Begini Cara Mempersiapkan Konten Positif di Ruang Digital

pixabay by mohamed_hassan

MEDIA DIGITAL jenisnya amat beragam, mulai dari email, blog, website, podcast hingga media-media sosial yang kini telah menjadi bagian dalam kehidupan manusia modern sehari-hari.

Nata Gein saat menjadi Key Opinion Leader dalam Webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, Rabu 3 November 2021, mengatakan bahwa Youtube adalah salah satu media sosial yang saat ini paling banyak digunakan.

“Selain Youtube, Instagram adalah media sosial populer lainnya. Teranyar adalah Tik tok. Untuk memanfaatkan media sosial tersebut, pengguna perlu memerhatikan konten. Lebih dari itu, pengguna harus memahami ada konten yang layak diunggah atau tidak,” ujar Nata Gein dalam webinar yang dipandu oleh Jhoni Chandra ini.

Untuk itu Nata menguraikan sejumlah hal bisa kita lakukan untuk membuat sebuah konten yang positif. Yang pertama adalah mengenali seluk beluk media sosial tersebut. Pengguna juga harus memahami karakter pengguna tiap media sosial.

“Contohnya Instagram siapa yang ada di dalam media sosial kita termasuk follower dan yang kita follow. Kita harus mengetahui kira-kira ada siapa yang melihat story story atau melihat postingan kita,” katanya.

Selanjutnya, pengguna perlu membuat konten yang mudah dibaca dan dipahami. Menurut Nata, pengguna perlu menentukan bentuk kontennya, baik itu berupa teks atau tulisan, gambar, video, audio atau kombinasinya yang diubah dalam bentuk digital sehingga konten tersebut terlihat menarik.

Selain itu yang kita harus lakukan adalah update konten dengan memiliki tujuan yang jelas dan bagikan konten yang positif. Sebab kadang banyak konten-konten yang bersifat mungkin tidak dapat dicerna atau tidak dapat dimengerti lalu akhirnya menjadi konten-konten yang tidak jelas.

Orang Tua Perlu Brainstorming dengan Generasi Baru di Era Digital

Hal itu jangan sampai kita bagikan karena itu akan menimbulkan komentar yang negatif atau membuat pikiran negatif dari orang yang melihatnya.

“Jangan sampai kita membuat konten yang bisa mengajak kita untuk berbuat negatif juga misalnya karena kontennya tidak jelas akhirnya kita lihat lalu orang-orang yang melihat menjadi terpengaruh hal buruk,” ungkapnya.

Yang juga penting adalah membedakan konten bisnis dengan konten pribadi. “Penting sekali untuk memisahkan media sosial pribadi kita disatukan dengan bisnis,” lanjutnya.

Selain hal-hal yang harus kita lakukan di ruang digital, kita juga harus menghindari hal hal yang tidak boleh dilakukan. Diantaranya adalah mengkritik di media sosial secara sembarangan. Yang juga tidak boleh dilakukan adalah menjadi spammer posting dan jika merepost lakukan seperlunya saja.

Selain Nata Gein juga hadir pembicara lainnya Ilham Faris Digital Strategist & National Facilitator, Ilham, S.Pd, Kepala Sekolah SMP Islam NW Ajan Loyok Kabupaten Lombok Timur dan M Randy Mandala, Kepala Unit IT RS Anggrek Mas Jakarta.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Siberkreasi. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital. (KANALBALI/RLS)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.