Catatan Mahasiswa Tua

Puisi di kumpulan esai "Terlanjur Galbay" karya Angga Wijaya - IST
Puisi di kumpulan esai "Terlanjur Galbay" karya Angga Wijaya - IST

Sudah hampir tengah malam ketika pesan itu masuk ke ponsel saya. Nama pengirimnya tidak asing. Seorang mahasiswa tingkat akhir dari salah satu universitas negeri ternama di Bali.

Oleh Angga Wijaya*

KAMI bertemu beberapa bulan lalu dalam sebuah acara peluncuran dan diskusi buku antropologi. Sejak itu, sesekali ia menghubungi saya. Kadang bertanya soal menulis, kadang mengajak berdiskusi tentang buku. Atau kadang hanya mengirim kabar pendek tentang perkembangan skripsinya. Namun malam itu pesannya berbeda. Pesan itu panjang, jujur. Dan entah mengapa terasa begitu dekat.

“Hallo Bli, maaf ganggu waktunya. Saya sedang baca buku Bli yang saya beli waktu bedah buku itu. Sangat menginspirasi tulisan Bli dengan gaya khas yang mengalir, dan tanpa saya sadari ketika membaca puisi, air mata saya jatuh, betapa dalamnya puisi ini. Saya mengira kondisi saya yang sedang terpuruk adalah satu-satunya di dunia. Tapi ketika membaca tulisan Bli, saya mulai paham dan mulai terbukanya pikiran saya. Kini saya mulai bersemangat lagi untuk melanjutkan skripsi saya. Matur sembah nuwun, Bli.”

Saya membaca pesan itu beberapa kali.Sebagai penulis, tidak ada honorarium yang lebih menyentuh daripada mengetahui tulisan kita menemukan pembacanya. Lebih-lebih ketika tulisan itu tidak sekadar dibaca, melainkan menemani seseorang yang sedang berjalan melewati masa sulit dalam hidupnya.

Mahasiswa itu sedang mengerjakan skripsi. Ia sedang berada di fase yang oleh banyak mahasiswa disebut sebagai fase paling melelahkan selama kuliah. Fase ketika semangat yang dulu membuncah saat pertama kali diterima di kampus perlahan terkikis oleh revisi, bimbingan yang tersendat, kebingungan menentukan arah penelitian, tekanan keluarga, dan kecemasan menghadapi masa depan.

Ia membaca salah satu esai saya dalam buku Telanjur Galbay. Sebuah tulisan tentang ibu kandung saya yang menemani masa pemulihan saya dari skizofrenia. Rupanya tulisan itu menyentuh sesuatu dalam dirinya.

Mungkin karena pada akhirnya manusia memang tidak terlalu membutuhkan nasihat. Yang mereka butuhkan sering kali hanyalah mengetahui bahwa ada orang lain yang pernah mengalami luka yang mirip. Bahwa mereka tidak sendirian.

Pesan itu membuat saya teringat masa kuliah saya sendiri. Masa ketika saya juga menjadi mahasiswa tingkat akhir. Atau dalam istilah yang lebih populer di kalangan mahasiswa, mahasiswa tua. Istilah mahasiswa tua sebenarnya terdengar agak lucu.

Umur mahasiswa yang menyandang status itu sering kali masih dua puluhan tahun. Bahkan ada yang baru menginjak usia 23 atau 24 tahun. Namun karena sebagian besar teman seangkatannya sudah lulus lebih dulu, mereka mendadak merasa menjadi penghuni generasi yang terlambat meninggalkan kampus.

Saya pernah berada di posisi itu. Kuliah antropologi pada awalnya terasa menyenangkan. Saya menyukai membaca. Menyukai manusia sebagai objek kajian. Menyukai cerita-cerita tentang kebudayaan, identitas, dan kehidupan sehari-hari yang sering kali luput dari perhatian.

Namun menjelang akhir masa studi, hidup saya berubah arah. Saya mengalami skizofrenia. Apa yang sebelumnya tampak sederhana mendadak menjadi sangat rumit. Kuliah terhenti. Saya harus menjalani pengobatan dan pemulihan. Cuti kuliah yang semestinya diurus tidak pernah benar-benar terselesaikan. Pada akhirnya saya kehilangan status sebagai mahasiswa.

