Cerita dan Omon-omon di Balik Budaya Tolong Menolong

Foto ilustrasi: Claudio Schwarz/Unsplash
Foto ilustrasi: Claudio Schwarz/Unsplash
  • Saling tolong menolong awalnya menjadi budaya yang baik dalam masyarakat kita
  • Pergeseran budaya membuat pertolongan kerap dihitung sebagai hutang budi
  • Di era media sosial, pertolongan pun dijadikan bahan flexing

Oleh Angga Wijaya

ENTAH kebetulan atau tidak, saya beberapa kali mendapati pada beberapa keluarga di Bali yang suka membesar-besarkan cerita tentang bantuan dan pertolongan yang mereka berikan bahkan kepada saudara sendiri.

Kadang yang dibesar-besarkan bukan jumlah bantuannya, melainkan ceritanya. Peristiwanya kecil, tetapi gaungnya dibuat besar. Seolah-olah sebuah pertolongan baru terasa sah jika diketahui banyak orang.

Misalnya saja ada seorang keponakan yang sejak kecil dekat dengan bibinya. Mereka punya hubungan yang hangat. Sang bibi sering datang ke rumah, membantu menjaga, menemani tumbuh dewasa, menjadi tempat bercerita.

Waktu berjalan. Keponakan itu kini sudah bekerja dan memiliki penghasilan sendiri. Sementara sang bibi mulai menua dan sedang mengalami kesulitan ekonomi. Suatu hari, sang bibi meminta bantuan uang kepada sang keponakan itu.

Jika dilihat dari kacamata yang normal, hal itu sebenarnya amat manusiawi. Dalam hubungan keluarga, meminta bantuan bukan sesuatu yang aneh. Bukankah sejak kecil manusia memang hidup dari pertolongan orang lain?.

Namun oleh ayah si keponakan yang tidak lain adalah kakak dari sang bibi sendiri, peristiwa itu berubah menjadi sesuatu yang sangat besar. Ceritanya menyebar ke mana-mana. Menjadi bahan pembicaraan keluarga.

Seolah-olah ada kejadian luar biasa karena adiknya meminta bantuan kepada anaknya. Padahal, ia dikenal sebagai orang yang berkecukupan. Saya sedih mendengar peristiwa tersebut. Saya membayangkan betapa malunya sang bibi jika mengetahui bahwa permintaan bantuannya berubah menjadi “berita keluarga”.

Padahal mungkin ia meminta dengan berat hati. Tidak semua orang mudah meminta bantuan, apalagi kepada keluarga sendiri. Ada orang yang harus melawan gengsi, rasa malu, dan perasaan tidak enak hanya untuk mengatakan bahwa dirinya sedang kesulitan.

Bantuan Jadi Cerita

Namun di masyarakat kita, bantuan sering tidak berhenti sebagai bantuan. Ia berubah menjadi cerita. Dan ketika cerita itu berpindah dari satu mulut ke mulut lain, ia perlahan berubah menjadi panggung moral. Ada orang yang diam-diam menikmati posisi sebagai pihak yang menolong.

Saya jadi teringat sebuah ajaran agama yang sangat sederhana tetapi terasa sulit dipraktikkan manusia. Ketika tangan kanan memberi, tangan kiri tidak perlu tahu. Artinya, kebaikan seharusnya tidak perlu diumumkan ke mana-mana. Tidak perlu dibesar-besarkan. Sebab ketika pertolongan berubah menjadi tontonan sosial, yang tersisa kadang bukan lagi ketulusan, melainkan kebutuhan untuk diakui sebagai orang baik.

Dan manusia, tampaknya, memang sangat menyukai pengakuan itu. Di Bali, budaya kekeluargaan memang sangat kuat. Orang saling membantu ketika ada upacara, kematian, pernikahan, atau musibah.

Ada semangat gotong royong yang masih hidup di banyak tempat. Dalam kehidupan banjar, orang datang membantu tanpa harus dipanggil berkali-kali. Ada tradisi ngayah, urunan, dan kebiasaan saling menopang yang membuat masyarakat Bali bertahan sebagai komunitas komunal selama bertahun-tahun.

Namun semakin dewasa, saya mulai melihat sisi lain yang jarang dibicarakan. Di balik budaya saling membantu itu, tersimpan pula tekanan sosial yang tidak kecil. Pertolongan sering datang bersama kewajiban moral yang panjang.

Orang yang menerima bantuan tidak hanya diharapkan berterima kasih, tetapi juga diharapkan terus mengingat, menghormati, dan kadang-kadang tunduk.

Di masyarakat seperti Bali, hampir tidak ada cerita yang benar-benar berhenti di satu rumah. Cerita bergerak cepat menjadi “Omon-omon”. Dari dapur ke dapur, dari bale banjar ke warung kopi, dari percakapan keluarga ke percakapan keluarga lain.

Kadang yang menyebar bukan fitnah, melainkan cerita tentang kebaikan. Tetapi bahkan kebaikan pun bisa terasa menyakitkan ketika diumumkan terus-menerus.

