Menerapkan Etika Digital saat Terkoneksi secara Global

pixabay by Wokandapix

DI era digital seperti sekarang ini terdapat miliaran manusia yang saling terkoneksi satu sama lain di seluruh dunia. Menurut Anggie Ariningsih, seorang CEO Fintech P2P Lending, dengan demikian kita bisa memanfaatkan keadaan saling terhubung itu untuk memperluas koneksi, pengetahuan, hingga bisnis.

Anggie menjelaskan, internet sendiri merupakan jaringan terluas dalam sistem teknologi informasi dan bisa diakses dalam bentuk teks, foto, dan video melalui smartphone.

“Secara global karena banyak orang terkoneksi di seluruh dunia, maka akan ada perbedaan-perbedaan budaya antara kita dan orang lain. Bahkan di Indonesia sendiri memiliki berbagai perbedaan,” jelas Anggie saat mengisi Webinar Literasi Digital di Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, Jumat (17/9/2021).

Terkait perbedaan tersebut, kita perlu menerapkan cara kita dalam bersikap dan beretika. Hal ini karena kita bisa berinteraksi, bersosialisasi, dan berkomunikasi di ruang digital. Memahami multikulturalisme dan toleransi di ruang digital juga berhubungan apakah komentar kita baik, keramahan, dan lainnya.

“Jempolnya di dunia digital buat untuk komentar yang baik-baik. Kalau kita tidak punya sesuatu yang baik untuk dikatakan atau ditulis, tidak usah mengatakan apapun,” ungkapnya.

pixabay by XANDER_DEZ

Tutur bahasa di ruang digital mempengaruhi reputasi kita. Kita ingin dikenal sebagai orang yang bersifat seperti apa. Oleh karena itu, kita perlu memperhatikan kembali tujuan menggunakan platform media sosial, apakah untuk menyebarkan ujaran kebencian, body shaming, hoaks, pelecehan seksual ataukah menjadi generasi yang menggunakan media digital sebagai alat komunikasi, berkarya, bertutur kata baik, dan lainnya.

Ia mengatakan, dengan adanya koneksi global ini diharapkan nilai budaya yang telah kita miliki bisa bertukar dengan budaya lainnya dengan baik. Mengambil nilai positif dari budaya luar untuk diterapkan. Misalnya, budaya tepat waktu saat ada pertemuan baik offline atau online.

Saat ini, orang Indonesia terkenal ramah di dunia nyata, tetapi justru kurang sopan saat berinteraksi di ruang digital. Anggie memaparkan, menurut pakar media sosial, tiga faktor utama yang ada di ruang digital ialah hoaks, ujaran kebencian, dan diskriminasi. Ketiganya itu merupakan masalah yang harus kita hadapi bersama di ruang digital. Caranya dengan memperbanyak konten positif dan mengetahui bagaimana cara berinteraksi dengan orang lain di dunia digital. Berinteraksi di ruang maya harus sama sopannya dengan di dunia nyata, seperti mengatur tutur kata.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Lombok Timur, NTB, Jumat (17/9/2021) juga menghadirkan pembicara, Gebryn Benjamin (CX Manager), Suparian (Wakil Rektor 3 Bidang Kemahasiswaan UGR Kabupaten Lombok Timur), dan Putri Langi (Key Opinion Leader).

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital. (kanalbali/RLS)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.