Hingga hari ini, itu masih menjadi salah satu penyesalan kecil dalam hidup saya. Bukan karena saya terlalu mengagungkan gelar sarjana. Tetapi karena ada sebuah perjalanan yang terputus sebelum mencapai garis akhir. Meski demikian, hidup ternyata tidak selalu mengikuti rancangan yang kita buat.

Saya tidak menjadi sarjana antropologi. Tetapi saya menjadi wartawan. Menjadi penulis. Menulis buku, menulis puisi, esai, cerita pendek, reportase, dan menjadi editor naskah. Dan dari jalan yang sama sekali tidak saya bayangkan itu, suatu malam datang pesan dari seorang mahasiswa yang mengatakan bahwa tulisan saya membantunya kembali mengerjakan skripsi. Hidup memang memiliki cara yang aneh untuk menyambungkan titik-titik yang tampaknya terpisah.

Pesan mahasiswa itu juga membuat saya kembali memikirkan satu pertanyaan yang sejak lama menggelitik. Mengapa kuliah antropologi, terutama di kampus di Bali, sering berlangsung sangat lama? Mengapa tidak sedikit mahasiswa yang membutuhkan lima tahun, enam tahun, bahkan tujuh tahun untuk menyelesaikan studi? Tentu jawabannya tidak tunggal.

Sebagian orang mungkin akan buru-buru menyalahkan mahasiswa. Menganggap mereka malas atau kurang disiplin. Tetapi pengalaman bertahun-tahun bergaul dengan mahasiswa membuat saya melihat persoalannya jauh lebih kompleks.

Pertama, antropologi adalah ilmu yang menuntut kesabaran. Berbeda dengan beberapa disiplin ilmu lain yang banyak bekerja di laboratorium atau menggunakan data statistik yang relatif mudah diakses, antropologi mengharuskan mahasiswa turun langsung ke lapangan. Mereka harus membangun hubungan dengan masyarakat. Mengamati kehidupan sehari-hari. Mencatat detail-detail kecil. Melakukan wawancara berulang kali.

Proses ini tidak bisa dipercepat begitu saja. Kepercayaan sosial tidak lahir dalam sehari. Seorang mahasiswa antropologi sering kali harus berbulan-bulan berada di lapangan hanya untuk mendapatkan data yang benar-benar matang.

Kedua, banyak mahasiswa mengalami kebuntuan saat memasuki fase skripsi. Mereka sebenarnya bukan tidak mampu menulis. Masalahnya lebih sering berkaitan dengan keraguan. Apakah topik ini cukup penting? Apakah penelitian saya cukup menarik? Apakah saya mampu menyelesaikannya? Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepala hingga akhirnya melumpuhkan kemampuan untuk bergerak.

Dalam psikologi, kondisi seperti ini sering disebut analysis paralysis. Terlalu banyak berpikir hingga akhirnya tidak melakukan apa-apa. Saya melihat fenomena ini cukup banyak terjadi pada mahasiswa. Mereka membaca puluhan jurnal, menyimpan ratusan file PDF, membuat berbagai kerangka penelitian. Tetapi naskah skripsi tidak juga bertambah satu halaman.

Ketiga, ada persoalan kesehatan mental yang sering diabaikan. Ini bagian yang menurut saya jarang dibicarakan secara terbuka. Kampus masih sering dipandang sebagai ruang intelektual yang ideal. Padahal di dalamnya ada mahasiswa yang sedang mengalami kecemasan, depresi, burnout, kesepian, konflik keluarga, tekanan ekonomi, hingga gangguan mental yang lebih serius.

Seseorang bisa tampak baik-baik saja ketika duduk di kelas. Tetapi saat pulang ke kos, ia berjuang keras melawan pikirannya sendiri. Ketika kondisi mental terganggu, mengerjakan skripsi yang membutuhkan konsentrasi tinggi menjadi jauh lebih sulit.

