“Where The Sun is Harvested”, Pesan Besar dari Bondalem tentang Energi Matahari

Produser Film Where The Sun is Harvested (Memanen Matahari) Dian Suryantini bersama ketiga pemeran anak saat screening film di Festival Rakyat Pekan Iklim Bali 2026
Produser Film Where The Sun is Harvested (Memanen Matahari) Dian Suryantini bersama ketiga pemeran anak saat screening film di Festival Rakyat Pekan Iklim Bali 2026

DENPASAR, kanalbali.id –  Festival Rakyat Pekan Iklim Bali 2026 menghadirkan lima film pendek yang mengangkat persoalan lingkungan dan kehidupan masyarakat Bali. Diantaranya Memanen Matahari, Viewfinder, Satu Pemberhentian Lagi, Dapur Laut, dan Berlayar.

Masing-masing menghadirkan pendekatan penceritaan yang berbeda untuk menerjemahkan persoalan lingkungan menjadi pengalaman manusia yang dapat dirasakan penonton.

Kelima film tersebut diputar perdana di Flow Workspace, Kawasan Rendah Emisi Sanur, dalam program Lensa Iklim Bali. Program ini merupakan fellowship film pendek yang mempertemukan sineas dengan isu lingkungan dan pengalaman masyarakat di berbagai wilayah Bali melalui lima karya.

Produser film Memanen Matahari, Ni Luh Dian Suryantini mengungkapkan, gagasan film ini berangkat dari kenyataan bahwa panel surya masih belum banyak dikenal masyarakat, termasuk anak-anak yang tinggal di sekitar fasilitas tersebut.

Sebelum proses produksi dimulai, tim menanyakan pengetahuan mereka tentang panel surya. Hasilnya, anak-anak tersebut ternyata belum mengetahui apa itu panel surya dan bagaimana teknologi itu bekerja.

“Ketika kita berbicara hal yang besar, kami ingin menyederhanakan itu. Pesan yang besar disampaikan secara sederhana. Karena itu, kami memilih sudut pandang anak-anak,” kata Dian usai acara Premiere 5 Film Pendek Lensa Iklim Bali dan Screening Film Energi untuk Negeri, Sabtu (17/10).

Film ini mengangkat pemanfaatan panel surya di Desa Bondalem, Buleleng, Bali. Di Desa ini warga tidak memiliki sumber air berupa mata air pegunungan maupun aliran sungai. Kebutuhan air dipenuhi melalui sumur bor, dengan pompa yang menggunakan listrik dari energi matahari yang ditangkap panel surya.

Dari situ, anak-anak mulai memahami hubungan antara sinar matahari, pembangkitan listrik, dan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat. Anak-anak dipilih sebagai pemeran sekaligus penyampai pesan karena dinilai mampu menerjemahkan persoalan energi yang kompleks menjadi cerita sederhana, jujur, dan mudah dipahami lintas generasi.

“Anak-anak tidak hanya diposisikan sebagai aktor, tetapi juga sebagai peserta yang belajar memahami teknologi di lingkungan mereka sendiri. Mereka diajak menelusuri pertanyaan mendasar: dari mana air yang digunakan warga desa berasal, dan bagaimana air itu bisa sampai ke rumah,” tandas Dian.

Di balik cerita tentang energi bersih tersebut, terdapat persoalan pemanfaatan teknologi yang tak kalah penting. Dian menyebut fasilitas panel surya di lokasi itu telah beroperasi sejak 2017, dengan 77 bidang panel dan kapasitas yang disebut mencapai 20.000 watt atau 20 kilowatt.

Fasilitas tersebut masih berfungsi untuk mendukung pengoperasian pompa air. Akan tetapi, sistem itu belum dilengkapi baterai penyimpanan energi. Akibatnya, kelebihan listrik yang dihasilkan ketika produksi melampaui kebutuhan saat itu tidak dapat disimpan untuk digunakan kemudian.

Communications Specialist Koalisi Bali Emisi Nol Bersih, Aisyah Madeleine menyampaikan Lensa Iklim Bali menjadi salah satu cara untuk memperluas percakapan mengenai aksi iklim melalui pendekatan budaya dan kreativitas. Bahwa persoalan iklim tidak terpisah dari keputusan dan perubahan yang berlangsung dalam kehidupan sehari-hari.

“Ketika membicarakan transisi menuju emisi nol bersih, kita juga perlu melihat bagaimana perubahan itu,” katanya.  (kanalbali/NAN)

Apa Komentar Anda?