang dalam video itu juga mengatakan jika Kota Denpasar terbanyak karena terlalu bebas, kos-kosan bebas, seks bebas.
BACA JUGA: Tekan Stigma dalam Pencegahan HIV, Peringatan Hari Kondom Internasional Digelar di Bali
“Hanya iman yang bisa menyelamatkan kita dari HIV Aids. Denpasar ini terlalu bebas dan kamu termasuk orangnya,” begitu isi percakapan dua orang dalam video tersebut.
Kemudian keduanya juga menuding jika Badung sering mengirim orang yang positif ke Kota Denpasar.
Kemudian keduanya menuding Buleleng sebagai wilayah rawan, karena banyak mahasiswa yang cenderung bebas dan seterusnya.
Menanggapi video itu, Humas KPA Bali Gus Yuni Ambara mengaku cukup terkejut dengan isi video. “Kelihatan mereka membuat video itu datanya diambil dari berbagai informasi media. Namun tidak disebutkan bahwa itu data akumulatif, sehingga kelihatan sangat menyeramkan,” katanya, Selasa (6/5/2025)
Data akumulatif artinya, angka yang ditampilkan adalam sejak pencatatan di tahun 1987. Kenyataannya, dari jumlah itu ada yang sudah meninggal, ada yang sudah pindah kota lain dan bahkan yang sudah di luar Bali.
Menurut Ambara, terlihat data di Denpasar memang paling banyak. Tapi bukan berarti kondisinya yang terburuk. Di Bali layanan Tes HIV memang sudah ada di 120 Puskesmas, pemeriksaan HIV yang komprehensif dengan dukungan sejumlah LSM masih terfokus di Denpasar.
“Fasilitasnya sudah siap. Bahkan sudah desa adat dan Banjar di Kota Denpasar yang sangat care dengan upaya pencegahan HIV,” katanya.
Hal itu membuat pendataan di Denpasar juga mencakup warga dari luar Denpasar yang melakukan pengobatan dan pemeriksaan di Kota Denpasar.
“Banyak juga warga dari luar Bali yang jika obat ARV habis, dan kebetulan mereka sedang ada di Denpasar lalu mereka akses ke banyak Faskes di Kota Denpasar,” ujarnya.
Ia meminta kepada seluruh masyarakat Bali agar tidak mudah percaya dengan informasi yang beredar namun bukan dari lembaga yang berwenang yang menjelaskan.
Apalagi video itu beredar di berbagai platform media sosial namun tidak ada penjelasan detail mengenai data dan informasi yang ada dari orang yang berkompeten di bidangnya.
Untuk pencegahan HIV, Yuni menekankan kembali untuk mencegah perilaku seksual berisiko, yakni dengan berganti-ganti pasangan tanpa menggunakan kondom. Perilaku heteroseksual ini merupakan penyebab utama peningkatan jumlah penularan HIV di Bali.
( kanalbali/IST/RFH)



Be the first to comment