Saya pernah melihat seseorang diungkit bertahun-tahun hanya karena dulu pernah “ditampung” keluarga saat belum bekerja. Ada pula yang setiap keputusan hidupnya terus diintervensi karena merasa tidak enak terhadap orang yang pernah membantunya.

Bahkan dalam beberapa keluarga, bantuan berubah menjadi semacam sertifikat moral yang memberi seseorang hak untuk mengatur hidup orang lain. Yang menarik, semua itu sering dianggap wajar.

Budaya Utang Budi

Kita hidup dalam budaya yang sangat menjunjung utang budi. Sejak kecil, kita diajarkan agar tidak menjadi “kacang lupa kulit”. Kita diminta tahu diri, tahu balas jasa, tahu berterima kasih. Nilai-nilai itu sebenarnya tidak salah. Masalah muncul ketika rasa terima kasih berubah menjadi alat kontrol emosional.

Dalam banyak masyarakat Asia, termasuk Indonesia, pemberian memang hampir tidak pernah bersifat netral. Antropolog Prancis Marcel Mauss pernah menulis bahwa hadiah atau pemberian selalu membawa kewajiban sosial.

 Orang yang menerima hadiah bukan hanya menerima benda atau bantuan, tetapi juga menerima hubungan moral. Ada tuntutan untuk mengingat dan suatu hari membalasnya.

Barangkali karena itulah masyarakat kita sangat sensitif terhadap persoalan jasa. Bantuan bukan sekadar tindakan kemanusiaan, melainkan investasi sosial. Orang yang membantu merasa memiliki “saham moral” dalam hidup orang lain.

Fenomena ini terasa sangat dekat dalam kehidupan keluarga Indonesia. Orang tua merasa pengorbanannya memberi hak moral untuk menentukan masa depan anak.

Kakak merasa jasanya membiayai adik membuatnya pantas dihormati tanpa syarat. Saudara yang lebih mapan ekonomi merasa punya posisi lebih tinggi dibanding anggota keluarga lain yang pernah dibantu.

Tidak jarang, hubungan keluarga akhirnya berubah menjadi hubungan patron dan klien. Ada pihak yang selalu merasa sebagai penyelamat, dan ada pihak yang terus-menerus ditempatkan sebagai orang yang berutang.

Dalam situasi seperti itu, bantuan memiliki nilai sosial yang besar. Membantu orang lain bisa meningkatkan kehormatan sosial seseorang. Namun di sisi lain, orang yang dibantu juga bisa membawa beban psikologis yang tidak ringan.

 Ia merasa harus terus menjaga hubungan baik, tidak boleh mengecewakan, dan tidak boleh terlihat melawan. Kadang-kadang, bantuan bahkan terasa seperti kontrak yang tidak pernah ditandatangani tetapi harus dipatuhi seumur hidup.

Anak Muda Menjaga Jarak

Saya juga melihat perubahan menarik pada generasi muda hari ini. Banyak anak muda mulai menjaga jarak dari lingkungan sosial yang terlalu gemar mengungkit jasa. Mereka memilih hidup mandiri meski serba pas-pasan.

 Ada yang merantau jauh, tinggal di kamar kos kecil, bekerja tanpa hari libur, atau menanggung beban hidup sendirian hanya agar tidak terus-menerus merasa berutang secara emosional.

Barangkali ini salah satu alasan mengapa hubungan keluarga modern terasa semakin renggang. Bukan semata karena anak muda menjadi individualistis, melainkan karena mereka lelah hidup di bawah tekanan moral yang tidak selesai-selesai.

Di Bali sendiri, situasi seperti ini sering bertemu dengan beban adat dan ekonomi sekaligus. Banyak orang harus tetap terlihat “baik” di depan keluarga dan lingkungan meskipun sebenarnya kelelahan secara finansial maupun mental.

Mereka membantu urunan, hadir dalam berbagai kegiatan sosial, ikut ngayah, menjaga relasi kekeluargaan, tetapi diam-diam memendam kecemasan tentang biaya hidup yang makin mahal.

Harga tanah naik. Biaya upacara tidak murah. Lapangan kerja tidak selalu pasti. Banyak orang hidup pas-pasan sambil tetap mempertahankan citra bahwa semuanya baik-baik saja. Dalam situasi seperti itu, bantuan akhirnya menjadi sesuatu yang sensitif.

 Orang merasa pengorbanannya besar karena hidup mereka sendiri sebenarnya juga tidak mudah. Mungkin karena itu pula sebagian orang menjadi sangat ingin diingat atas pertolongannya.

Saya kira banyak orang Indonesia pernah mengalami situasi semacam ini. Mereka memilih diam ketika disakiti keluarga karena merasa “masih punya utang budi”. Mereka sulit menolak permintaan orang lain karena pernah dibantu. Mereka takut dianggap tidak tahu diri.

Akibatnya, hubungan sosial berjalan bukan karena kedekatan yang sehat, melainkan karena rasa tidak enak. Budaya sungkan memang membuat masyarakat Indonesia tampak sopan. Namun pada saat yang sama, rasa sungkan juga sering menjadi alat kekuasaan yang tidak disadari.