Saya memahami itu karena pernah mengalaminya sendiri. Bukan sekadar memahami secara teoritis, melainkan menjalaninya. Ada satu hal lain yang menarik. Mahasiswa tingkat akhir sering kali mengalami apa yang bisa disebut sebagai krisis identitas kedua. Krisis identitas pertama biasanya terjadi saat mereka baru masuk kuliah. Mereka bertanya, “Siapa saya?” Krisis kedua muncul menjelang lulus. Pertanyaannya berubah menjadi, “Setelah ini saya akan menjadi apa?”

Pertanyaan itu tampak sederhana. Namun dampaknya luar biasa besar. Di balik skripsi yang mangkrak sering kali tersembunyi ketakutan yang lebih dalam. Takut tidak mendapat pekerjaan, takut mengecewakan orang tua, takut dibanding-bandingkan dengan teman, atau takut memasuki dunia yang belum dikenal.

Banyak mahasiswa tanpa sadar menunda kelulusan karena sesungguhnya mereka belum siap menghadapi kehidupan setelah kampus. Skripsi hanya menjadi gejala yang tampak di permukaan. Masalah yang sebenarnya berada jauh di bawahnya.

Karena itu saya selalu merasa mahasiswa tingkat akhir membutuhkan lebih banyak ruang untuk didengar. Mereka terlalu sering mendapat nasihat. Terlalu sering diberi target, terlalu sering ditanya kapan lulus. Tetapi terlalu jarang ditanya bagaimana kabarnya.

Padahal kadang-kadang satu pertanyaan sederhana jauh lebih berguna daripada sepuluh motivasi. Bagaimana kabarmu? Apa yang sedang kamu hadapi? Apa yang membuatmu sulit melangkah?Barangkali itulah yang secara tidak langsung dilakukan oleh buku dan tulisan. Ia menjadi ruang percakapan yang tidak menghakimi.

Pembaca boleh datang dengan luka masing-masing. Boleh datang dengan kegelisahan masing-masing. Lalu menemukan sesuatu yang membuat mereka merasa sedikit lebih tenang, sedikit lebih dipahami, dan sedikit lebih kuat.

Menjelang tidur malam itu, saya kembali membaca pesan mahasiswa tersebut. Saya membayangkan seorang anak muda yang sedang duduk sendirian di kamar kosnya. Mungkin dikelilingi tumpukan buku, secangkir kopi yang sudah dingin, dan sedang memikirkan bab skripsi yang belum selesai.

Lalu entah bagaimana, sebuah buku yang saya tulis sampai ke tangannya. Buku itu tidak menyelesaikan skripsinya. Tidak menghapus masalahnya, tidak mengubah hidupnya secara ajaib. Tetapi setidaknya membuatnya kembali percaya bahwa ia bisa melanjutkan langkah berikutnya. Dan kadang-kadang, itu sudah lebih dari cukup.

Saya tidak tahu kapan ia akan lulus. Saya juga tidak tahu apakah setelah lulus hidupnya akan menjadi lebih mudah. Yang saya tahu, malam itu ia memilih untuk tidak menyerah. Sebagaimana dulu saya juga pernah memilih untuk tidak menyerah setelah hidup saya runtuh karena skizofrenia. Mungkin di situlah letak pertemuan kami yang sesungguhnya.

Bukan pada acara bedah buku. Bukan pada diskusi antropologi. Bukan pula pada kampus atau latar belakang yang berbeda. Kami bertemu di sebuah wilayah yang lebih sunyi. Wilayah yang dihuni oleh orang-orang yang pernah merasa gagal, pernah merasa tertinggal, pernah merasa sendirian, tetapi tetap mencoba berjalan.

Pelan-pelan. Satu langkah lagi. Lalu satu langkah berikutnya. Sebab menjadi mahasiswa tua, menjadi orang yang terlambat lulus, menjadi orang yang pernah sakit, atau menjadi seseorang yang sempat kehilangan arah, tidak pernah berarti hidup telah selesai. Kadang-kadang, itu justru awal dari cerita yang lebih panjang. Dan mungkin lebih manusiawi.

 

*) Angga Wijaya adalah penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Apa Komentar Anda?