DENPASAR, kanalbali.id – Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) menylenggarakan diskusi dalam rangka Rapat Kerja Nasional (Rakernas) BEM SI 2022 dengan menggandeng Walhi Bali sebagai pembicara di Gedung Ksirarnawa Art Center Denpasar.
Made Krisna Dinata, S.Pd. selaku Direktur Walhi Bali mengungkapkan, keadaan Mangrove Tahura Ngurah Rai dan pesisir Sanur saat ini sedang tidak baik-baik saja. Ia menjelaskan bahwa pesisir Bali saat ini sedang dalam keadaam terancam oleh rencana Proyek Terminal LNG di Kawasan Mangrove dan Pesisir Sanur.
BACA JUGA: Peradah Kritisi Pembangunan Bali: Dari Alih Fungsi Lahan hingga Ancaman Krisis Air
Bokis juga menyinggung soal Mangrove yang dijadikan Show Case pada KTT G20 oleh Presiden Joko Widodo. Namun di sisi lain adanya Pembangunan Terminal LNG di Kawasan Mangrove dan Pesisir Sanur akan menerabas hutan Mangrove.
Tren Korean Glass Lips Kini Bisa Didapat dengan Satu Swipe Y.O.U Cloud Paint Glassy Glow Tint
“Hal ini sungguh fenomena yang sangat kontraproduktif, disatu sisi Mangrove akan dipamerkan sebagai komitmen perubahan iklim, namun disatu sisi terancam karena ingin dibabat dijadikan Terminal LNG” tungkasnya.
Lebih lanjut dalam paparan hasil risetnya yang dilakukan bersama KEKAL(Komite Kerja Advokasi Lingkungan Hidup) Bali dan Frontier-Bali Bokis membeberkan Hutan Mangrove, Terumbu Karang serta lamun yang juga ada di Pesisir Sanur yang menurutnya sebagai satu kesatuan ekosistem terancam hancur jika proyek ini dipaksakan.
Sampai detik ini segala perijinan yang mengakomodir proyek tersebut belum dicabut oleh Gubernur Bali.

“Atas hal tersebut sampai detik inipun kami masih menuntut agar segala perijinan yang mengakomodir pembangunan Terminal LNG di Kawasan Mangrobe dan Pesisir Mangrove dicabut, dan Gubernur Koster mengeluarkan pernyataan tertulis untuk tidak membangun Terminal LNG di Mangrove” Tegas Krisna Bokis
Tanggapan pengurus BEM
Kordinator Wilayah BEM SI Bali, Hendrawan Prayoga berstatmen bahwa dirinya menolak adanya Terminal LNG di Kawasan Mangrove yang tentunya akan merusak ekosistem Mangrove dan Pesisir Sanur. “Kita menolak Terminal LNG itu dibangun di Mangrove” Ungkapnya.
Selain itu dirinya mengaku akan siap untuk membersamai masyarakat dalam mengawal isu Tolak Terminal LNG di Kawasan Mangrove dan Pesisir Sanur. “Kita akan membersamai kawan-kawan yang turun dan juga masyarakat Adat,” Tegasnya.
Terakhir Kordinator Pusat BEM SI, Abdul Kholiq menjelaskan bahwa dirinya sangat khawatir terkait isu lingkungan di Bali, oleh sebab itu pihaknya mengundang Walhi Bali sebgai pembicara.
Selain itu dirinya juga berkomitmen untuk menarasikan isu lokal yaitu Tolak Terminal LNG di Kawasan Mangrove dan Pesisir Sanur menjadi isu nasional. “Kita komit pengen bottom up, dari isu lokal ini bisa juga dinarasikan di nasional,” jelasnya. (kanalbali/RLS)



Be the first to comment