Yang menarik, orang yang suka mengungkit bantuan sering tetap merasa dirinya tulus. Mereka tidak merasa sedang memanipulasi. Mereka benar-benar percaya bahwa jasa mereka layak diingat selamanya.

Dalam logika budaya kolektif, pengorbanan memang dianggap memiliki nilai moral tinggi. Apalagi dalam kondisi ekonomi yang sulit seperti sekarang. Banyak orang membantu bukan dari kelebihan, tetapi dari kekurangan. Karena itu, bantuan terasa sangat besar bagi pemberinya. Ketika pengorbanan itu tidak mendapatkan penghargaan sesuai harapan, lahirlah kekecewaan.

Di titik ini, pertolongan menjadi bercampur dengan ego. Kita mungkin bisa melihatnya dalam kehidupan sehari-hari. Ada orang yang menceritakan terus-menerus bagaimana ia membantu saudaranya dulu, menyebut nominal bantuan berulang kali dalam setiap pertengkaran, atau diam-diam menikmati posisi sebagai “orang paling berjasa” dalam keluarga.

 Bantuan akhirnya tidak lagi memerdekakan, melainkan menciptakan ketergantungan emosional.

Era Media Sosial

Fenomena ini menjadi semakin aneh di era media sosial. Hari ini, kebaikan tidak hanya perlu dilakukan, tetapi juga perlu dipertontonkan. Orang merekam dirinya memberi sedekah kepada orang miskin. Bantuan keluarga dipamerkan lewat unggahan.

Donasi menjadi konten. Bahkan ada orang yang tampaknya lebih menikmati pengakuan sebagai penolong daripada benar-benar peduli pada orang yang ditolong.

Kita hidup di zaman ketika citra sebagai “orang baik” memiliki nilai sosial yang tinggi. Akibatnya, batas antara ketulusan dan pertunjukan menjadi kabur. Tentu tidak semua bantuan seperti itu. Banyak orang tetap membantu diam-diam tanpa berharap balasan apa pun.

Ada orang tua yang berkorban untuk anak tanpa pernah mengungkit jasa, sahabat yang membantu tanpa menjadikan bantuan itu alat kuasa, atau ada juga keluarga yang benar-benar hadir sebagai tempat pulang, bukan tempat menagih utang emosional.

Namun justru karena pengalaman yang baik itu ada, kita menjadi lebih mudah mengenali mana pertolongan yang tulus dan mana yang sebenarnya menyimpan kebutuhan untuk dihormati. Saya sering merasa bahwa sebagian masyarakat kita sebenarnya tidak hanya ingin membantu, tetapi juga ingin dikenang sebagai orang yang membantu.

Ada kebutuhan psikologis untuk merasa penting dalam hidup orang lain. Dan mungkin itu sangat manusiawi. Tidak ada manusia yang sepenuhnya bebas dari ego.

Tetapi masalah muncul ketika kebutuhan untuk diakui lebih besar daripada kepedulian itu sendiri. Sebab pertolongan yang terus diungkit perlahan kehilangan makna kemanusiaannya. Ia berubah menjadi alat untuk mempermalukan, mengendalikan, atau menjaga hierarki.

Orang yang menerima bantuan akhirnya tidak merasa ditolong. Ia merasa disandera oleh rasa berutang

Barangkali itu sebabnya banyak orang kini memilih berjuang sendirian meskipun hidup susah. Mereka takut bantuan datang bersama penghinaan di masa depan. Mereka lebih rela bekerja berlebihan daripada mendengar kalimat, “Kalau bukan karena saya, kamu bukan siapa-siapa.”

Kalimat semacam itu mungkin terdengar biasa dalam budaya kita. Namun bagi sebagian orang, ia meninggalkan luka yang panjang. Luka karena merasa harga dirinya terus-menerus diukur dari bantuan yang pernah diterima.

Di tengah masyarakat yang gemar berbicara tentang kekeluargaan, kita jarang membicarakan luka-luka seperti ini.Kita terlalu sering memuliakan pengorbanan, tetapi lupa menjaga martabat orang yang menerima pertolongan. Padahal bantuan yang baik seharusnya memulihkan martabat seseorang, bukan mempermalukannya diam-diam.

Saya kembali membayangkan sang bibi tadi. Mungkin ia tidak meminta banyak dan hanya sedang berada dalam fase hidup yang sulit. Namun permintaan sederhana itu berubah menjadi cerita besar dalam keluarga. Besar cerita, besar berita.

Dan mungkin, yang paling menyakitkan dari kesulitan hidup bukan semata-mata kekurangan uang, melainkan ketika kerentanan seseorang berubah menjadi bahan percakapan orang lain. Ketika bantuan yang seharusnya meringankan justru menambah rasa malu. Sebab pada akhirnya, pertolongan yang paling manusiawi bukanlah pertolongan yang paling keras diumumkan, melainkan pertolongan yang mampu menjaga harga diri orang yang menerimanya. (*)

  • Penulis adalah wartawan freelance dan penyair kelahiran Negara, Jembrana, Bali, yang telah menulis sejumlah buku.

Apa Komentar Anda?